
“Aku rasa segini cukup.”
Vir dengan memanggul seikat besar ranting-ranting kering berjalan melewati mulut gua. Sementara Duke Oakley di belakangnya menenteng santai seekor kelinci abu-abu gemuk yang tidak tahu sengaja atau tidak, berhasil mereka berdua tangkap dalam perjalanan lima belas menit mencari kayu-kayu bakar.
“Ya, letakkan saja di sana. Hm, apa kalian berburu?”
Dhruv melangkah cepat menghampiri kelinci besar di dekat tumpukan ranting-ranting dan dengan tanpa banyak bicara, mengangkat sejajar kepalanya, tubuh kelinci, tadi.
Aku dengan agak penasaran menghampiri Dhruv sembari dengan tanpa diminta maupun disuruh, beranjak membantu Ingram Jakoobäh menyusun rapi ranting-ranting membentuk kerangka tinggi api unggun.
“Kami tidak sengaja berpapasan dengannya. Tapi tenang saja, aku sudah mengecek super detail dan dia bersih.”
Vir menjelaskan panjang lebar sembari mengeluarkan sebuah belati berukiran rumit bergagang kayu jati dari balik sakunya dan bersama dengan Dhruv mulai menguliti epidermis kulit berambut abu-abu si kelinci.
Sedangkan Duke Oakley dengan membawa sesuatu dari kantong cokelat kobicha kecil yang tergantung di leher kuda cokelat terang miliknya menghampiri lokasi Vir dan Dhruv berada, kemudian tanpa disangka-sangka meneteskan satu dua bulir cairan ungu dari dalam botol bening di genggamannya ke atas tubuh kelinci malang yang telah terbaring kaku di tengah-tengah kubangan merah pekat berbau metalik.
“Haha, Duke. Kau ternyata masih menyimpan cairan misterius itu.” Vir terkekeh geli sambil dengan ringannya menepuk-nepuk bahu kiri Duke Oakley riang.
“Yup, tidak buruk menyimpan barang unik seperti ini.”
“Benar. Semenyebalkan apa pun Paman Gizslo, dia masih mampu membuatku terbahak-bahak bahkan tanpa harus jauh-jauh berkunjung melihat wujudnya.”
“Hm... hm...”
Duke Oakley bergumam pelan beralih menutup rapat botol kaca berbentuk bohlam kecil dan pergi meninggalkan Dhruv juga Vir, lalu dengan hati-hati kembali menyimpan botol ke dalam kantong tas selempang mungilnya.
“Oke. Mari kita makan malam...”
Vir berseru kegirangan, kontras sekali dengan raut wajahku yang masih termangu menatap tidak percaya pemandangan tidak masuk akal di barat daya dari lokasiku duduk berjongkok.
Kulit berambut abu-abu lembut si kelinci seketika lenyap bersamaan dengan genangan amis di sekitarnya yang tiba-tiba terserap habis tak bersisa ke dalam tanah, beberapa detik kemudian setelah cairan misterius di tangan Duke Oakley itu menyentuh tubuh telanjang tuan-nona kelinci.
‘Woah, bagaimana bisa?!’
“Rashn, kemarilah. Kau bisa ikut matang jika terus-terusan duduk sedekat itu.”
Panggilan tiba-tiba dari Duke Oakley membuatku langsung tersadar dan terjungkal konyol mencium lantai dingin gua ketika mendapati atap rangkaian kayu di depanku sudah penuh dengan segerombolan api yang tengah menyalak-nyalak ganas mencoba memakan udara.
Aku dengan wajah bersemu merah, merangkak kilat ke tempat di mana Duke Oakley sudah terduduk manis menyelonjorkan kedua kakinya di atas lekar bambu dan tidak lama setelahnya, daging kelinci bersih tak lagi berambut berkepala dan tertusuk ngilu sebuah ranting besar dari ceruk leher hingga anus, sudah dengan menggiurkannya tertelungkup menghadap jilatan lapar api unggun.
“Wah, dengan kalian bertiga. Ini benar-benar deja vu, bukan?”
Duke Oakley agaknya lebih tertarik mengoreksi kata-kata Vir dibandingkan sekedar meresponsnya dengan jawaban ‘iya’ atau ‘tidak’. Jemari panjang Vir berhenti dari acara membolak-balikkan iseng daging kelinci, kedua bibirnya sempat mempout tidak senang.
Namun hanya beberapa detik sampai organ tak bertulang yang tersembunyi di antara deretan gigi-giginya bersemangat kembali, siap untuk mengoceh ini dan itu.
“Sudah berapa tahun sejak kontes alam itu? Lima? Tujuh? Entahlah, tapi melihat Rashn...”
“Hm, seperti melihat dirimu dulu.” Dhruv menanggapi sarkas lanjutan kalimat menggebu-gebu Vir.
“Hei, kita tidak setua itu. Benar begitu kan, Rashn?”
Aku hanya diam ditanya mendadak seperti itu. Jujur, mereka terutama Duke Oakley memang masih kelihatan sangat muda, mungkin sekitar berumur dua puluh tiga atau lima, entahlah. Tapi sepenglihatanku, mereka pasti kurang atau baru menginjak kepala tiga.
“Serius, kau benar-benar hobi mengoceh Vir!”
“Oh, Ingram. Kau tidak berubah setelah bertahun-tahun, semakin beku saja dari hari ke hari.”
Ingram tanpa ada hasrat untuk meladeni kicauan tidak lucu Vir beranjak menjauh dari api unggun dan berlalu duduk di pinggiran terluar lekar bersama Dhruv, Duke dan aku.
“Dhruv, apa belum ada kabar lagi dari ibukota?”
Vir yang sudah terlanjur membuka lebar mulutnya berniat ingin lanjut mengoceh, akhirnya dengan amat sangat terpaksa langsung menutup rapat bibir agak kehitamannya mendengar nada serius dari kalimat tanya Duke Oakley.
“Hm, ini baru hari kedua aku dan Vir berada di Achyls dan memang saat di pos pertama pagi tadi, aku sudah sempat mengirimkan surat pemberitaan kedatangan. Tapi gara-gara penyerangan bandit-bandit kemarin, sepertinya akan memakan waktu lebih dari tiga hari untuk sampai ke ibukota dengan selamat dan tanpa cacat.”
“Sihir dan elemen pun jadi sama sekali tidak berguna kalau begini.” Duke Oakley menanggapi lesu penjelasan detail Dhruv.
“Ehm...”
“Baiklah-baiklah, waktu habis. Makan malam datang!”
Belum ada aku berucap, Vir sudah lebih dulu menginterupsi. Namun meski begitu, berkat langkah panjang-panjang dengan jemari menadah selembar daun besar yang sudah tersuguh menggiurkan daging kelinci panggang di atasnya membuat aku jadi sama sekali tidak kesal dan malah dengan tanpa instruksi siapa pun, bergabung membentuk lingkaran sempit bersama empat orang di kanan-kiri dan depanku.
“Selamat makan!”
.
.
Bersambung...