
Suasana lalu hening untuk beberapa saat, sampai bunyi ribut dari balik jendela besar dengan banyak lakban Rusfet dan selotip hijau besar bergoyang-goyang tidak sabaran.
Mata merahnya bersinar kesal sembari jemari lentik berkuku panjangnya menoyor pelan dahi gadis pendek di depannya. Kedua netranya lalu beralih menatap jengah luka robek pada bahu lawan bicaranya. Seingatnya, belum ada tiga minggu semenjak kunjungan terakhirnya ke tempat terpencil ini dan gadis bertelinga runcing itu sudah kembali terluka. Meski tidak tahu, benar atau tidak, sesuatu sepertinya telah terjadi.
Bukan maksudnya untuk berpikiran berlebihan atau apa. Namun, sepanjang perjalanannya melewati hutan ilusi sedini hari tadi hingga menjejaki gerbang desa, aroma asing yang anehnya tidak menguarkan rona gelap dan malah menenangkan, tidaklah termasuk dalam daftar hal-hal bisa dan biasa di hiraukannya begitu saja.
“Salahmu sendiri! Sudah aku bilang jangan pergi ke sana. Tapi hm, kau berhasil lolos lebih cepat dari biasanya? Lukamu juga tidak separah kemarin-kemarin.”
Yang di panggil Putri berucap tanpa filter. Kedua lengannya menyilang di depan dada sambil meneliti dari atas ke bawah kulit perempuan bernama Syvfie yang tengah mempoutkan bibirnya sok imut sembari kelingking kiri dan kanannya sibuk saling tekan-menekan, mendengarkan tidak jelas, apakah ucapan gadis berpostur tinggi langsing barusan adalah bagian dari isi naskah ceramah, sekedar ejekan atau apalah itu namanya.
“Cepat katakan padaku, apa trikmu kali ini, hm?”
Telunjuk kanan gadis berbalut gaun hitam sepaha, menusuk-nusuk iseng pipi Syfvie dengan raut muka datar. Gendang telinganya diam-diam menunggu antusias kalimat yang akan di lontarkan makhluk berkarakteristik luar sangat berbeda dengan peri-peri hutan umumnya, apalagi manusia biasa lagi lemah di luaran sana.
“Ih, itu karena...”
Seruan riang penuh bunga-bunga merah muda terdengar dari sosok bertubuh bulat dengan jemari gempalnya membawa segulungan perban. Sementara figur yang kali ini di panggil Nona, berhenti mengerutkan keningnya dan menengok tidak terlalu tertarik menatap makhluk campuran antara bangsa manusia utara dan burung hantu elang dari meridian utama belahan bumi timur, beriris mata oranye dengan ciri khas jumbai atas telinga berbintik-bintik kehitaman gelap dan kuning kecokelatan itu melangkah kian cepat menghampiri dirinya dan Syfvie.
“Oh, pagi. Tidak ada yang spesial, hanya semakin suram dan membosankan tiap harinya.”
Syfvie meringis pelan saat bahu dengan tiga luka baret panjangnya di tarik paksa jemari keriput sosok pemilik ruangan sumpek obat-obatan dan bukan main, berdebu. Sementara potret rupawan di sebelahnya melirik tidak suka, tetapi bukan. Bukan karena simpatinya pada Syvfie, melainkan kesempatan untuk mendengarkan penjelasan Syfvie itu jadi harus tertunda dan lebih menyebalkan sebab dia tidak tahu sampai kapan waktu penundaannya akan berakhir.
“Oh, benarkah? Apa ada sesuatu yang terjadi?”
Kira-kira begitu katanya juga, saat gadis dengan rambut hitam panjang berombak itu tersasar di hutan ilusi dan untuk kali pertamanya memasuki bangunan tua paling dekat dengan sumber mata air, sekitar mungkin, tujuh atau delapan tahun yang lalu.
Kalimat dari bibir merah menggoda yang terhitung telah dua kali di panggil dengan sebutan Putri kembali terpotong nahas. Tidak menyenangkan sekali sepertinya sikap orang-orang, ralat, makhluk-makhluk di tanah minim kesuburan ini bermukim.