
Seorang gadis dengan manik mata semerah darah, melayangkan tatapan penuh amarah. Sayap hitam berukuran raksasa serupa milik burung gagaknya, terus terkembang angkuh mengudara.
Ia memang masih syok ketika sampai di desa ini dan mendapati kondisi penduduk sekaligus lingkungannya yang kacau balau. Tapi, sumpah! Ia lebih terkejut lagi ketika melihat dari jarak dekat pemandangan ‘konyol’ dan miris rasa simpati di hadapannya sekarang.
“Nona Az?!” Pekik Sinse Iaonm.
“Berhenti memanggil namaku dan cepat basmi para cecurut itu!”
Yang dipanggil Nona Az lalu hanya diam saja. Ia sesekali merasa sekali harus bertindak egois agar para makhluk di depannya ini tidak melulu kerja setengah-setengah.
Memang, Sinse Iaonm dan Tuan Qærk jelas bukan sekedar makhluk biasa. Tapi, seburuk apa pun situasinya, bagaimana bisa melawan segerombolan besar Cù-Sìth dan Gwyllgi dengan hanya sebuah belati? Sinse Iaonm pasti sudah terlalu bosan hidup, hm?
“Tuthû? Apa yang kau lakukan di sana?” Seru Nona Az jengkel.
Lengan Tuthû yang telah heboh meneteskan darah, oleh empunya sendiri kemudian spontan ditarik paksa hingga bebas seratus persen.
Gurat luka kelewat dalam bekas gigitan Gwyllgi tadi, serta merta membuat si cowok dengan tampilan wajah kusam itu melenguh kesakitan. Bulir-bulir air asin lantas kian deras meluncur dari kelopak matanya.
Namun, meski sebegitu menyedihkan dan menegangkannya keadaan Tuthû saat ini. Nona Az serius, tampak tidak sama sekali ada niatan untuk membantu. Ia yang ada hanya terus membisu dan malah mengalihkan fokusnya. Asyik mengamati gerak-gerik Sinse Iaonm dan Pak Kepala Suku.
“Ini membosankan,” Nona Az tiba-tiba bergumam datar. Sayap hitam legam kebanggaannya mendadak ia kembangkan dengan berkali lipat jauh lebih angkuh.
Ia kemudian dengan kecepatan bak kilatan cahaya, menukik tajam menuju tiga ekor Cù-Sìth yang baru saja akan menerkam Tuthû dari arah belakang.
“Bulan ini benar-benar kelewatan jelek dari tiga belas bulan yang lalu.” Lanjut Nona Az.
BLARRR!
GRRRRRAAAAA!!
Bola api berukuran medium dilayangkan tanpa resistensi oleh Nona Az. Tuthû sontak terduduk lemas. Darah yang mengalir lupa jeda dari lengannya, sungguh seperti telah menguras tiga perempat dari separuh sisa hidupnya.
Salah ia juga sebetulnya, karena terus-menerus menolak nasehat Nona Az untuk setidaknya mempelajari dasar-dasar pengendalian elemen tanah.
Tetapi, ia masih agak bersyukur. Sebab tangan malangnya ini—menurut prediksi acaknya—cukup hanya akan berakhir cacat sementara.
Dan bukan tidak mungkin. Kalau sebelumya ia hanya terus pasrah ketika Gwyllgi berengsek itu menggigitnya, setelah gerhana bulan hari ini selesai, pastilah tangan kanannya hanya akan tersisa sampai siku. Tidak ada lagi pergelangan tangan, apalagi lima jari-jemari dan ukiran garis-garis rumit di telapak tangan.
“Terima kasih, Nona.”
Tuthû terisak sedu-sedan. Ingusnya bahkan sampai menetes dan menggenang ramai. Bercumbu ria dengan cairan merah berbau metalik di permukaan tanah yang tandus nan berdebu.
“Aku telah meminta Syfvie untuk memaksa para pengendali Yox' datang kemari. Tapi, jika bala bantuan itu belum datang hingga sepuluh menit ke depan setelah aku selesai membasmi keparat-keparat ini. Segera minta Tuan Qærk untuk melakukan operasi darurat antar sesama pengendali elemen.”
Tuthû bahkan masih berusaha memproses satu per satu kata-kata Nona Az.
Tetapi, agaknya gadis yang walau gemar menampilkan wajah masam tidak peduli apakah situasinya sesuai atau tidak, seakan-akan telah percaya betul, bahwa Tuthû ‘pasti’ bisa mengurus kepentingannya sendiri dan ‘tentu’ dengan cara yang mandiri.
