RASHN

RASHN
Bab #26



Aku melirik dari sudut-sudut mataku. Euforia tertahanku kian meronta-ronta semangat, mendapati sekumpulan besar bayangan hitam dengan titik-titik merah secepat rambatan cahaya, melesat memburuku dari balik sesak batang, ranting dan semak-semak tetumbuhan sembari silih berganti menyerukan dengking membahananya.


Aku dengan instingtif pendek, berdiri dan tanpa sempat memedulikan gering pun linu pada bucu-bucu tulangku, beranjak meluncur dengan sedikit incang-incut menuju tempat yang kuyakini kemungkinan besarnya sebagai tepi akhir hutan. ‘Atau tepi jurang, mungkin...’


“Sedikit lagi dan aku akan... aku...”


BUGH!


BAM!


“Heuk! Euunghhhh....”


Aku melenguh panjang. Sensasi nyeri setelah tertubruk, terpelanting tinggi dan lalu menghantam keras permukaan tidak mulus tumpukan bebatuan gemuk, berkat kedermawanan melimpah salah seekor serigala menerjang tubuh seramping skeletonku, hingga hampir saja, membuat aku terkapar tidak sadarkan diri.


Namun berkat lolongan gembira kawan-kawan sejawat tuan serigala tadi, pandangan super buramku perlahan-lahan jernih kembali seperti normalnya. Percikan nyala api di antara relung-relung dadaku tanpa kuminta seketika membara hebat, menjadikan cengkraman pada gagang pedang yang syukurnya masih setia bergelung di balik garis-garis telapak dan kelima jemari kananku ikut mengerat kencang.


“Sial..! Serigala keparat! Aku pasti akan menghabisi kalian semuaaaa!!!”


Deretan gigi-gigi gerahamku bergemelatuk geram menyambut kebangkitan empunya, aku, Rashn. Kawanan serigala lapar dengan iris merah bersinar licik satu persatu melesak ganas ke arahku, liur kental nan menjijikkan mereka menjelejeh meninggalkan bekas titik-titik berbentuk bundaran-bundaran kecil hingga besar di atas permukaan landai bebatuan gamping berselimutkan milyaran pasir halus.


BAM!


‘Satu, dua...’


BUGH!


‘Tiga...’


BAM!


‘Empat, enam... tujuh, delapan...’


KRAK!


Aku berlari kian dekat sembari mengayunkan bilah pedang dan sesekali, jika sangat terdesak melayangkan bogem mentah maupun tendangan acak kepada buas kawanan serigala sedeng di depanku.


Tidak terhitung berapa kali sudah aku tersenyum bahkan terkekeh garing, memikirkan bagaimana anehnya keberanian yang lama ciut, akhirnya mengembang juga meski memang agak bantet.


Namun, bagaikan donat kentang dan atau kerupuk udang di tengah-tengah, kadang di sebelah kiri atau kanan lautan minyak di sisi dalam panci penggorengan, gelora spiritku mendidih dan meletup-letup membantai habis para predator berhati iblis, monster, keparat dan banyak panggilan jelek lainnya; merujuk pada bagaimana busuk plus liarnya mereka — kawanan serigala — mengepung dan menyerangku tanpa jeda dari setiap arah mata angin.


Walau demikian, sebagai manusia waras dan sehat, lama-lama pergerakan otot-ototku mulai melambat tanpa notifikasi dan beberapa kali diinvasi kesemutan serta mati rasa karena terlalu lama aktif terdiam di satu-dua posisi.


‘Sial! Mereka tidak ada habisnya dan lagi, kalau terus-menerus begini, bisa-bisa nasibku menjadi santapan serigala majenun itu bukanlah karena kemenangan mereka yang berhasil menerkamku, melainkan berkat rasionalitasku yang lebih dulu hanyut ditelan penat! Akhhh! Bagaimana ini?!’


KLANG!


“Ugh! Heunghhh...”


