
‘Apa ini tandanya sudah selesai? Tidak ada sesi jahit-menjahit dan semacamnya, kan?!’
Grendel kunci jendela yang memang sudah tidak lagi dapat menutup rapat, tiba-tiba terbuka. Seorang wanita berkulit seputih salju dengan sayap berbulu hitam besar seperti sayap burung gagak raksasa meloncat kilat melewati ranjang di bawahnya.
“Berhenti memanggilku putri, Syfvie! Dan ada apa dengan dirimu? Apa kau terluka?”
“Heungghhh, Putri!”
Mata merahnya bersinar kesal sembari jemari lentik berkuku panjangnya menoyor pelan dahi gadis pendek di depannya. Kedua netranya lalu beralih menatap jengah luka robek pada bahu lawan bicaranya. Seingatnya, belum ada tiga minggu semenjak kunjungan terakhirnya ke tempat terpencil ini dan gadis bertelinga runcing itu sudah kembali terluka. Meski tidak tahu, benar atau tidak, sesuatu sepertinya telah terjadi.
Bukan maksudnya untuk berpikiran berlebihan atau apa. Namun, sepanjang perjalanannya melewati hutan ilusi sedini hari tadi hingga menjejaki gerbang desa, aroma asing yang anehnya tidak menguarkan rona gelap dan malah menenangkan, tidaklah termasuk dalam daftar hal-hal bisa dan biasa di hiraukannya begitu saja.
“Salahmu sendiri! Sudah aku bilang jangan pergi ke sana. Tapi hm, kau berhasil lolos lebih cepat dari biasanya? Lukamu juga tidak separah kemarin-kemarin.”
“Nona! Selamat pagi! Bagaimana kabarmu?”
Seruan riang penuh bunga-bunga merah muda terdengar dari sosok bertubuh bulat dengan jemari gempalnya membawa segulungan perban. Sementara figur yang kali ini di panggil Nona, berhenti mengerutkan keningnya dan menengok tidak terlalu tertarik menatap makhluk campuran antara bangsa manusia utara dan burung hantu elang dari meridian utama belahan bumi timur, beriris mata oranye dengan ciri khas jumbai atas telinga berbintik-bintik kehitaman gelap dan kuning kecokelatan itu melangkah kian cepat menghampiri dirinya dan Syfvie.
“Oh, pagi. Tidak ada yang spesial, hanya semakin suram dan membosankan tiap harinya.”
Syfvie meringis pelan saat bahu dengan tiga luka baret panjangnya di tarik paksa jemari keriput sosok pemilik ruangan sumpek obat-obatan dan bukan main, berdebu. Sementara potret rupawan di sebelahnya melirik tidak suka, tetapi bukan. Bukan karena simpatinya pada Syvfie, melainkan kesempatan untuk mendengarkan penjelasan Syfvie itu jadi harus tertunda dan lebih menyebalkan sebab dia tidak tahu sampai kapan waktu penundaannya akan berakhir.
“Oh, benarkah? Apa ada sesuatu yang terjadi?”
Pria berambut kuning tua kecokelatan dengan banyak uban yang mencuat-cuat kontras dari potongan pendek rambutnya berjalan menuju wastafel tersembunyi di balik tirai biru kebesaran dekat etalase. Agak membingungkan memang pada awalnya. Tapi lama-kelamaan para pengunjung berlabelkan pasien, pesakit dan seterusnya itu, akhirnya mengerti juga dengan niat juru tabib satu-satunya desa mereka ketika sudah dua tiga kali datang sekedar berkonsultasi, berobat, membeli pil, cairan dan atau bubuk obat-obatan hingga melakukan persalinan, ketika bertanya-tanya dan betul-betul bertanya di mana lokasi keran tempat cuci tangan berada.