Rising Sun

Rising Sun
7 Yuki



"Lepaskan Aku" Kataku sembari meronta mencoba melepaskan diri. Pangeran Riana terus mencekalku. Menolak melepaskanku. Dia menahanku sedemikian rupa di atas tempat tidur.


"Aku harus melihatnya,lepaskan Aku" Kataku lagi lebih kesal.


"Kau tidak bisa melihatnya. Terlalu berbahaya untukmu. Apa Kau masih tidak paham ?" Tolak Pangeran keras.


"Aku tidak peduli..Lepaskan Aku"


Namun bukannya melepaskanku Pangeran malah mencekalku semakin kuat. Aku menatapnya kesal.


Entah apa yang terjadi. Saat Aku terbangun Aku mendapati berada di pelukannya. Ketika Aku ingin melihat Pangeran Sera, Dia mencegahku begitu keras.


Air mataku tumpah ketika mengingat Pangeran Sera. Aku kembali teringat ketika terakhir kali Kami bertemu. Dia berdiri dengan ketenangan yang ganjil. Menatapku yang di bawa pergi menjauh oleh Gererou. Aku masih mengingat jelas bagaimana senyumnya ketika Dia mengantarkan kepergianku.


Aku tidak percaya ini.


Tadi pagi Kami masih makan bersama. Semalampun Aku masih tidur bersamanya. Aku tidak berpikir akan melihatnya untuk terakhir kalinya seperti itu.


Kebahagiaan itu seperti mimpi. Datang dan pergi dengan cepat. Membuatku semakin sesak saat memikirkannya.


Aku merasa tidak berdaya. Membayangkan hariku tanpa Dia lagi adalah sesuatu yang sulit kulalukan. Duniaku menjadi gelap.


Pangeran Riana diam. Menatapku yang menangis tergugu. Kemudian Dia menarikku. Memelukku di dadanya. Aku terus menangis. Kesedihan ini begitu dalam. Aku tidak tahu bagaimana menghadapinya ke depannya.


Pangeran tidak mengatakan apapun saat Aku menangis. Dia memelukku semakin erat. Membiarkanku menumpahkan perasaan.


Aku duduk di samping tempat tidur. Lekky berbaring dengan perban hampir di seluruh tubuhnya. Dia diam tidak bergerak. Sudah lebih dari seminggu Dia tidak sadarkan diri. Besok Aku akan ikut ke Argueda untuk pemakaman Pangeran Sera sekaligus jadi pesakit dalam pengadilan kerajaan. Ratu sangat bersedih akan kematian Pangeran Sera, hal yang wajar karena Pangeran Sera adalah anak kesayangan Ratu. Dia meminta pengadilan kerajaan di adakan untuk menghukumku. Dia menginginkan kematianku. Aku bersandar di kursi sembari melihat Lekky, Nafasnya turun naik. Tidak ada tanda-tanda Dia akan sadar.


Aku mendengar suara tangis Nara di luar. Dia bersama Pangeran Riana. Secara mengejutkan Aku melihat bagaimana Pangeran Riana tidak sungkan untuk mengurus Nara. Bahkan Dia memandikan Nara, Mengganti celana Nara jika Nara buang Air. Menyuapi Nara dan bermain bersama Nara. Dia tidak merasa risih ketika Berjalan sembari mengendong Nara di bahunya dengan kain gendongan. Pangeran Riana melakukan itu semua seperti memang itulah yang di lakukan seorang Ayah pada umumnya. Tidak peduli apakah Dia adalah seorang Pangeran perwaris tahtah.


Aku merasa semakin hari Nara semakin mirip ayahnya. Air susuku mengering karena beban pikiran yang Aku hadapi. Sekarang Nara mempunyai ibu Asi sendiri.


Walaupun Dia sudah mulai memakan makanan pendamping, tetap Asi adalah hal yang utama untuknya.


Mengingat Nara membuatku teringat, Hari ini pertama kalinya Nara berguling sendiri untuk tengkurap tanpa bantuan siapapun. Aku terkejut saat Dia melakukannya tadi. Netapa cepatnya perkembangannya. Aku tidak lupa bagaimana Dia menatapku seolah menunjukan bahwa Dia sudah mampu melakukannya.


Aku baru menyadari bahwa Nara tumbuh begitu cepat. Rasanya baru kemarin Aku memeluknya yang masih kemerahan. Sekarang, Dia justru sudah mulai tengkurap dan bertumbuh di sampingku.


Waktu berlalu begitu cepat atau pertumbuhannya memang yang pesat ?. Pikiran ini membuatku tidak ingin kehilangan setiap hal pertama dalam hidupnya. Namun apakah Aku mempunyai kesempatan untuk melihatnya ?.


Nara masih saja menangis. Aku menghela nafas dan berdiri dari dudukku. Dengan cepat Aku berjalan keluar. Menemukan Pangeran Riana mengendong Nara, masih mencoba menenangkannya.


"Ada apa ?"


"Badannya panas" Kata Pangeran masih mencoba menenangkan Nara. Aku mengulurkan tanganku. Mengambil Nara dari gendongan Pangeran Riana.


"Tadi siang Dia masih baik-baik saja" Kataku gusar.


Nara seolah mengerti Aku adalah ibunya. Dia memelukku. Nafasnya terdengar jelas di telingaku. Memberiku ketenangan sendiri. Aku mungkin tidak akan bisa melewatkan kesedihan ini setiap harinya Jika tidak ada Dia di dekatku. Aku memeluk Nara lembut. Mencoba menyingkirkan segala hal negatif dari diriku. Pangeran Riana berdiri di dekatku. Memperhatikan Kami dengan tenang.


"Bagaimana keadaan Lekky ?" Tanya Pangeran ketika Nara sudah cukup tenang. Nara meletakan kepalanya di pundakku. Terlihat lelah setelah menangis cukup keras tadi.


"Belum ada perubahan. Luka-lukanya sangat parah"


"Dia akan bertahan" Ini sebuah pernyataan bukan pertanyaan. Pangeran sudah mengetahui Aku memberikan darahku pada Lekky. Ya, Karena suatu peristiwa di dunia peri, Aku menyodorkan pergelangan tanganku yang berdarah, Memberikannya pada Lekky. Mungkin bagi orang lain Aku begitu ceroboh. Memberikan darahku pada Lekky sama saja dengan Aku menciptakan iblis baru lagi yang membahayakan. Tapi Aku percaya, Lekky mampu mengendalikan dirinya dengan baik.


"Aku harap Dia segera sadar"


Aku tidak bisa menunda waktuku. Kerajaan Argueda sudah mendesakku untuk ikut ke Argueda. Terjadi gesekan yang begitu hebat antara Argueda dan Garduete setelah kepergian Pangeran Sera. Jika tidak ingat bahwa Kami masih di kuil suci, Mungkin perperangan antara dua negara ini sudah lama berlangsung.


Aku hanya berharap Nara dapat selamat. Aku harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanku. Pangeran Riana sudah cukup bisa diandalkan untuk mengasuh Nara. Dia jauh lebih bisa bersikap sebagai orang tua yang baik ketimbang Lekky. Aku bisa tenang melepaskan Nara bersamanya.