RASHN

RASHN
Bab #42



Telunjuk kanan gadis berbalut gaun hitam sepaha, menusuk-nusuk iseng pipi Syfvie dengan raut muka datar. Gendang telinganya diam-diam menunggu antusias kalimat yang akan di lontarkan makhluk berkarakteristik luar sangat berbeda dengan peri-peri hutan umumnya, apalagi manusia biasa lagi lemah di luaran sana.


“Ih, itu karena...”


“Nona! Selamat pagi! Bagaimana kabarmu?”


Seruan riang penuh bunga-bunga merah muda terdengar dari sosok bertubuh bulat dengan jemari gempalnya membawa segulungan perban. Sementara figur yang kali ini di panggil Nona, berhenti mengerutkan keningnya dan menengok tidak terlalu tertarik menatap makhluk campuran antara bangsa manusia utara dan burung hantu elang dari meridian utama belahan bumi timur, beriris mata oranye dengan ciri khas jumbai atas telinga berbintik-bintik kehitaman gelap dan kuning kecokelatan itu melangkah kian cepat menghampiri dirinya dan Syfvie.


“Oh, pagi. Tidak ada yang spesial, hanya semakin suram dan membosankan tiap harinya.”


Syfvie meringis pelan saat bahu dengan tiga luka baret panjangnya di tarik paksa jemari keriput sosok pemilik ruangan sumpek obat-obatan dan bukan main, berdebu. Sementara potret rupawan di sebelahnya melirik tidak suka, tetapi bukan. Bukan karena simpatinya pada Syvfie, melainkan kesempatan untuk mendengarkan penjelasan Syfvie itu jadi harus tertunda dan lebih menyebalkan sebab dia tidak tahu sampai kapan waktu penundaannya akan berakhir.


Pria berambut kuning tua kecokelatan dengan banyak uban yang mencuat-cuat kontras dari potongan pendek rambutnya berjalan menuju wastafel tersembunyi di balik tirai biru kebesaran dekat etalase. Agak membingungkan memang pada awalnya. Tapi lama-kelamaan para pengunjung berlabelkan pasien, pesakit dan seterusnya itu, akhirnya mengerti juga dengan niat juru tabib satu-satunya desa mereka ketika sudah dua tiga kali datang sekedar berkonsultasi, berobat, membeli pil, cairan dan atau bubuk obat-obatan hingga melakukan persalinan, ketika bertanya-tanya dan betul-betul bertanya di mana lokasi keran tempat cuci tangan berada.


Kira-kira begitu katanya juga, saat gadis dengan rambut hitam panjang berombak itu tersasar di hutan ilusi dan untuk kali pertamanya memasuki bangunan tua paling dekat dengan sumber mata air, sekitar mungkin, tujuh atau delapan tahun yang lalu.


“Tidak tahu juga. Mungkin karena Yang Mulia akhir-akhir ini sedang banyak pikiran atau entahlah.”


“Hm, begitu.”


Manusia jenis hybrid — spesies istimewa hasil peranakan antara hewan dan manusia atau sebaliknya — nokturnal, berprofesi tabib yang habis mencuci, kemudian mengelap tangannya pada handuk ungu berserabut jelek yang tergantung pada paku kecil di dinding dekat pintu keluar, mengangguk-angguk paham.


Kalimat dari bibir merah menggoda yang terhitung telah dua kali di panggil dengan sebutan Putri kembali terpotong nahas. Tidak menyenangkan sekali sepertinya sikap orang-orang, ralat, makhluk-makhluk di tanah minim kesuburan ini bermukim.


Lain halnya dengan tatapan antara penasaran dan sebal yang di layangkan pria tua, Sinse Iaonm, mendapati kepala seseorang berwajah kelewat familier dengan gundukan besar tas di punggungnya mendadak muncul dengan simbah keringat panas dingin, membasahi baju berlengan oblongnya dan jari-jemari kurus keringnya yang menekan terlalu keras tripleks pintu hingga terdengar bersahut-sahut bunyi krak cempreng dari pecahan kecil berdiameter cukup besar dan dalam di bawahnya.