RASHN

RASHN
Bab #56



Gerakan penjepit besi kecil di genggaman pria tua berwajah seram mirip burung hantu terhenti. Ia tersenyum dan kemudian tanpa di sangka-sangka si gadis bermata hijau kekuningan, beranjak dari duduknya sembari membawa nampan perak berisikan berbagai macam peralatan tajam juga tumpul berbahan aluminium, bermacam bubuk dan cairan berbau tidak mengenakkan hingga kapas beserta benang dan perkakas menjahit, lalu berjalan menuju lemari etalase berkaca sedikit buram di ujung ruangan dekat pintu keluar. ‘Apa ini tandanya sudah selesai? Tidak ada sesi jahit-menjahit dan semacamnya, kan?!’


“Oke. Kali ini tidak ada yang perlu di jahit, tapi bahumu masih perlu di perban.”


“Serius?”


Figur berperawakan kurus pendek dan berkulit hijau kusam di atas ranjang kapuk dan seprai putih gading yang agak kurang layak di jadikan sebagai bagian dari instrumen kesehatan, berbinar-binar girang. Sedangkan pria berjas putih panjang dengan tanpa pamit, telah lebih dulu melangkah keluar melewati pintu tripleks geser yang mulai mengalami pengeroposan tingkat gawat akibat melebarnya sarang-sarang milik koloni pemakan kayu, rayap.


Suasana lalu hening untuk beberapa saat, sampai bunyi ribut dari balik jendela besar dengan banyak lakban Rusfet dan selotip hijau besar bergoyang-goyang tidak sabaran.


KLAK!


“Putri!”


Grendel kunci jendela yang memang sudah tidak lagi dapat menutup rapat, tiba-tiba terbuka. Seorang wanita berkulit seputih salju dengan sayap berbulu hitam besar seperti sayap burung gagak raksasa meloncat kilat melewati ranjang di bawahnya. Rambut merah menyalanya mengibas sangat kencang dan hampir saja menampar wajah sosok mungil yang malah dengan bodohnya tidak sama sekali menghindar, dan tetap duduk termangu kesenangan memperhatikan hujan helaian bulu-bulu halus miliknya rontok, bertebaran ringkas bebas di udara, kemudian terbaring indah mengisi lantai kayu Betula ruangan berukuran betul-betul kurang dari ukuran optimal kamar instalasi kesehatan yang di anjurkan, di bawah 10 x 10 kaki.


“Berhenti memanggilku putri, Syfvie! Dan ada apa dengan dirimu? Apa kau terluka?”


Mata merahnya bersinar kesal sembari jemari lentik berkuku panjangnya menoyor pelan dahi gadis pendek di depannya. Kedua netranya lalu beralih menatap jengah luka robek pada bahu lawan bicaranya. Seingatnya, belum ada tiga minggu semenjak kunjungan terakhirnya ke tempat terpencil ini dan gadis bertelinga runcing itu sudah kembali terluka. Meski tidak tahu, benar atau tidak, sesuatu sepertinya telah terjadi.


Bukan maksudnya untuk berpikiran berlebihan atau apa. Namun, sepanjang perjalanannya melewati hutan ilusi sedini hari tadi hingga menjejaki gerbang desa, aroma asing yang anehnya tidak menguarkan rona gelap dan malah menenangkan, tidaklah termasuk dalam daftar hal-hal bisa dan biasa di hiraukannya begitu saja.


“Salahmu sendiri! Sudah aku bilang jangan pergi ke sana. Tapi hm, kau berhasil lolos lebih cepat dari biasanya? Lukamu juga tidak separah kemarin-kemarin.”


Yang di panggil Putri berucap tanpa filter. Kedua lengannya menyilang di depan dada sambil meneliti dari atas ke bawah kulit perempuan bernama Syvfie yang tengah mempoutkan bibirnya sok imut sembari kelingking kiri dan kanannya sibuk saling tekan-menekan, mendengarkan tidak jelas, apakah ucapan gadis berpostur tinggi langsing barusan adalah bagian dari isi naskah ceramah, sekedar ejekan atau apalah itu namanya.


“Cepat katakan padaku, apa trikmu kali ini, hm?”


.


.


To be continue...