
Mata merahnya bersinar kesal sembari jemari lentik berkuku panjangnya menoyor pelan dahi gadis pendek di depannya. Kedua netranya lalu beralih menatap jengah luka robek pada bahu lawan bicaranya. Seingatnya, belum ada tiga minggu semenjak kunjungan terakhirnya ke tempat terpencil ini dan gadis bertelinga runcing itu sudah kembali terluka. Meski tidak tahu, benar atau tidak, sesuatu sepertinya telah terjadi.
“Oh, benarkah? Apa ada sesuatu yang terjadi?”
Pria berambut kuning tua kecokelatan dengan banyak uban yang mencuat-cuat kontras dari potongan pendek rambutnya berjalan menuju wastafel tersembunyi di balik tirai biru kebesaran dekat etalase. Agak membingungkan memang pada awalnya. Tapi lama-kelamaan para pengunjung berlabelkan pasien, pesakit dan seterusnya itu, akhirnya mengerti juga dengan niat juru tabib satu-satunya desa mereka ketika sudah dua tiga kali datang sekedar berkonsultasi, berobat, membeli pil, cairan dan atau bubuk obat-obatan hingga melakukan persalinan, ketika bertanya-tanya dan betul-betul bertanya di mana lokasi keran tempat cuci tangan berada.
‘Aku hanya ingin menghemat sumber air kita, tidak ada maksud lain. Sumpah?’
Kira-kira begitu katanya juga, saat gadis dengan rambut hitam panjang berombak itu tersasar di hutan ilusi dan untuk kali pertamanya memasuki bangunan tua paling dekat dengan sumber mata air, sekitar mungkin, tujuh atau delapan tahun yang lalu.
“Tidak tahu juga. Mungkin karena Yang Mulia akhir-akhir ini sedang banyak pikiran atau entahlah.”
“Hm, begitu.”
Manusia jenis hybrid — spesies istimewa hasil peranakan antara hewan dan manusia atau sebaliknya — nokturnal, berprofesi tabib yang habis mencuci, kemudian mengelap tangannya pada handuk ungu berserabut jelek yang tergantung pada paku kecil di dinding dekat pintu keluar, mengangguk-angguk paham.
“Oh ya, Syfvie. Bagaimana tadi kau bisa...”
“Sinse Iaonm!!! P-Putri?!”
Kalimat dari bibir merah menggoda yang terhitung telah dua kali di panggil dengan sebutan Putri kembali terpotong nahas. Tidak menyenangkan sekali sepertinya sikap orang-orang, ralat, makhluk-makhluk di tanah minim kesuburan ini bermukim.
‘Apa mereka terlalu frustrasi hingga tidak mempunyai secuil saja, rasa saling hormat dan menghargai?!’
“Tuthû? Apa yang membawamu kemari pagi-pagi begini? Bukannya kau harus pergi menemui Nona Riêdl?!”
Sinse Iaonm menggeser paksa cengkraman remaja berambut cokelat urakan, Tuthû, dari sisi-sisi pintu. Sementara dua orang wanita di sudut terjauh ruangan menunggu dengan tidak sabaran, yang lebih muda kelihatan berkilat-kilat, teramat sangat tertarik. Sementara yang lebih tua dengan sudut bibir menukik curam, menatap muak.
‘Lihat, dia mulai lagi! Pasti setelah ini dan untuk tiga hari ke depan, klinik bobroknya akan di tutup. Dasar burung hantu, semakin mirip dengan hantu saja kelakuannya.’
“Mayat maksudmu?”
“Benar, mayat! Dia berdarah dan bau! T-tapi...”
“Tapi?”
“Emas!”
“Kantong emas! Cepat, tunjukkan jalannya! Sebelum emas-emas itu hilang! Ayo, cepat!”
.
.
To be continue...