RASHN

RASHN
Bab #22



“Rashn dan kalian bertiga bisa tidur duluan, aku akan berjaga pada satu jam pertama dan setelahnya Duke Oakley, dilanjut Vir, kemudian Ingram. Begitu seterusnya sampai fajar menyingsing.”


Dhruv berjalan cepat menuju mulut gua. Sebuah pedang bersarung hitam, tikar bambu berukuran lebih kecil dan kantong air minum berukuran sedang berisikan air mineral penuh diambil dan dibawanya ke lokasi tempat dirinya beserta nanti ketiga orang lainnya akan bergiliran melakukan ronda malam.


Sedangkan aku bersama dengan ketiga partisipan ronda — Vir, Ingram dan Duke — sudah dengan tanpa paksaan berbaring nyaman di atas lekar besar.


Satu jam pun tak terasa telah berlalu. Dhruv dengan merem melek menepuk-nepuk lengan kiri Duke Oakley yang kelihatan sangat pulas tertidur tepat di sebelah kananku.


“Duke, sekarang giliranmu. Cepat bangun! Ahh, kenapa aku ngantuk sekali. Duke! Cepat bangun, aku sudah tidak kuat lagi.”


Dhruv menguap beberapa kali sembari masih terus menepuk-nepuk; kali ini kedua pipi berlesung Duke Oakley.


“Ugh, kepalaku pening. Apa sekarang sudah giliranku?” Duke akhirnya membuka matanya dan dengan malas bangun dari posisi tidur telentangnya.


“Ya, giliranmu. Jadi cepatlah bangun, aku benar-benar mengantuk. Ugh, aku sepertinya sangat lelah sampai sebegini ngantuknya.”


“Oke.. oke... Jadi, siapa setelahku nanti? Vir atau Ingram?”


Hampir dua menit terlewati dan Dhruv masih belum menjawab pertanyaan Duke. Akhirnya, dengan berat hati Duke Oakley berdiri dan lalu mendengus kasar melihat ternyata Dhruv sudah lama terkapar di sebelah Ingram.


Sementara aku yang sejak tadi tidak bisa tidur, dengan rasa penasaran tinggi, semakin berani menajamkan penglihatan dan memperhatikan dalam diam gerak-gerik sempoyongan Duke Oakley mendekati tempat keempat kuda mereka berada.


Jemarinya mengambil tidak bersemangat bilah pedang berukuran empat lima senti lebih pendek dari milik Ingram dan Dhruv dari balik kain penutup di atas punggung kuda bernuansa cokelat kekuningan miliknya, kemudian berlalu lambat menuju mulut gua.


Hampir kurang lebih sepuluh menit sudah dari semenjak Duke Oakley berganti giliran jaga dengan Dhruv. Malam pun telah semakin larut, tetapi dewi tidur masih belum sama sekali mampir untuk meniupkan serbuk-serbuk kantuknya kepadaku.


‘Ugh, kenapa aku malah tidak bisa tidur? Bahkan, Ingram dan Dhruv saja sudah tidur super pulas. Hm, apa aku pergi menemani Duke Oakley berjaga saja di luar? Benar, mungkin aku nanti akan mengantuk dengan sendirinya setelah beberapa menit melongok kosong meratapi gelapnya rerimbunan hutan.’


“Duke? Duke Oakley?”


Aku memanggil-manggil nama Duke Oakley begitu hampir dekat dengan mulut gua. Tapi tidak tahu kenapa, detak jantungku tiba-tiba berdegup sangat kencang, hawa dingin dan keheningan yang sejak tadi sama sekali tidak sibuk-sibuk kuindahkan juga mendadak — seperti — tengah menyeret paksa kelima pancaindraku untuk meresapi baik-baik jerit pilu, suram dan sesak resah mereka.


‘Tsk, jangan lagi! Yak! Berhenti mengganggu kami!’


DEG!


“D-Duke... Duke Oakley?!”


Aku memegang dadaku sesak. Setelah berlari bagai orang kesetanan, berjarak sekitar dua setengah meter dari tempatku berdiri duduk Duke Oakley dengan punggung lebarnya menghadap ke arahku.


Gabungan antara panas tubuh dan dingin membekukan nafas dewi malam, tanpa bisa dicegah, mengerik sedikit demi sedikit nyaliku setiap jejak baru mendarat kosong di lantai berembun bebatuan gamping gua.


“Rashn, kau belum tidur?”


Kedua bola mataku terbelalak lebar dan refleks terlonjak mundur beberapa langkah melihat Duke Oakley; masih dalam posisi duduk bersila dengan air muka tujuh puluh persen mengantuk, tiba-tiba menengok ke arahku.


