
Kalimat dari bibir merah menggoda yang terhitung telah dua kali dipanggil dengan sebutan Putri kembali terpotong nahas. Tidak menyenangkan sekali sepertinya sikap orang-orang, ralat, makhluk-makhluk di tanah minim kesuburan ini bermukim.
‘Apa mereka terlalu frustrasi hingga tidak mempunyai secuil saja, rasa saling hormat dan menghargai?!’
Lain halnya dengan tatapan antara penasaran dan sebal yang dilayangkan pria tua, Sinse Iaonm, mendapati kepala seseorang berwajah kelewat familier dengan gundukan besar tas di punggungnya mendadak muncul dengan simbah keringat panas dingin, membasahi baju berlengan oblongnya dan jari-jemari kurus keringnya yang menekan terlalu keras tripleks pintu hingga terdengar bersahut-sahut bunyi krak cempreng dari pecahan kecil berdiameter cukup besar dan dalam di bawahnya.
“Tuthû? Apa yang membawamu kemari pagi-pagi begini? Bukannya kau harus pergi menemui Nona Riêdl?!”
Sinse Iaonm menggeser paksa cengkraman remaja berambut cokelat urakan, Tuthû, dari sisi-sisi pintu. Sementara dua orang wanita di sudut terjauh ruangan menunggu dengan tidak sabaran, yang lebih muda kelihatan berkilat-kilat, teramat sangat tertarik. Sementara yang lebih tua dengan sudut bibir menukik curam, menatap muak.
‘Lihat, dia mulai lagi! Pasti setelah ini dan untuk tiga hari ke depan, klinik bobroknya akan ditutup. Dasar burung hantu, semakin mirip dengan hantu saja kelakuannya.’
“O-oh, Sinse, bukan, Nona... akh, tidak! Itu, di depan! Mati!”
Tuthû berkata patah-patah. Jemarinya bergemetar hebat dengan nafas megap-megap layaknya ikan laut yang terdampar menyedihkan di tanah kering daratan.
“Mayat maksudmu?”
Gadis berparas cantik dengan entengnya lalu bercelatuk tanpa ada setitik pun rasa peduli menanggapi penuturan abu-abu Tuthû.
“Benar, mayat! Dia berdarah dan bau! T-tapi...”
“Tapi?”
Sinse Iaonm bertanya dengan nada ditinggi-tinggikan. Nampak sekali kekesalannya sudah berada di ujung tanduk, melihat bagaimana daun telinga berjambulnya menegang sambil berdenyut-denyut tidak teratur.
“Emas!”
“Apa?! Kantong emas! Cepat! Segera tunjukkan jalannya sebelum emas-emas itu hilang! Ayo, cepat!”
“E-eh, bu-bukan...”
Belum ada sekejap, Syfvie telah lebih dulu melompat turun dari atas ranjang, lalu berseru kencang melewatiku dan Sinse Iaonm sembari jemari kurusnya tanpa aba-aba, menarik terlampau kasar lingkaran bagian belakang leher pakaian berbahan katun tipis milik Tuthû.
Sedangkan aku hanya bisa menghela nafas pasrah, kemudian mengekori mereka dari jarak lumayan jauh, setelah sebelumnya menepuk-nepuk agak keras bahu tumpul dan berlemak Sinse Iaonm yang masih membeku dengan mata besarnya yang membulat lebar maksimal meratapi jendela kusam di ujung ruangan.
“Cepat, Putri!”
“Berhenti memanggilku, Putri!”
Syfvie lagi-lagi memanggil gadis yang sudah melebarkan anggun sayap hitam megahnya itu dengan sebutan Putri.
Sementara si potret rupawan dengan alis hitam berkerut-kerut tebalnya, setelah berteriak kesal, meski jelas hanya akan masuk kuping kiri keluar kuping kanan Syfvie, dalam sepersekian detik kini sudah mengudara bebas di angkasa.
‘Hah... ini pasti akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan.’
...⚔⚔⚔...
Perpaduan bau asam pekat serupa bau metalik, apek menyengat dan petrichor — aroma alami tanah yang dihasilkan saat hujan turun di tanah kering, berasal dari ozon, tumbuhan dan bakteri — menguar tajam mengusik indra penciuman sosok berambut emas yang terhitung sudah hampir tujuh jam lebih empat puluh menit, terbaring pasrah di antara genangan lumpur.