Toh, ia jelas-jelas tadi sudah sedikit memberikan masukan ‘dermawan’-nya pada Tuthû.
Jadi, sekarang, tinggal bagaimana pemuda super jangkung dan dua makhluk yang tengah susah payah bertarung melawan para serigala dan anjing lapar ini yang mempraktikkannya.
GRAAA——“Heukk..!”
“Kembali dan beritahukan pada Tuan-mu, ‘Master Az telah tiba’, serta—” Nona Az mengeratkan cekikan tidak manusiawinya pada seekor Cù-Sìth yang tidak perlu banyak energi berhasil ia tangkap.
Ia lalu melepaskan cengkeramannya dari si makhluk berukuran tiga kali lebih besar ketimbang tubuh terlampau berlemak Sinse Iaonm. Cù-Sìth kurang beruntung itu dengan langkah pincang, sontak buru-buru kabur entah kemana.
Tuthû, Tuan Qærk, dan tentunya Sinse Iaonm refleks hanya bisa melontarkan pandangan kosong.
Mereka bertiga sedari tadi susah payah mengeluarkan peluh dan melupakan penat untuk menyelamatkan diri dari para tentara Dewa Lycan berengsek itu. Namun, benar kata buku berjudul ‘Hukum Semesta’ di laci berdebu kantor Pak Kepala Suku.
“Beda tingkat, beda kemampuan.” Horor Tuan Qærk.
“Berhenti melamun.” Ujar Nona Az tiba-tiba, memecah keheningan.
Jika Nona Az kini sedang sibuk merakit bulatan energi super besar berwarna ungu kehitaman, lain lagi dengan Tuthû yang sudah terduduk lemas dan bersitegang di ujung tanduk kesadaran.
Tuan Qærk yang seketika waspada dengan gerakan lihai sekaligus mencekam para Gwllygi dan Cù-Sìth, serta merta berlari menuju garis depan. Ia kemudian tanpa pikir panjang, kembali memunculkan empat raksasa batu.
“Sinse Iaonm, cepat buat segelnya!” Teriak Tuan Qærk.
Barit panjang berbentuk mega lingkaran, tidak lama tertampil di hamparan tanah gersang di sekeliling garis luar tempat Tuan Qærk dan prajurit batunya berdiri. Kobaran-kobaran api berukuran mini sepanjang jalur, agaknya sukses menghambat pergerakan tentara-tentara Dewa Lycan.
“Kerja bagus,” Celetuk Nona Az. “Aku pergi kalau begitu.”
BLARRRRR!!
GRRRRAAAA!!!
Kalau bukan karena segel Sinse Iaonm, pasti empat monster batu dan mereka ‘si tiga sekawan’ tidak akan bisa menghindar dari maut.
Tuthû yang meski tubuhnya kaku dan panca indranya hampir sepenuhnya lumpuh, bahkan masih bisa bergeming dan bergemetar ngeri ketika mendengar bunyi bedebum keras disambut raungan pilu para Gwllygi dan Cù-Sìth.
“Ini—” Pupil Sinse Iaonm spontan melebar kaget. “—masih belum berakhir?!”
“Gawat Nona Az,”
Sepi. Tidak ada tanggapan. Tuan Qærk menengok takut-takut ke arah tempat sang gadis jelita dengan gaun hitam seharusnya berada. Dan benar saja firasatnya. “Apa? Dimana Nona Az?!”
Sinse Iaonm dan Tuan Qærk sontak menelan ludahnya kasar. Mereka kira Nona Az belum pergi. Tapi, memang sepertinya mereka yang terlalu tidak konsentrasi. Nona Az ternyata sudah lama pamit undur diri dari TKP!
Tuan Qærk refleks menggigit keras-keras bibir bawahnya. Ia dengan gejolak ngeri yang membuncah kemudian berseru panik. “KITA TAMAT!”
Bunyi bedebam keras disambung jeritan sesak nan memekakkan telinga, mendadak menggema di udara. Langit gelap dan hawa panas mendidihkan kulit, tak lama ikut memerangkap jiwa raga ‘si tiga sekawan’.
Jarum jam pun seolah berhenti berdetak. Sinse Iaonm yang blak-blakan resah, memalingkan wajah ke sana-kemari. Ia sontak terperanjat seram ketika tidak sengaja menangkap Thutû yang entah sejak kapan telah pingsan.
“Tidak, SINSE!”
BAM!
.
.
To be continue...