RASHN

RASHN
Bab #62



Aku melesat menuju arah datangnya suara. Isakkan tersendat-sendat nan memilukan dari rumah jerami terjauh dengan lilitan kobaran api paling besar pada bagian atap kian keras terdengar.


Aku refleks melompat dan menghindar beberapa kali dari percikan panas patahan bangunan. Paru-paruku pun serta merta berkali lipat terasa lebih sesak ketika jarak antara rumah jerami dan diriku terpaut kurang dari tiga meter.


“T-to-lo-ng...”


Netraku memicing tajam saat baru selangkah memasuki rumah jerami. Namun, berkat jilatan lidah api yang menyalak-nyalak buas. Aku dengan tempo yang cukup lambat dan kehati-hatian serius, terpaksa harus tidak jarang berhenti sejenak beberapa kali.


Suhu tubuhku yang memang normalnya tinggi, sepertinya pula bukan kelebihan positif lagi bermanfaat saat berada di momen-momen terdesak seperti ini. Berenang dalam lautan angin panas, benar-benar teramat buruk bahkan untuk dijadikan sekadar bunga tidur.


Sebelah mataku sontak membelalak senang ketika melihat punggung seseorang dalam balutan pakaian bernuansa cokelat serupa warna jerami. Surai panjang hitamnya begitu awut-awutan menutupi hingga daerah pinggul. Tubuh kurus ringkih dengan bahu sempitnya kini tampak tengah berjongkok di bawah meja kayu yang syukur, belum lecet sama sekali.


Aku mempercepat langkah dan berusaha menahan rasa sakit saat beberapa kali menabrak jerami juga barang-barang entah apa itu yang terbakar dan berjatuhan asal di atas permukaan telanjang tanah.


“Apa Nyonya baik-baik saja? Oh, kaki anda terluka. Tapi, jangan khawatir Nyonya. Anda bisa naik ke punggungku. Aku akan menggendong Nyonya keluar dari sini. Ayo, Nyonya! Nyonya? Nyo-...”


Jantungku berdegup kencang. Perih disambut nyeri menusuk-nusuk menjalar ganas dari tubuh belakangku. Bau hangus bercampur anyir darah membaur bebas di antara kepulan abu hitam. Dari kejauhan, setinggi dua puluh kaki dari tempatku terbaring menelungkup di atas tanah. Sesosok dengan kilat mata merah menyala. Bersayap hitam raksasa serupa milik hewan nokturnal, kelelawar, tampak tengah melayang datar dalam balutan kabut hitam mengelilingi hampir sekujur tubuhnya.


Aku memperhatikannya tanpa kedip. Pening seketika menginvasi brutal kepalaku saat dengan tiba-tiba tawa menggelegar dibarengi kemunculan ratusan. Bahkan mungkin ribuan kelelawar terbang mengitari sosok yang aku akui bersetelan sangat serupa dengan pakaian para bangsawan kejam yang pada bulan-bulan tertentu senang sekali berbuat onar di pasar Liroz ‘Vallo.


“Manusia lemah yang mencoba menolong Arrae?!”


Gema suara nyaring dan menyakitkan gendang telinga merebak dingin mengalahkan deru langit yang baru sempat kusadari ternyata sudah gelap gulita. Penerangan yang tersisa kini hanya dari lidah-lidah panas nyala api dan terang merah dari mata para kelelawar juga sosok misterius itu.


Bulu kudukku merinding ngeri. Saluran pernafasanku seolah menghimpit rapat saat tiba-tiba seekor dari gerombolan kelelawar jelek melintas secepat cahaya dan hampir saja menabrak batang hidung kebanggaanku, kalau instingku telat barang sedetik memerintah untuk memundurkan badan.


“N-Nyonya..?!”


Aku berujar lirih. Jari-jemari terlampau kurus hingga menampakkan detail bentuk tulang-tulang dan urat-urat yang mungkin karena sedikit penerangan malah terlihat kehitaman. Namun, bisa jadi memang benar hitam setelah sudut-sudut mataku menangkap jelas kuku-kuku tua, sangat dekil, berwarna hitam legam, ditambah mirip sekali dengan lukisan penyihir tua dan atau monster. Tidak tahu tepatnya apa.