RASHN

RASHN
Bab #30



“Wahhh, aslinya dia tampan sekali!”


Seorang makhluk berperawakan serba hijau, memangku tangannya riang di pinggiran ranjang setengah bobrok di sudut ruangan. Kedua matanya berbinar-binar kagum meneliti setiap sudut wajah tirus dari sosok penuh perban dan dua belas jahitan rapi pada lengan sebelah kanannya.


Sesekali rambut berwarna keemasan milik figur rupawan itu dimainkan dan ditiup-tiup iseng oleh si makhluk hijau kurus kerempeng bergaun koyak sepaha.


“S-Syfvie, jangan berisik. Kau bisa membangunkannya.”


“Kau mengganggu saja, Tuthû!”


Tuthû, sosok bertubuh jangkung dan terlalu kurus untuk ukuran orang yang hampir melewati tinggi pintu, sudah kali ke lima menepis takut-takut jemari berkuku panjang makhluk berambut hijau kusut di sebelahnya, Syfvie.


Bibir bawahnya ia gigit-gigit tidak nyaman. Khawatir sekali kalau-kalau makhluk berspesies manusia yang kini juga tengah menjabat sebagai pasien dadakan itu, tiba-tiba saja bangun dan kabur bahkan sebelum ia sempat memperkenalkan sekedar namanya, karena merasa terganggu, kesal, dan syok melihat rupa tidak biasa mereka.


“Hm, apa dia seorang pangeran?”


Figur dengan jas putih ala-ala dokter mahal dari rumah sakit ibukota berjalan masuk dengan nampan berisikan secangkir teh hijau dan semangkuk kecil bubuk kental berwarna merah keunguan yang sudah dicampur dan diaduk rata dengan air.


Rantai pada kedua ujung kacamatanya bergoyang-goyang saat punggung lebarnya menunduk dalam ke arah laci meja kayu di depan etalase kaca dan hampir saja menumpahkan isi nampan plastik di genggaman jemari berbulu kecokelatannya, kalau tidak karena gerakan cepat seorang gadis berambut hitam pekat yang sontak mengambil paksa alas berbentuk persegi itu dan lalu meletakkannya dengan benar di tengah-tengah meja.


“Aku tidak tahu. Tapi kemarin, ada sekitar empat pria berbadan kekar yang mengawalnya.”


Netra bulat Syfvie menatap kosong langit-langit beratapkan tripleks bernuansa krem dengan tempelan kabel-kabel putih memanjang dari sudut kiri dinding ke titik tengah diagonal persegi atap dan menyisakan sekitar lima belas senti panjang kabel yang membuat kondisi bohlam jadi menggantung keterlaluan tidak sehatnya di udara.


“Di mana?” Pria berumur hampir genap satu abad dari balik etalase kaca kembali melemparkan pertanyaan kepada Syfvie.


“Itu, di hutan ilusi kubilang!” Gadis bermata merah berkilau di dekat pintu mengorek-ngorek lubang telinga kirinya malas ketika mendengar teriakan cempreng Syfvie.


Sementara Tuthû dengan bibir gemetarnya melirik sosok setinggi tujuh puluh satu inci yang masih tetap pulas, meski baru saja beberapa detik lalu, Syfvie, dengan seenaknya menampar dan sedikit menggores kulit putih, lengan bawahnya.


“Hm, luka ini, sepertinya dia habis menjadi buronan para serigala lapar itu dan masih beruntung hanya terkena satu gigitan.”


Pria berperawakan gemuk keluar dari belakang etalase dan mengangguk-angguk mengiyakan komentar kurang simpati gadis berkulit sebening butiran salju yang entah sejak kapan, sudah berdiri sangat dekat dengan pasien malangnya.


Perlahan, jemari lentik gadis berhidung mancung itu meraba tipis lengan tertutupi perban tebal hasil karya pemilik klinik dan satu-satunya tabib paling telaten dari yang pernah ditemuinya selama hampir enam belas tahun hidupnya.


‘Pekerjaannya tidak pernah buruk. Selalu dan sama rapinya seperti bertahun-tahun lalu.’