Kesepuluh jari-jemari tertutupi gulungan tipis kain merah marun polos miliknya pun melonggarkan pendek rengkuh posesif pada sarung pedang cokelat kehitaman dengan ukiran mewah nan rumit.


“E-eh, a-apa kau baik-baik saja D-Duke? Tidak ada yang t-terjadi denganmu?”


Dengan langkah patah-patah aku berjalan menghampiri Duke Oakley dan selama hampir sepuluh detik lamanya, termangu.


Memindai serius dari ujung kepala hingga ke sudut-sudut sol bergerigi sepatu boots hitam berbahan, mungkin Dêlta Cœrdura — koleksi teknologi kain terbaik dan termahal, berbahan dasarkan nilon, terkadang dicampur katun dan atau serat lainnya yang digunakan dalam pembuatan berbagai macam produk tahan abrasi, tetesan air dan benturan, khususnya tas, pakaian dan sepatu militer — dari utara dan tenggara bumi.


“Ya? Oh, i-itu... aku pikir... ah, t-tidak. Bukan apa-apa, Duke.”


Aku menggaruk keki tengkukku yang sama sekali tidak gatal. Mulai malu sendiri setelah melakukan kilas balik atas tindakan terlampau aktif dan paranoidku yang asal menyemburkan pertanyaan ini-itu ke depan raut bingung dengan kedua kelopak menyipit lelah, Duke Oakley.


“Oke. Tapi, apa yang sedang kau lakukan di sini Rashn?” Duke Oakley mengucek-ngucek kedua matanya cukup lama, lalu dengan binar tidak berenergi, menubrukkan kedua iris cokelat tuanya pada iris-iris gamam biru safir dan hazelku.


“Itu, ehm... aku tidak bisa tidur. Jadi kupikir, aku akan ikut berjaga saja denganmu.”


Aku dengan tanpa permisi, mendaratkan grogi bongkahan bokong berlapiskan hanya kain katun tipis berwarna cokelat tidak bermotifku untuk menyempil di pinggiran luar tikar bambu mini berukuran 115 × 75 senti; duduk bersejajar horizontal di sebelah Duke Oakley.


Meski jujur tidak bisa dikatakan kelihatan senang, Duke Oakley tetap dengan dermawannya lalu menggeser tubuh hampir dua kali lebih besarnya dariku itu dan memberikan cukup bersahabat ruang untuk duduk setengah berjulur.


“Tidak bisa tidur? Tapi kau harus tetap pergi tidur dan istirahat, Rashn.” Duke dengan tanpa alarm, tiba-tiba memberikan tepukan ringan di salah satu bahuku.


“Aku akan segera kembali ke dalam, kalau mengantuk nanti...”


Aku bercicit membalas ceramah perhatian Duke Oakley dan bersamaan dengan itu, aksi tepuk-menepuknya di bahu kananku terhenti. Kedua netranya beralih memandang jauh menembus kegelapan deretan vegetasi bertumpuk di depan kami.


“Oke, terserah kau saja.”


Suasana kemudian kembali sepi. Belaian lembut angin bersuhu rendah diiringi sesekali tawa burung hantu dan jerit girang hilir mudik kelelawar di langit minim cahaya bulan apalagi bintang, betul-betul tidak ada setitik pun yang sukses mendatangkan rasa kantuk kepadaku.


Lebih aneh lagi karena Duke Oakley tidak tahu sudah berapa kali sudah dahi lebarnya terantuk-antuk semangat membenturi sarung tebal bilah pedang di balik pelukannya, dia masih tetap pulas.


Terhanyut sedalam-dalamnya di pusaran gelembung-gelembung mimpi sampai-sampai kedua bibirnya menganga kelewat lapang dan mengumandangkan gelombang dengkuran ramai lagi bersahut-sahut.


Hingga setelah mungkin dua puluh menit berlalu, tanpa aku sentuh secuil pun, tiba-tiba Duke Oakley tersentak bangun. Dua bola matanya melirikku linglung lalu dengan gerakan putus-putus beranjak meregangkan sebentar sendi-sendi tulang punggung, tangan dan lehernya.


“Kau masih belum tidur juga, Rashn?”


Duke Oakley bergumam pelan dengan suara serak-serak basah khas orang baru bangun tidur sembari mengambil kantong minum berwarna hijau kusam yang terbaring di sebelahnya dan lalu menenggaknya agak rakus.


“Ehm, Duke...”


“Ah, aku baru ingat. Tadi sore kau ingin mengatakan sesuatu kan, Rashn?”


Aku sontak mengangguk-angguk super kilat menanggapi serangkaian kalimat tanya yang paling aku tunggu-tunggu dari semenjak beberapa jam terakhir ini.


“Iya, itu...”


KRESEK...


KRESEK...


.


.


Bersambung...