
“Kan, kau berbohong! Bagaimana mungkin ada emas di tempat becek, berlumpur, dan menjijikan seperti ini!”
Risau dan kegalauanku mendadak lenyap, berganti dengan rasa kesal membumbung tinggi mendengar kata ‘menjijikkan’ keluar dari mulut bersuara cempreng memekakkan sekitar sepuluh meter jaraknya dari eksistensiku tinggal.
Jika tubuhku tidak kaku dan mati rasa seperti sekarang, pasti sudah kudatangi dan balik kumaki-maki dia.
Meski jujur, otak kanan serta kiri di dalam tempurung kepalaku sebenarnya telah sejak bermenit-menit lalu asik bermonolog geram, melemparkan bermacam-macam sumpah serapah ini dan itu.
‘Sialan! Kau pikir kau siapa?! Menjijikkan katamu! Mari kita lihat siapa pecundang ini, hm! Cepat kemari dan bersiap-siaplah menerima bogemanku! Kubilang cepat! Kemari, kalian! Dasar...’
“Sudah, sudah. Berhenti bertengkar, akan lebih baik kalau kita berpencar dan nanti kalau...”
“Baiklah, aku akan mencari di sana! Dan kau ke sebelah satunya!”
Monolog internalku semakin ramai ketika kembali mendengarkan kalimat sok memerintah dari si makhluk bersuara jelek itu. Aku kemudian dengan mata memejam sempurna dan agak dinatural-naturalkan, menarik nafas selembut mungkin.
Tidak tahu akan berhasil atau tidak, apakah dia atau bukan, aku sudah berencana nanti akan tiba-tiba bangun saat dia sampai, layaknya orang yang baru mati suri dan mengagetkannya, sekaget-kagetnya hingga kedua bola matanya membelalak luas, sangat luas sampai-sampai kalau bisa, mencuat keluar dan kabur dari sarang alih-alih rongga matanya.
KRESEK...
‘Ayo, cepat kemari! Hm.. aku menunggumu, cepat!’
KRAK! KRAK!
BRUK!
Aku hampir saja meringis, menjerit kencang dan lalu menggagalkan rencanaku yang bahkan belum sempat dimulai akibat timpukan keras dari ranting kayu berukuran lumayan besar setelah sebelumnya — si ranting — membunyikan denging krak keduanya, baru meluncur, menimpa lenganku yang memang tengah dalam kondisi sangat kurang beruntung — robek, terluka parah bekas gigitan serigala licik majenun semalam — dan tentunya belum sekadar minimal sekali, dibersihkan dengan air bersih, syukur-syukur cairan alkohol, apalagi penanganan runyam lainnya, seperti jahit-menjahit, diberi preskripsi obat atau pemulihan lanjutan apalah itu namanya.
“Hei, Tuthû! Apa ini yang kau maksud?”
Organ pemompa darah bersih dan kotorku, pemilik dua serambi dan dua bilik, mendadak berdebar-debar tidak karuan. Sengatan-sengatan ringan dan rasa geli pada perutku seolah ribuan serangga bersayap cantik, bernama kupu-kupu, tengah dengan bebasnya berterbangan.
Mengitari ke sana-kemari sambil saling bercanda dan mungkin menggoda satu sama lain, ikut meramaikan abnormalitasku ketika mendengar suara merdu seseorang yang sedikit dari penglihatan kedua iris tidak identikku, berkulit seputih porselen, rambut hitam bergelombang indah dan kedua mata yang hampir membuatku refleks terlonjak bangun.
‘B-bidadari? M-malaikat? Tapi tunggu, k-kenapa warna matanya indah sekali? Begitu merah seperti biji buah delima, eh, bukan. Seperti... hm, d-darah?’
“O-oh, benar! Rambutnya berwarna emas!”
Seorang yang kutebak adalah Tuthû atau Thuti, entahlah apa panggilan tepatnya, namun, seingat benakku adalah berawalan huruf T itu berlari cepat ke arah, aku dan sang malaikat berada.