“W-wah, kalau begitu dia pasti orang yang sakti bukan?!”


Tuthû semakin bersemangat, membayangkan bagaimana, tuan dan mungkin, calon teman barunya itu, ternyata memang benar adalah seorang berkekuatan super. Pasti akan sangat hebat dan menakjubkan untuk dikisahkan pada Nona Riedl.


“Ck! Berhenti memanggilku Putri! Dan aku akan datang kalau memang tidak ada halangan.”


Gadis bertubuh langsing dalam balutan gaun hitam berumbai mahalnya, menggeplak cukup kencang kepala Syfvie.


Tuthû ikut meringis perih dan agak panas dingin, menangkap nada bicara berkali-kali lipat super dingin dari normal — si gadis rupawan — setiap kali dirinya itu dipanggil dengan sebutan Putri. Tidak jelas apa masalahnya, hanya saja dia selalu bilang berhenti, jangan dan semacamnya sebagai sirine keras bentuk ketidaksukaannya.


“Oh, jangan begitu. Putri harus menyempatkan diri untuk datang, k-kalau tidak...” Syfvie melempar tatapan super memelas.


“Baiklah, baiklah.”


Dengan tanpa ekspresi, gadis yang sudah teramat sangat jengah terus dipanggil Putri itu akhirnya mengangguk singkat. Kedua lengannya terlipat menyilang di depan dada dan lalu menghembuskan nafas kasar ketika Syfvie dengan tanpa aba-aba meloncat dan memeluknya erat. Sangat erat, sampai-sampai kedua paru-parunya sesak.


“Ngomong-ngomong Nona, apa kau sudah mengunjungi Weh?”


Sosok serupa burung hantu tak berparuh yang duduk di atas kursi putar bercelatuk iseng. Jari-jemari keriputnya sibuk mengelap maju mundur sebuah bilah pisau bergagang perak berukuran sebesar belati, namun tidak lebih tipis dari pisau bedah dengan penuh perasaan.


Tidak tahu pikiran macam apa yang tengah berputar di kepalanya, tetapi dari kedua mata merah berkilat milik gadis cantik di sudut ruangan, setipis senyum miring, teramat abu-abu dan bukan termasuk ke dalam daftar panjang hal-hal netral apalagi positif — menurut sudut pandangnya — sekilas terlukis pada wajah bulat makhluk hybrid berspesialisasi di bidang kesehatan itu.


“Nanti sebelum pulang aku akan berkunjung sebentar ke sana, tapi tidak ada sesuatu yang terjadi kan?”


Kedua netra beratapkan bulu-bulu hitam tebal dan lentik pada kelopak mata berbentuk hampir serupa kacang almond klasik dari perkebunan mahal para bangsawan di barat daya bumi milik si gadis bertubuh proposional, diam-diam menunggu antusias jawaban yang akan dilontarkan lawan bicaranya.


Sosok dalam setelan kemeja polos merah marun ketat, berjas putih melewati lutut dan mengenakan celana hitam katun yang agak kebesaran berpikir sejenak.


“Tidak ada, hanya aku dengar dari para Nymphē, beberapa hari terakhir ini Weh tiba-tiba bersemi lebat dan menguarkan aroma manisnya.”


Thutû menyimak serius sembari mengangguk-angguk setuju. “Itu pertanda bagus, bukan? Tapi memang ada yang aneh semenjak aku datang kemari. Hm, mungkin wewangian itu juga berasal dari Weh.”


Figur serupa burung hantu menggedikkan bahunya pelan mendengar gumaman singkat gadis bergaun hitam. Lain lagi dengan sang gadis yang malah semakin samar-samar mengerutkan dahinya. Tampak begitu tidak puas dengan deskripsi yang memang amat kurang relevan dari pria tua itu.


Suasana pun hening untuk beberapa saat, hingga Thutû dengan tiba-tiba berseru gagap saking membuncahnya ia, melihat gerakan kecil dari si pasien dadakan.


.


.


Bersambung...