RASHN

RASHN
Bab #25



Gerakan sendi-sendiku terhenti. Aku termangu beberapa saat. Menenggak air ludahku waswas sekaligus merasa agak deja vu dengan kata-kata ‘sinar merah’ yang barusan refleks aku gumamkan dan untuk kesekian kalinya, ingatan sececah ingatan terlintas di benak mungilku.


‘Rashn, ingat ini. Jangan memasuki terlalu dalam hutan dan jangan pula terlalu larut berada di hutan. Segerombolan serigala terkutuk akan menerkam dan mencabik-cabik habis dirimu. Kau dengar itu?! Oh, dan ingat, jika kau melihat sinar merah di kegelapan malam, di balik rerimbunan pepohonan maupun semak belukar, jangan ragu-ragu lagi untuk langsung kabur. Berlari sejauh yang kau bisa dari sinar merah itu. Aku tidak bercanda, sinar merah berkilau itu bisa jadi milik para serigala terkutuk. Mereka berperawakan besar, berwarna hitam pekat melebihi lautan tinta dan selalu lapar. Namun lebih buruk, karena mereka hanya akan memakan makhluk yang bertubrukan dengan iris merah mengerikan mereka, tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi itu yang dikatakan Tuan Hexer. Mengerti, Rashn!’


‘Ya, aku mengerti.’


Aku menjawab sembari mengangguk-angguk asal agak tidak tertarik dengan topik bahasan sekaligus nasehat berlebihan Tuan Queè kali ini, yang entahlah, malah kian jelas terdengar tidak hanya seperti larangan, melainkan paksaan untuk berhenti dan jangan lagi pergi bermain di hutan.


“S-sial! Ini benar-benar...”


Tanpa pikir panjang, aku berlari bagai kilat petir menyamperi Duke Oakley yang masih dengan nyamannya tidur menekuk miring membelakangiku dan kemudian menghiraukan sikap hormat apalagi dilembut-lembutkan; menarik kasar sebelah lengan berototnya, memapah dan agak menyeretnya memasuki mulut gua.


Tidak lupa, jemari sebelahku mencengkram erat gagang pedang yang kian basah dan licin akibat hujan peluh mendadak dari koloni pori-pori jaringan epidermisku.


Setelah beberapa menit penderitaanku menahan berat badan Duke Oakley, tikar bambu besar dipenuhi tiga orang pria berpostur tidak jauh beda antara satu sama lain dengan tidak terganggunya, sibuk mendengkur dan asyik menari-nari di dunia kapuk mereka masing-masing.


Aku dengan pinggang dan punggung yang rasa-rasanya hampir patah, lekas melempar begitu saja tubuh Duke Oakley di bagian kosong tikar, tempat di mana sebelumnya aku berbaring sekitar satu jam yang lalu.


“Ugh! Maafkan aku Duke Oakley. Tapi, tidak ada banyak waktu lagi dan malam masih panjang. Jadi... selamat tinggal untuk sekarang.”


...⚔⚔⚔...


‘Ini gila! Sumpah, ini benar-benar sudah tidak waras!’


Benakku menjerit-jerit tidak karuan, frustrasi sendiri dengan aksi menegangkan diriku saat ini. Roh di tubuhku rasanya sudah menguap entah ke mana, penat dan bau keringat menyengat yang menusuk-nusuk keji indra penciuman pun seperti tidak lagi layak dan penting untuk barang sedetik aku pikirkan.


Sudah hampir setengah jam mungkin aku berlari dengan bilah tajam telanjang pedang di genggamanku.


Setelah sebelumnya meletakkan Duke Oakley berbaring di dalam gua, para peri rasionalitas dan logika, jujur telah sempat beberapa kali mencegah dan mengancamku agar tetap tinggal di dalam gua. Masa bodoh katanya, dengan kumpulan sinar merah di antara rerimbunan tetumbuhan tadi.