Deru nafasnya sedu-sedan diiringi nafas seseorang dengan wujud sangat aneh, semacam burung atau apa, aku juga tidak tahu.
“Eh? Tunggu, tunggu... Apa kau bilang? Rambut? Lalu di mana kantong emasnya?!”
Suara makhluk cempreng yang sempat kulupakan eksistensinya, akhirnya kembali terdengar juga. Langkah kaki kurus dan... ‘hijau?’ Ralat, mungkin aku salah lihat.
“Aku tidak pernah bilang ada kantong emas, Syfvie!”
Figur berawalan huruf T berkata penuh penekanan, menyanggahi ucapan haus tanda seru dari sosok yang kian dekat kian terlihat berperawakan serupa dengan anak-anak ingusan plus naif dari Trixy-Neths.
‘Tsk! Dasar bocah menyebalkan.’
“Apa dia sudah mati?”
Aku sontak terkejut bukan main. Bidadari dan atau malaikatku ini ternyata tidak seperti yang kuharapkan.
Mungkin, kalau sejak awal sengatan asing tadi tidak pernah ada, pasti aku sudah sadar, bagaimana iris merah darahnya teramat jelas menunjukkan identitas resmi sebagai bukan bagian dari malaikat rahmat, melainkan malaikat hitam, sang penagih tenggat kematian dari dunia bawah alias neraka yang sudah siap dengan kapak teracung mengerikan di perbatasan leherku.
‘A-apa? Apa katanya?! Bukankah seharusnya dia bertanya, apa aku masih hidup! Bidadari, apa aku tidak salah dengar? Hm, katakan aku salah dengar ya, kan? Salah dengar, karena telingaku.. gendang telinga dan rumah siputku...’
“Nafasnya masih ada. Denyut nadinya juga.”
Pergelangan tangan kananku diangkat paksa oleh seseorang yang benar saja, sepertinya bukan manusia tapi tidak juga bisa dikatakan hewan karena dia berbicara layaknya manusia normal pada umumnya.
‘I-ini menyakitkan. D-dan siapa makhluk aneh ini? Apa dia jangan-jangan monster? Tapi kalau begitu, itu artinya mereka semua, termasuk bidadariku, malaikatku adalah... monster?’
“Eh? I-ini...”
Sosok bersuara tidak mengenakkan yang dari sudut kecil mataku ternyata benar-benar berkulit hijau tiba-tiba bergumam terbata-bata sembari jemari berkuku panjang dan mengerikannya menggores ringan pipi kananku.
“Ada apa? Kenapa kau berhenti? Apa kau mengenalnya, Syfvie?”
Figur kerempeng itu, Syfvie, tidak tahu karena apa, lantas melompat mundur. Kedua matanya menatap nyalang tubuh malangku di bawah telapak kaki telanjangnya.
Sementara bidadari rupawan yang barusan bertanya dan baru saja kusadari memiliki sesuatu berwarna hitam, berbulu halus megah, di balik punggung sempitnya yang tidak salah lagi adalah ‘..s-sayap?’ melempar pertanyaan dengan nada begitu mengintimidasi ke arah Syfvie.
“Dia yang telah...”
Tidak jelas perkataan macam apa yang setelahnya diocehkan oleh makhluk bernama, Syfvie itu. Rasa pening akibat serangan panas terik mentari dan aktivitas berendam terlampau lamaku, sepertinya mulai kembali membubuhkan suntikan-suntikan marah meradang kepada empunya, aku.
Semua kemudian mendadak menjadi berkali-kali lipat menggelap. Kelima panca indraku, terutama telinga dan serabut saraf perasaku sontak kalah dan pasrah, lepas tangan sepenuhnya dari tanggung jawab dan kewajiban mereka mengoptimalkan kerja tubuh pemiliknya.
‘Si-al! Ja-ng-an la-gi...’
.
.
Bersambung...