RASHN

RASHN
Bab #27



“Oww... oww!”


“Tahan sedikit. Kalau tidak langsung diobati, kau tahu kan apa yang akan terjadi nantinya?”


Seorang wanita berambut hijau lumut dengan panjang sebahu meringis perih setiap kali buntalan kecil kapas dengan tetesan obat merah menyentuh kulit bahu, telapak tangan dan lututnya.


Alisnya berkedut-kedut tidak nyaman. Ingin sekali rasanya ia kabur, tetapi nyeri dan perkataan ambigu sosok berkacamata bulat, berlensa tebal serupa tutup kantong air mineral besar, meski setelah bertahun-tahun lamanya masih terus saja terngiang-ngiang menakutkan.


Tidak tahu sebenarnya benar atau tidak. Namun, daripada ia harus mengambil risiko lebih buruk nantinya, lebih baik dan lebih aman untuk ikuti saja apa kata pria bulat itu, benar kan?


“Eunghhh... apa masih lama?”


Gerakan penjepit besi kecil di genggaman pria tua berwajah seram mirip burung hantu terhenti. Ia tersenyum dan kemudian tanpa disangka-sangka si gadis bermata hijau kekuningan, beranjak dari duduknya sembari membawa nampan perak berisikan berbagai macam peralatan tajam juga tumpul berbahan aluminium, bermacam bubuk dan cairan berbau tidak mengenakkan hingga kapas beserta benang dan perkakas menjahit, lalu berjalan menuju lemari etalase berkaca sedikit buram di ujung ruangan dekat pintu keluar.


‘Apa ini tandanya sudah selesai? Tidak ada sesi jahit-menjahit dan semacamnya, kan?!’


“Oke. Kali ini tidak ada yang perlu dijahit, tapi bahumu masih perlu diperban.”


“Serius?”


Figur berperawakan kurus pendek dan berkulit hijau kusam di atas ranjang kapuk dan seprai putih gading yang agak kurang layak dijadikan sebagai bagian dari instrumen kesehatan, berbinar-binar girang.


Sedangkan pria berjas putih panjang dengan tanpa pamit, telah lebih dulu melangkah keluar melewati pintu tripleks geser yang mulai mengalami pengeroposan tingkat gawat akibat melebarnya sarang-sarang milik koloni pemakan kayu, rayap.


Suasana lalu hening untuk beberapa saat, sampai bunyi ribut dari balik jendela besar dengan banyak lakban Rusfet dan selotip hijau besar bergoyang-goyang tidak sabaran.


KLAK!


“Putri!”


Grendel kunci jendela yang memang sudah tidak lagi dapat menutup rapat, tiba-tiba terbuka. Seorang wanita berkulit seputih salju dengan sayap berbulu hitam besar seperti sayap burung gagak raksasa meloncat kilat melewati ranjang di bawahnya.


Rambut merah menyalanya mengibas sangat kencang dan hampir saja menampar wajah sosok mungil yang malah dengan bodohnya tidak sama sekali menghindar, dan tetap duduk termangu kesenangan memperhatikan hujan helaian bulu-bulu halus miliknya rontok, bertebaran ringkas bebas di udara, kemudian terbaring indah mengisi lantai kayu Betula ruangan berukuran betul-betul kurang dari ukuran optimal kamar instalasi kesehatan yang dianjurkan, di bawah 10 x 10 kaki.


“Berhenti memanggilku putri, Syfvie! Dan ada apa dengan dirimu? Apa kau terluka?”


“Heungghhh, Putri!”


Mata merahnya bersinar kesal sembari jemari lentik berkuku panjangnya menoyor pelan dahi gadis pendek di depannya. Kedua netranya lalu beralih menatap jengah luka robek pada bahu lawan bicaranya.


Seingatnya, belum ada tiga minggu semenjak kunjungan terakhirnya ke tempat terpencil ini dan gadis bertelinga runcing itu sudah kembali terluka. Meski tidak tahu, benar atau tidak, sesuatu sepertinya telah terjadi.


Bukan maksudnya untuk berpikiran berlebihan atau apa. Namun, sepanjang perjalanannya melewati hutan ilusi sedini hari tadi hingga menjejaki gerbang desa, aroma asing yang anehnya tidak menguarkan rona gelap dan malah menenangkan, tidaklah termasuk dalam daftar hal-hal biasa dan bisa dihiraukannya begitu saja.


