Rising Sun

Rising Sun
12 Yuki



"Riana" Teriak Bangsawan Xasfir terkejut sembari menariknya agar tidak jatuh ke tanah. Bergegas Bangsawan Voldermon datang dan membantu memapah di sisi yang lain.


"Aku melihat kalian itu seperti ****** yang mengikuti majikan, tidak peduli apakah Majikan kalian itu bertindak salah atau benar" Ujar Raja Jafar sinis. Bangsawan Voldermon mengernyit, menatap Raja jafar dengan kening berkerut.


"Riana memang melakukan kesalahan tapi Kami kemari untuk memperbaiki keadaan" Bantah Bangsawan Voldermon kemudian dengan suara keras.


"Memperbaiki keadaan ?. Kalau begitu bisa Kau menghidupkan anak Kami lagi ?" Timpal Ratu dengan suara sarat akan emosi.


"Apa yang Mulia pikir, Jika saat itu Yuki yang mengorbankan dirinya. Anakmu tidak akan langsung pergi menyusul..Bukan Yuki yang meminta anakmu mengantikannya"


"Setidaknya Dia bisa mati menemani Sera"


"Ayah Hentikan" Pangeran Arana muncul bersama Putri Margitha dan tabib yang memeriksaku.


"Cukup Arana. Aku bosan mendengar pembelaanmu"


"Aku datang kemari atas nama Pangeran Sera. Ayah tolong suruh para pengawal dan pelayan pergi. Ada sesuatu yang ingin Aku katakan pada Ayah"


"Aku harap itu hal yang bagus"


Raja Jafar memerintahkan Kami untuk berkumpul di dalam aula kecil. Bangsawan Xasfir dan Bangsawan Asry tidak ikut karena membawa Pangeran Riana ke kamarnya. Aku di temani Bangsawan Voldermon.


"Apa yang ingin Kau katakan" Tanya Raja Jafar langsung kepada Pangeran Arana.


"Aku membawa pesan terakhir Kakak. Aku harap setelah ini kalian mengerti alasan Kakak mengorbankan dirinya"


Pangeran Arana menunjukan Squesza. Alat berbentuk bulat pipih dengan tombol di tengah. Seperti sebuah Ranjau. Berfungsi sebagai perekam yang mampu menunjukan sosok perekamnya dalam bentuk hologram.


Sauesza di letakan di lantai dan ketika Pangeran Arana memencet. Tampak Pangeran Sera berdiri. Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Rasanya seperti melihatnya masih hidup. Sosoknya begitu nyata bagiku. Bangsawan Voldermon memegangi bahuku agar Aku tidak jatuh.


"Ayah, Ibu...Maafkan Aku memutuskan hal yang pasti membuat kalian bersedih. Terutama Kau Ibu" Ujar Pangeran Sera langsung. Ratu menangis mendengar suara Pangeran Sera. "Jika Aku mempunyai pilihan, Aku akan melakukannya. Tapi Aku tidak mempunyai pilihan. Bukankah ini yang selalu Ayah dan Ibu ajarkan. Menjaga keluarga. Aku menjaga keluargaku. Istriku dan anakku"


Suaranya sama seperti yang kurindukan. Aku tidak kuasa membendung air mataku. Kerinduan ini...Kesedihan ini...Begitu menyakitkan. Aku sudah berusaha bersikap tabah. Tapi Aku tidak bisa membohongi diriku jika Aku sangat kehilangannya.


"Jangan menyalahkan Yuki atas apa yang menimpaku Ayah dan Ibu. Aku memohon pengampunanmu" suaranya lembut dan tulus. Suara yang sudah tidak akan kudengar nantinya.


Ratu menangis tergugu.


"Arana, Margitha Maaf Aku tidak bisa menjaga Kalian lagi. Sekarang tugas Kalian menjaga Ayah dan Ibu. Dan tolong jaga Yuki dan anakku"


"Yuki..."


Aku tersentak saat Dia memanggil namaku. "Jangan bersedih lagi" Aku menatap matanya. Ekpresinya tampak sedih. "Jaga dirimu baik-baik dan anak Kita. Ingatlah apa yang kukatakan padamu, Kau harus tetap hidup. Untukku"


Dia masih saja memikirkan Nara sampai saat terakhir. Aku merasa senang sekaligus sedih. Aku mengusap air mataku yang mengalir.


Pangeran Sera melakukan hal ini tidak untuk membuatku bersedih. Aku harus kuat.


"Dasar anak bodoh. Dia masih memikirkan bayi orang lain saat-saat seperti itu" Kata Raja Jafar dengan suara bergetar. Menyuarakan isi hatiku.


"Tidak Ayah, Kau salah" Pangeran Arana menggelengkan kepala dengan sikap yakin. "Yang Dia maksud bukan anak Putri Yuki dengan Pangeran Arana. Tapi anaknya yang sedang dikandung Putri Yuki"


Aku tersentak mendengar perkataan Pangeran Arana. Tidak percaya. Refleks Aku memegangi perutku.


Apa Pangeran Arana bilang. Anak yang kukandung ?.


"Benar Yang Mulia. Hamba adalah tabib yang ditugaskan khusus untuk memantau kesehatan Pangeran dan Putri Yuki. Saat pertempuran itu Putri Yuki sedang mengandung kurang lebih sebulan. Pangeran sudah mengetahui hal ini. Beliau melarang Saya untuk memberitahukan kepada siapapun termasuk Putri Yuki. Tapi Pangeran sangat yakin bahwa ini adalah anaknya"


Mengandung.


Aku.


Anakku dengan Pangeran Sera ?.


Karena itukah Dia memutuskan mengorbankan dirinya. Demi melindungiku dan anak dalam kandunganku.


Aku tidak tahu kalau Aku sedang hamil. Aku memang belum mengalami datang bulan semenjak persalinanku. Aku tidak merasakan mual atau hal-hal yang kurasakan pada saat Aku mengandung Nara.


Atau Mungkin kesedihan inilah yang mengaburkan semua tanda-tanda itu.


"Sekarang Ayah sudah mengerti alasan Kakak mengorbankan dirinya ?" Tanya Pangeran Arana lembut. "Ada darah daging Kakak yang bersemanyam di dalam tubuh Putri Yuki. Jika Aku dalam posisi Kakak, Aku pasti akan melakukan hal yang sama Ayah"


Raja Jafar terdiam.


Aku menatap Bayangan Pangeran Sera yang diam di tempatnya. Rasanya Dia begitu nyata.


Rambutnya yang coklat keemasan. Matanya yang berwarna biru laut dan senyumnya yang merekah. Sosoknya selalu menjadi matahari pagi yang menghangatkan. Dan kini...Ada matahari lain di dalam diriku.


Matahari yang menjadi alasannya pergi. Namun menjadi alasanku untuk tetap hidup. Aku mempunyai Nara. Dan Aku akan mempunyai seorang jagoan kecil lagi. Apakah nanti Dia akan mirip dengan ayahnya ?. Yang selalu membuatku teringat Pangeran Sera jika melihatnya.


Aku memejamkan mataku. Dua butir air mata mengalir di pipiku. Bibirku gemetar.


*Pangeran Sera..Terimakasih memberiku kehidupan ini...memberiku matahari kecil di bumiku yang gelap karena kepergianmu.


Aku mencintaimu*.