Kedua kelopak matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali. Ia agaknya merasa terganggu dengan temperatur terik mentari yang kian tinggi tiap detik-menitnya.
“Eungghhhh... i-ni?”
Netra remaja lima belas tahun itu, aku, Rashn, menyipit. Langit biru dihiasi awan selembut embun, begitu cerah dan menyegarkan, seharusnya.
Namun, menyadari kondisiku sekarang. Rasa sakit dan nyeri membilu di setiap bucu tulang-tulang, sendi-sendi, bahkan jutaan saraf-sarafku, benar-benar terlampau kontras dengan cerah dan pemanasan latihan vokal kicauan riang para burung yang dengan manisnya bertengger di dahan-dahan estetis pohon di atasku.
“Heungghhh... s-sa-ki-t..!”
Aku bergerak paksa, sekedar mencoba menggerakkan ujung jemariku. Tapi sepertinya, meski dewi keberuntungan masih sedikit berbelas kasihan padaku, nafsu penguasa bawah tanah untuk mengeksploitasi seluruh tubuh dan jiwaku nampaknya berkali-kali lipat jauh lebih besar.
Dapat dilihat bagaimana kelakuan keji dari linu berdentum-dentum di bawah jaringan epidermisku yang tidak sama sekali mau diajak berkompromi minimal setitik saja, memberikan aku kesempatan untuk mengerdip dengan damai.
Namun, apa boleh buat. Keinginanku untuk bersantai di pemandian air panas sepertinya juga sudah dianggap telah terkabul, walau lokasinya kelewat betul melenceng. Aku saat ini hanya bisa bungkam sembari dengan lamat-lamat meresapi sensasi pijatan mereka, bidadari dan bidadara lumpur.
‘Aku tahu, kalian memang amatlah sangat dermawan. Tapi, aku tidak pernah menyangka. Pemandian air panasku telah berganti dengan relaksasi rendaman lumpur menjijikan di bawah terik menyengat tuan-nyonya mentari! Yang benar saja kalian ini…’
Ingin sekali aku berteriak, sekencang dan semenggelegar mungkin kalau bisa. Meski pada akhirnya, aku menyerah, bukan, tidak menyerah, tetapi hanya mengalah sebentar.
Tidak tahu sampai kapan, yang jelas perasaan kesal membara ini jika sudah tiba pada waktunya, tanpa perlu aku repot-repot mengatur jadwal peluncurannya pun pasti akan meledak dahsyat dengan otomatis.
“Haa-a... ka-la-u be-gi-ni bu-ka-n-ka-h le-bi-h ba-ik ma-ti, be-na-r-k...”
KRESEK...
Rangkaian kalimat patah-patahku seketika terhenti. Aku terbeliak lebar. Daun telingaku refleks berdenyut-denyut maju mundur mendengar suara berisik gesekan beruntun dedaunan di antara ranting-ranting pepohonan di atasku.
Apel adamku tanpa sadar ikut naik turun dengan susah payah, disambut buliran keringat berkombinasi buruk bau lumpur hitam yang perlahan meluncur satu-satu dari lubang semu pori-pori kulit kucelku.
‘Suara ini... tolong, jangan lagi.’
TAP! TAP! TAP!
KRESEK... TAP! TAP!
Belum habis kecemasanku, derap langkah cepat lagi tidak sabaran dari arah barat daya lokasi tubuhku telentang mengenaskan, membuat detak jantungku ribut meronta-ronta panas dingin.
Siluet hitam hasil tangkapan singkat lirikan penuh paksaan sudut-sudut mataku disambung berisik ocehan yang jelas sekali adalah milik seseorang berspesies sama denganku, manusia atau bahasa kerennya Homo sapiens, tidak tahu kenapa, malah menjadikan udara di sekitar hidungku pelan-pelan memberat.
Seolah milyaran oksigen hasil fotosintesis para klorofil dedaunan hijau lebat pagi ini tengah terkontaminasi gas beracun tingkat gawat darurat.
Kedua paru-paruku kemudian bernafas tipis-tipis, sesaat setelah suara super familier, tidak tahu siapa, dari mana dan atau kapan gendang telingaku pernah menangkapnya, terdengar.
“Apa kau berbohong?!”
“T-tidak, tadi ada di sekitar sini..!”
.
.
Bersambung...