“Salahmu sendiri! Sudah aku bilang jangan pergi ke sana. Tapi hm, kau berhasil lolos lebih cepat dari biasanya? Lukamu juga tidak separah kemarin-kemarin.”


Yang dipanggil Putri berucap tanpa filter. Kedua lengannya menyilang di depan dada sambil meneliti dari atas ke bawah kulit perempuan bernama Syvfie yang tengah mempoutkan bibirnya sok imut sembari kelingking kiri dan kanannya sibuk saling tekan-menekan, mendengarkan tidak jelas, apakah ucapan gadis berpostur tinggi langsing barusan adalah bagian dari isi naskah ceramah, sekedar ejekan atau apalah itu namanya.


Telunjuk kanan gadis berbalut gaun hitam sepaha, menusuk-nusuk iseng pipi Syfvie dengan raut muka datar.


Gendang telinganya diam-diam menunggu antusias kalimat yang akan dilontarkan makhluk berkarakteristik luar sangat berbeda dengan peri-peri hutan umumnya, apalagi manusia biasa lagi lemah di luaran sana.


“Ih, itu karena...”


“Nona! Selamat pagi! Bagaimana kabarmu?”


Seruan riang penuh bunga-bunga merah muda terdengar dari sosok bertubuh bulat dengan jemari gempalnya membawa segulungan perban.


Sementara figur yang kali ini dipanggil Nona, berhenti mengerutkan keningnya dan menengok tidak terlalu tertarik menatap makhluk campuran antara bangsa manusia utara dan burung hantu elang dari meridian utama belahan bumi timur, beriris mata oranye dengan ciri khas jumbai atas telinga berbintik-bintik kehitaman gelap dan kuning kecokelatan itu melangkah kian cepat menghampiri dirinya dan Syfvie.


“Oh, pagi. Tidak ada yang spesial, hanya semakin suram dan membosankan tiap harinya.”


Syfvie meringis pelan saat bahu dengan tiga luka baret panjangnya ditarik paksa jemari keriput sosok pemilik ruangan sumpek obat-obatan dan bukan main, berdebu.


Sementara potret rupawan di sebelahnya melirik tidak suka, tetapi bukan. Bukan karena simpatinya pada Syvfie, melainkan kesempatan untuk mendengarkan penjelasan Syfvie itu jadi harus tertunda dan lebih menyebalkan sebab dia tidak tahu sampai kapan waktu penundaannya akan berakhir.


“Oh, benarkah? Apa ada sesuatu yang terjadi?”


Pria berambut kuning tua kecokelatan dengan banyak uban yang mencuat-cuat kontras dari potongan pendek rambutnya berjalan menuju wastafel tersembunyi di balik tirai biru kebesaran dekat etalase.


Agak membingungkan memang pada awalnya. Tapi lama-kelamaan para pengunjung berlabelkan pasien, pesakit dan seterusnya itu, akhirnya mengerti juga dengan niat juru tabib satu-satunya desa mereka ketika sudah dua tiga kali datang sekedar berkonsultasi, berobat, membeli pil, cairan dan atau bubuk obat-obatan hingga melakukan persalinan, ketika bertanya-tanya dan betul-betul bertanya di mana lokasi keran tempat cuci tangan berada.


‘Aku hanya ingin menghemat sumber air kita, tidak ada maksud lain. Sumpah?’


Kira-kira begitu katanya juga, saat gadis dengan rambut hitam panjang berombak itu tersasar di hutan ilusi dan untuk kali pertamanya memasuki bangunan tua paling dekat dengan sumber mata air, sekitar mungkin, tujuh atau delapan tahun yang lalu.


“Tidak tahu juga. Mungkin karena Yang Mulia akhir-akhir ini sedang banyak pikiran atau entahlah.”


“Hm, begitu.”


Manusia jenis hybrid — spesies istimewa hasil peranakan antara hewan dan manusia atau sebaliknya — nokturnal, berprofesi tabib yang habis mencuci, kemudian mengelap tangannya pada handuk ungu berserabut jelek yang tergantung pada paku kecil di dinding dekat pintu keluar, mengangguk-angguk paham.


“Oh ya, Syfvie. Bagaimana tadi kau bisa...”


“Sinse Iaonm!!! P-Putri?!”


.


.


Bersambung...