
‘Tidak ada sesi jahit-menjahit dan semacamnya, kan?!’
Figur berperawakan kurus pendek dan berkulit hijau kusam di atas ranjang kapuk dan seprai putih gading yang agak kurang layak di jadikan sebagai bagian dari instrumen kesehatan, berbinar-binar girang. Sedangkan pria berjas putih panjang dengan tanpa pamit, telah lebih dulu melangkah keluar melewati pintu tripleks geser yang mulai mengalami pengeroposan tingkat gawat akibat melebarnya sarang-sarang milik koloni pemakan kayu, rayap.
Suasana lalu hening untuk beberapa saat, sampai bunyi ribut dari balik jendela besar dengan banyak lakban Rusfet dan selotip hijau besar bergoyang-goyang tidak sabaran.
“Putri!”
Grendel kunci jendela yang memang sudah tidak lagi dapat menutup rapat, tiba-tiba terbuka. Seorang wanita berkulit seputih salju dengan sayap berbulu hitam besar seperti sayap burung gagak raksasa meloncat kilat melewati ranjang di bawahnya. Rambut merah menyalanya mengibas sangat kencang dan hampir saja menampar wajah sosok mungil yang malah dengan bodohnya tidak sama sekali menghindar, dan tetap duduk termangu kesenangan memperhatikan hujan helaian bulu-bulu halus miliknya rontok, bertebaran ringkas bebas di udara, kemudian terbaring indah mengisi lantai kayu Betula ruangan berukuran betul-betul kurang dari ukuran optimal kamar instalasi kesehatan yang di anjurkan, di bawah 10 x 10 kaki.
Mata merahnya bersinar kesal sembari jemari lentik berkuku panjangnya menoyor pelan dahi gadis pendek di depannya. Kedua netranya lalu beralih menatap jengah luka robek pada bahu lawan bicaranya. Seingatnya, belum ada tiga minggu semenjak kunjungan terakhirnya ke tempat terpencil ini dan gadis bertelinga runcing itu sudah kembali terluka. Meski tidak tahu, benar atau tidak, sesuatu sepertinya telah terjadi.
Bukan maksudnya untuk berpikiran berlebihan atau apa. Namun, sepanjang perjalanannya melewati hutan ilusi sedini hari tadi hingga menjejaki gerbang desa, aroma asing yang anehnya tidak menguarkan rona gelap dan malah menenangkan, tidaklah termasuk dalam daftar hal-hal bisa dan biasa di hiraukannya begitu saja.
Telunjuk kanan gadis berbalut gaun hitam sepaha, menusuk-nusuk iseng pipi Syfvie dengan raut muka datar. Gendang telinganya diam-diam menunggu antusias kalimat yang akan di lontarkan makhluk berkarakteristik luar sangat berbeda dengan peri-peri hutan umumnya, apalagi manusia biasa lagi lemah di luaran sana.
“Ih, itu karena...”
“Nona! Selamat pagi! Bagaimana kabarmu?”
Seruan riang penuh bunga-bunga merah muda terdengar dari sosok bertubuh bulat dengan jemari gempalnya membawa segulungan perban. Sementara figur yang kali ini di panggil Nona, berhenti mengerutkan keningnya dan menengok tidak terlalu tertarik menatap makhluk campuran antara bangsa manusia utara dan burung hantu elang dari meridian utama belahan bumi timur, beriris mata oranye dengan ciri khas jumbai atas telinga berbintik-bintik kehitaman gelap dan kuning kecokelatan itu melangkah kian cepat menghampiri dirinya dan Syfvie.
“Oh, pagi. Tidak ada yang spesial, hanya semakin suram dan membosankan tiap harinya.”