Rising Sun

Rising Sun
17



Desiran angin yang cukup kencang menerpaku. Sejurus kemudian, Tercium bau darah. Kedua tanganku terlepas dari genggaman para Prajurit saat Mereka jatuh berdebam dengan kepala terpisah.


Semuanya membeku. Tidak mengerti apa yang terjadi.


Beberapa Prajurit saling bertatapan. Aku mengerjap. Kedua tanganku menompang tubuhku agar tidak ambruk. Sebuah sentakan mengangkatku ke udara. Aku mencium aroma yang kukenal dengan baik.


"Mahkluk apa itu" Teriak para Prajurit terperangah. Aku berada di dekapan Curly. Dia membesar sebesar beruang kutub. Matanya merah dengan air liur yang menetes di sela giginya.


"Curly." Kataku tidak percaya. Kenapa Dia ada di sini. Seharusnya Dia bersama Lekky untuk melindungi Lekky.


Jangan-jangan...


Satu persatu prajurit Panglima Aljan Ambruk dengan cepat. Mereka langsung terkapar tidak bernyawa begitu menyentuh tanah. Para Prajurit saling menatap kebinggungan. Di saat seperti itu, Gererou maju menyerang bersama pasukannya.


"Tidak mungkin" Kata Claira ketakutan saat menyadari apa yang terjadi.


"Putri Yuki apa Putri baik-baik saja" Putri Magitha yang lepas dari cekalan Prajurit menghampiriku. Dia membantuku agar tidak ambruk. Air mata memenuhi wajahnya.


"Jangan cemas. Aku baik-baik saja"


"Apa yang terjadi ?" Tanya Putri Magitha kebingungan menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan. Tercium bau darah yang membuatku mual. Para prajurit yang melarikan diri tidak ada yang lolos. Semuanya berjatuhan.


"Lekky" Kataku mencoba menjelaskan hanya dengan satu kalimat.


"Oh" Kata Putri Magitha seperti tidak terlalu terkejut. Ada pengertian dan kelegaan di matanya.


Akhirnya, Lekky menampakan sosoknya. Dia masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada bekas cidera apapun. Bahkan semua nya tampak normal. Seolah Dia tidak pernah sekarat sebelumnya. Kedua tangannya berlumuran darah. Dia memandang nyalang pada Claira. Claira mundur. Bibirnya bergetar melihat Lekky. Ada sirat ketakutan di matanya. Dia tahu dengan benar, Kekuatan Lekky jauh lebih besar daripada dulu saat Dia masih mengenalnya. Kesombongan yang diperlihatkan sebelumnya hilang dari dirinya.


"Mustahil, Aku tidak percaya ini" Kata Claira tertahan. "Bagaimana bisa Kau.."


"Mata-matamu tidak pandai untuk mengelabuiku. Seharusnya Kau melatihnya terlebih dahulu sebelum mengumpankannya padaku"


Satu pasukan prajurit lagi yang lebih banyak jumlahnya datang. Panglima Aljan berdiri dibarisan paling depan. Dia tampak percaya diri akan memenangkan pertempuran ini. Putri Magitha membungkuk mengambil pedang dari tangan seorang prajurit yang telah menjadi mayat.


Aku mengikutinya kemudian. Sekuat apapun Lekky tidak mungkin Dia bisa dengan cepat membunuh Mereka semua. Kami harus bisa mempertahankan diri.


"Menyerahlah, Kalian semua sudah terkepung" Perintah Panglima Aljan dengan suara nyaring.


Lekky maju. Dia menyerang. Claira berlari menyelamatkan diri. Aku mengejarnya sementara Putri Magitha berada di belakangku.


Terdengar teriakan dari nyawa-nyawa yang hilang di pertempuran ini.


Aku terus berlari, Mengejar Claira.


Claira berbalik secara tiba-tiba ketika Kami sudah menjauhi area pertempuran. Dia tersenyum penuh kemenangan. Membuatku tersadar. Kami masuk dalam perangkap.


Satu pasukan lagi muncul. Mengepung Kami. Aku dan Putri Magitha saling mememunggungi dengan sikap melindungi.


"Berdoalah supaya kerajaan membunuhmu dengan cepat agar Kau tidak merasakan siksaan apapun" Balas Putri Magitha lantang.


"Kau sangat takut melawan Kami sampai harus menyiapkan pasukan sebanyak ini untuk menyerang Kami"


"Aku anggap itu jawaban Kalian..Semua bunuh Mereka" Teriak Claira kesal.


Para prajurit maju. Aku mengayuhkan pedangku. Rasa sakit di punggungku membuatku sukar bergerak. Tapi Aku harus melawan. Aku harus melindungi Putri Magitha.


Aku berhasil membunuh beberapa orang Prajurit. Putri Magitha terjatuh ketika melawan seorang Prajurit. Aku bergerak melindunginya. Aku tidak ingin ada kematian lagi mengikutiku. Cukup Pangeran Sera yang terakhir. Aku tidak mau lagi kehilangan siapapun.


Sebuah sabetan terasa di punggungku saat Aku menjatuhkan diri diatas punggung Putri Magitha.


"Putri Yuki" Putri Magitha langsung memelukku ketika Aku ambruk. "Putri Yuki..."


"Lari...Lari Putri..." Bisikku lirih. Aku tidak merasa cukup mampu untuk melindunginya. Dia harus segera pergi dari sini.


Putri Magitha berteriak. Dia memegangi rambutnya yang di tarik oleh Claira. Aku di tendangnya hingga jatuh di tanah. Putri Magitha dipaksa berdiri menjauhiku. Mengikuti tarikan Claira.


"Hentikan drama bodoh Kalian. Pengawal bunuh Dia"


"Putri Claira, Tapi wanita ini adalah calon ratu negeri Garduete. Jika Kita membunuhnya, Maka pasti akan terjadi perang besar dengan negeri Garduete" Ujar seorang penjaga mengingatkan.


"Tidak ada yang akan tahu Dia mati karena kita. Lagipula lebih membantu jika Garduete menyerang Argueda karena mengira Dia terbunuh oleh kerajaan. Dengan begitu akan memuluskan rencana Perdana Menteri Borendo untuk mengulingkan tahtah Raja Jafar"


Penjaga tampak ragu.


"Tunggu apa lagi" Teriak Claira kesal. "Cepat bunuh Dia"


Penjaga itu maju menghampiriku yang terbaring di atas tanah bersimba darah. Aku menatap pedang yang diacungkan di atasku. Berkilat tajam.


Aku sudah melewati banyak hal yang membuatku selamat sampai sekarang. Tapi akankah ini jadi akhirku.


Putri Magitha berteriak mencoba melepaskan diri. Dia terus memanggil namaku. Claira dengan kasar menarik rambutnya.


Pedang diayunkan.


Aku memejamkan mata. Bersiap untuk menerima kematianku.


Tapi...


Sebuah panah melesat langsung. Menembus tenggorokan penjaga itu.


Penjaga itu ambruk didekatku. Mengeliat kesakitan kemudian diam tak bergerak. Aku melirik ke arah panah itu berasal dan terkejut. Mendapati Ratu Warda bersama Pangeran Riana dan teman-teman bangsawannya. Mereka membawa pasukan di belakangnya. Pangeran memegang busur. Dia yang menembakan panah itu.