‘Bisa jadi, hanya kunang-kunang merah atau mata Goshawk utara, burung perling kumbang, dan atau mata para tokek setan berekor daun.’


Namun, belum ada lima menit. Gema lolongan bersahut-sahut serigala lapar dan bunyi gesekkan ribut dedaunan yang kian menggila, tanpa banyak pikir lagi, aku malah dengan bodoh dan sok beraninya berlari keluar menuju mulut gua.


Tepat sesuai ketakutanku, segerombolan besar personil hewan karnivora beriris merah berkilat-kilat, berbulu lebih gelap daripada malam tanpa cahaya bulan dan bintang, berukuran setinggi 45 hingga 50 inci atau lebih dari seratus senti dengan rahang terbuka lebar, mempertontonkan taring superior, lidah panjang dan bekas merah darah di sekitar garis moncongnya yang jelas sekali masih begitu segar; melihat liur berwarna merah encer tengah asyik menetes-netes turun dari deretan gigi-gigi runcingnya dengan aroma metalik dan anyir memuakkan yang bahkan dari jarak terpaut sepuluh meter dari tempatku berdiri, tetap dapat tercium tajam.


“Hah.. hah... di mana aku sekarang?”


Aku mencengkram dadaku sesak. Netraku berkeliling menatap sekitar, di mana-mana hanya ada pepohonan. Lebih buruk, karena aku sendiri sampai tidak tahu dari mana, sebelah timur atau utara, barat atau selatan, arah kedatanganku tadi.


KRESEK...


KRESEK...


“ARGHHH!”


Jantungku hampir saja mencelos kabur gara-gara loncatan seekor ular kobra hitam sepanjang hampir satu setengah meter dari balik semak-semak berhiaskan buah-buahan merah di sebelah kiri jalan. Agak bersyukur sebenarnya, karena bukan seekor serigala terkutuk yang muncul.


Namun, tidak bisa juga dikatakan perkara bagus, sebab berkat teriakan melengkingku tadi, komplotan binatang bertubuh mayor itu kian menyalak-nyalak garang dan amat tidak lucu, karena di gendang telingaku malah terdengar seperti perdebatan riang mereka mengenai bagian mana dari tubuh kurus kerempeng, aku, mangsanya ini yang nanti akan mereka santap dan nikmati sebagai hidangan pencuci mulut atau kalau dewi fortuna masih sedikit mengasihaniku, mungkin, selaku sarapan dini hari mereka.


‘Ugh, sekujur badanku kaku. Serius.. aku benar-benar sudah tidak kuat la-gi...’


TAK!


BAM!


“Eungghhhhhh..!”


Aku melenguh panjang. Rasa kebas, perih, sekaligus nyeri secara berbarengan menggempur beringas luka baret dan robekan lumayan besar jaringan kulit pada tempurung lutut, siku kanan dan kedua telapak tanganku. Netraku beralih melirik kesal sekelompok kecil bebatuan mungil yang sudah berhamburan acak di belakangku.


‘Ugh, kerikil sialan! Kenapa kalian malah berada di sana hah?! Tapi tunggu, kerikil? Memangnya ada kerikil di dalam hutan lembab begini?!’


Kedua bola mataku membelalak lebar. Beberapa meter di depanku, sebuah tanah lapang tanpa banyak pepohonan, tanpa sumpek dan pengap berlebihan berbagai warna kehijauan muda-tua jutaan lembar spora berdaun spiral.


Dataran kosong material keras dan agak berpasir, diiringi latar belakang dendang irama deburan ombak dan tawa bebas pergerakan gas berbau asin.


Genangan air seketika menyembul serentak memenuhi kedua pelupuk mataku, bersamaan dengan sambaran perasaan membuncah ruah di dalam gumpalan kelenjar besar di bawah diafragma di sisi kanan atas tubuhku.


“I-ini...”


KRAK!


.


.


Bersambung...