
Lagi. Belum sempat aku, bahkan untuk memulai kalimat pembuka, bunyi ribut gesekan daun-daun yang terasa lumayan dekat dari lokasi kami berjaga dengan cepat mengalihkan fokus Duke Oakley dan aku. Kedua alis kuning keemasanku mengerut waswas.
“Duke? Duke Oakley?”
Aku memanggil Duke Oakley dengan amat sangat pelan dan tanpa sadar mulai menggeserkan diri, berniat duduk lebih dekat dengan Duke. Namun tidak ada tiga detik, sesuatu, entah apa itu, terasa sangat janggal dan... ‘Kosong?’
Tangan kananku semakin gencar meraba-raba tikar dan benar saja, Duke Oakley ternyata telah tidak lagi berada di sebelahku. ‘Gulp! K-kapan D-Duke perginya?’
“ARGHHH! A-apa? Apa yang kau lakukan?!”
Tenggorokanku mendadak gersang. Baru saja hendak berdiri, bilah tajam berkilat perak dengan temperatur minus menukik curam, tengah dengan manisnya bertengger di garis-garis perpotongan leherku dan tidak perlu aku repot-repot luas kali keliling menebak-nebak siapa pemiliknya.
Sebab amat jelas, dilihat walaupun secara samar-samar, kain merah marun tipis tadi masih setia melingkari buku-buku jemari kanan empunya, Duke Oakley.
“Eunghhh, D-Duke? T-tenanglah..!”
Nafasku tercekat. Tekanan pada leherku bukan main kencangnya. Hampir bodoh, aku juga berpikir pasti akan segera mati di tempat jika berusaha melawan. Namun, ketika suara bariton berdengung-dengung dan aku berani bertaruh, betul-betul amat sangat tidak familier menggempur gendang telingaku, di saat itu juga rona keingintahuanku membeludak.
“Milikku.”
“Apa?”
Aku menajamkan indra penglihatanku. Dengan suasana sekitar yang sungguh-sungguh kurang pencahayaan, mustahil sekali untuk bertindak tanpa pikir panjang.
Tapi mungkin, melalui insting bisa dijadikan pilihan dan berdasarkan tumpukan buku-buku tebal di dalam lemari besar di Trixy-Neths kalau aku beruntung, sebuah ungkapan,
‘Jangan menunggu kesempatan untuk datang menghampirimu, karena apa untungnya kesempatan menunggumu. Jadi ciptakan saja kesempatan, siapa tahu para Nõrns sedang lewat dan tidak sengaja melirikmu.’
Bisa jadi kali ini benang keberuntunganku tidak kusut. ‘Atau, tidak?’
“MILIKKU!!!”
BUGH! BAM!
“Huft... huft... Duke, tenanglah!”
Teriakan memekakkan pelaku penodongan refleks membuatku dengan beraninya menangkap ujung pedang, menangkis, lalu melayangkan tinju asal yang syukurnya, mampu menghentikan pergerakannya meski hanya untuk beberapa saat.
Bersamaan peluh meriang membasahi gerah sekujur tubuhku dan tambah tidak menyenangkan setelah melihat air muka figur dengan air muka berkilat-kilat marah beberapa meter di depanku.‘Ugh.. dari sisi manapun kulihat, jelas ini bukan Duke Oakley!’
“MILIKKU!”
Geraman dan ayunan mengerikan bilah tajam pedang menebas bertubi-tubi seringan bisikan angin. Sebisa mungkin aku menghindar dan sudah lebih dari sekiranya tiga menit.
‘Sial! Kalau begini terus, bukan hanya aku saja yang akan mati. Tsk! Apa yang harus kulakukan kalau begini?!’
“... Akh!”
Aku meringis pelan. Bukan karena luka tebasan, kulit robek dan berdarah, atau apa pun sebangsanya, melainkan akibat banyaknya bulir-bulir mini cairan bergaram dari pori-pori kepala, menembus paksa lebat bulu mata, lalu mengalir dan memasuki keji bola mataku.
Entah, aku harus gembira atau tidak. Sekelebat bayangan tiba-tiba memenuhi kotak memoriku.
‘Hei, Rashn. Aku tahu topik ini mungkin agak sensitif untuk dibahas, tapi agar kau tidak kaget saja ke depannya. Kau tahu, aku pernah mendengar dari seorang petinggi kerajaan tentang bagaimana kedua mata para Cyril akan bersinar emas atau perak, bahkan merah hingga hitam sesuai dengan emosi dan rasionalitas mereka. Jadi ehm.. apa kedua matamu pernah, meski hanya sebentar berubah emas atau semacamnya?’
Vir bertanya setelah berbicara sepanjang rel kereta api di barisan pegunungan Luzēa.
Aku mengingat-ingat sebentar, lalu menatap agak tidak nyaman kedua netra tajam Vir dari arah timurku berdiri. ‘Beberapa kali, menurut keterangan Horam dan Neelix kedua mataku pernah berubah perak keemasan maupun sebaliknya ketika... marah.’
‘Ketika marah? Bukan merah atau hitam?’ Vir mengerutkan kedua alisnya tebal.
‘Entahlah, tapi seingatku mereka berdua hanya menyebut perak keemasan atau emas keperakan.’ Aku menanggapi jujur.
‘I-itu... ehm, kau benar-benar menakjubkan Rashn! Aku tidak mungkin keliru soal ini, petinggi itu, Lixue Nam, dia bahkan berkata kalau mendiang dua Cyril sebelumnya baru bisa berhasil menampakkan warna perak apalagi emas setelah berlatih keras mengendalikan warna lainnya. Tapi kau, Rashn! Ah, maafkan aku. Aku hanya terlalu bersemangat.’ Vir menggaruk-garuk kepala belakangnya sangsi.
‘T-tidak apa.’
‘Dan aku tidak bermaksud untuk memaksamu atau semacamnya. Tapi dengan kemampuanmu sekarang, aku rasa kau harus mulai berlatih mengendalikan energi dalam tubuhmu, termasuk juga elemen warna pada matamu dan kau ingat kan apa yang kubilang tadi tentang bagaimana emosi dan rasionalitas mempengaruhi perubahan warna matamu?’
Aku mengangguk-angguk merespons bumbu-bumbu nasehat figur berambut botak atas dan kepang satu bawah, Vir.
‘Sepengetahuanku, warna emas dan perak adalah warna tertinggi. Itu artinya energi dan kemampuan keduanya adalah yang tertinggi pula. Bahkan, ehm.. Yang Mulia Zelîg pernah berkata kalau dengan mata emas, terutama, seorang Cyril tidak hanya memiliki kemampuan untuk menguasai satu elemen tingkat tinggi melainkan hingga enam elemen tingkat tinggi sekaligus. Cyril pertama, bahkan mampu melenyapkan habis energi hitam yang merasuki diri seseorang. Oh, tidak hanya manusia jika kuingat-ingat, seorang Fãei pun pernah dan...’
“Ugh!”
Lamunan panjangku terpotong sebelum final. Aku meradang beberapa detik, melihat tentara berjubah merah merembes kuyup lengan baju kiriku dan tidak butuh waktu lama, hingga nyeri, sesak dan pening menginvasi setengah populasi kesadaranku.
‘Sial! Tidak ada waktu lagi. Masa bodoh, bagaimana cara dan prosedur tepatnya. Tapi untuk sekarang, aku akan tetap mencoba!’
.
.
Bersambung...