‘Ah, apa aku akan mati? Dengan transaksi kosong seperti ini? Ugh, siapa pun! Tolonglah! Aku belum siap melihat rupa kedua orang tuaku dan... dan bagaimana dengan Bibi Marcy? Horam, Neelix dan lainnya?! Hah, baiklah... sebagai antisipasi awal, aku do’akan semoga kalian semua memiliki umur panjang dan jauh dari penyakit, bakteri dan jamur. Dan...’


Aku menghembuskan nafas lesu. Meratapi hamparan langit suram di atasku sembari dengan pasrahnya meresapi lamat-lamat sengatan-sengatan remai pada saraf-saraf lengan kananku.


Rembesan cairan merah sedikit demi sedikit membasahi pakaian kucelku, begitu kontras dengan keadaan tuan-nyonya serigala, mau sebanyak apa pun goresan dan luka di tebaran bulu-bulu gelap mereka, tidak ada satu titik pun yang berhasil menghentikan hasrat terang-terangan mereka untuk melahapku.


KLANG!


“Ini...”


Sangat konyol ternyata, ketika melamunkan kembali buah imajinasi tak berujung dari jalinan ruwet lemak-lemak dalam tempurung kepalaku, yang masih sempat-sempatnya beberapa waktu lalu membayangkan bagaimana para binatang tidak berperikemanusiaan dan bahkan masih agak dipertanyakan tentang keperihewanan mereka — nanti, tidak tahu kapan tepatnya — akan saling memperebutkan daging-daging kelelahanku.


Tapi pikiran bodoh itu serta merta lenyap, saat kedua netra letihku melirik salah seekor serigala berukuran paling besar dan mengintimidasi daripada serigala lainnya, tiba-tiba melemparkan bilah pedang yang kemudian jatuh dan mengecupi kasar ujung sepatu boots-ku.


“Haa... kalian tahu? Aku sebenarnya sudah tidak kuat lagi, tapi baiklah...”


Kedua iris hazel dan biru safirku menatap sebentar sinar merah dari serigala mayor di depanku. Lolongan dan deru nafas berekstasi mereka menguar luas; mengontaminasi pasokan oksigen terbatas di bawah permadani langit mendung.


Aku memejam untuk beberapa saat, namun belum ada tiga detik berlalu, sebuah benturan teramat sangat menyakitkan menghantam tubuh kurang keseimbanganku sekali hentak.


“Haha... kalian tidak berubah. Naluri hewan tidak akan bisa bertransformasi menjadi naluri manusia, bukan?”


KRAK!


Jantungku berdebar-debar ramai, tetapi tidak tahu mengapa dan bagaimana. Rasa ketidaknyamanan itu sama sekali tidak membuatku berat hati maupun terganggu.


Seolah kabut tebal berlapis-lapis yang mengelilingi tubuhku saat ini hanyalah kolam berisikan busa-busa relaksasi dari batangan sabun mahal dengan wewangian bunga mawar, teh atau cokelat dan beragam jenis lainnya, milik bangsawan-bangsawan, saudagar kaya dan atau para nona berkulit kenyal dari pemandian air panas di pusat kota Achyls.


“Selamat tinggal, kawan dan kalian tahu, aku ingin sekali ke pemandian air panas. Tapi, tenang saja. Semoga kalian panjang umur, bung!”


Aku terkekeh hambar dengan jari-jemari sibuk melambai-lambai bodoh. Agak miris sejujurnya, dengan awal kehidupanku di alam baka yang malah dimulai karena kematian jatuh dari tebing. Memang tidak terlalu buruk juga, jika dipikir-pikir untuk kedua dan kesekian kalinya.


‘Ya, setidaknya aku tidak harus repot-repot mencari, mengumpulkan, apalagi menata satu-persatu tulang demi tulang, syaraf demi syaraf dan seterusnya. Tapi, jika iya, mungkin sensasinya akan terasa seperti sedang bermain permainan jigsaw. Bagian demi bagian, letakkan di sini lalu di situ, di sana selanjutnya di...’


BRUK! BAM!


KRAK!


“Me-nye-bal-ka-n...”


.


.


Bersambung...