RASHN

RASHN
Bab #24



“MILIKKU!”


Tidak terhitung lagi berapa kali sudah sosok pria dengan pedang teracung lurus beberapa meter dari jarakku berdiri, Duke Oakley, meneriakkan kalimat super singkat yang selalu sama dan baru sempat aku sadari pula, kalau kondisi kedua pupil pada bola matanya telah melebar luas, sampai-sampai tidak lagi menyisakan lapisan putih jaringan ikat atau sklera.


Aku membeku beberapa saat.


Namun, melihat ayunan menggila dari bilah tajam pedang berukuran kurang lebih hingga enam puluh senti di genggaman Duke yang seolah-olah tidak akan setitik pun berniat memberikan aku waktu barang satu detik untuk sekedar menarik nafas dengan damai dan tidak diburu-buru, serta merta membuatku seratus persen sadar dengan bahaya lebih buruk dan pastinya, berkali lipat akan teramat sangat mengerikan karena mereka diciptakan dengan kemampuan, ‘tidak dapat diprediksi.’


Di tambah karakter misterius dan pendirian mereka ketika melakukan tugas, hingga baik manusia, dewa-dewi kuno, serta Czar Maghna sekalipun tidak akan mampu memprovokasi, lebih lagi mencegah mereka untuk mundur dan tidak perlu panjang lebar sebenarnya dalam mendeskripsikan apalagi repot-repot menyebutkan satu persatu dari miliaran rupa maupun personalitas mereka, sebab sejak lahir mereka hanya dan akan memiliki satu nama yaitu, ‘kematian.’


“KEMBALIKAN MILIKKU!”


Rangkaian huruf-huruf penuh amarah dan kebencian, nampaknya kini telah sedikit demi sedikit menunjukkan kemajuannya dan bukannya aku sombong, tidak ingin ikut senang.


Namun itu artinya, periode masa kerja rodi dua paru-paruku akan menjadi semakin menipis dan jangan lupakan, rasa pusing berdentum-dentum di sekujur tempurung kepala tertutupi helaian rambut keemasanku tercinta.


‘Aku bisa mati konyol kalau begini terus.’


“MILIKKUUUU!!!”


Aku menutup kencang kedua daun telingaku. Jerit melengking-lengking dari bibir pucat Duke Oakley, atau lebih tepatnya, sosok yang tengah menguasai tubuh Duke, betul-betul menyakitkan dan belum ada tiga detik, tebasan pedangnya hampir saja mengenai pipi kananku, jikalau aku telat sedikit saja untuk meloncat mundur.


‘Sial! Tidak bisakah pergulatan tidak berujung ini berhenti? Jika, situasinya tidak selesai dalam lima menit ke depan... Ugh! Aku tidak sanggup membayangkannya dan pasti akan sangat menyedihkan kalau figur yang tiba-tiba dicap sebagai Czar Maghna terakhir, bahkan sebelum menjejakkan ujung ibu jari kakinya ke tanah Sëraphyn, ternyata malah telah lebih dulu tidak berdetak tak bernyawa. Gulp! Pastinya itu akan amat sangat menyebalkan dan tentunya... memalukan!!!’


“Eh? Eeeungghhh... tidak! Maafkan aku Duke, tapi tidak ada cara lain yang bisa kupikirkan dan aku juga tidak tahu apa ini akan berhasil atau tidak. Jadi sebelumnya, MAAFKAN AKUUU!”


BUGH!


“ARGH!!!”


Mendapati keadaanku yang tersudut, akhirnya dengan keberanian setipis angin aku menangkis bilah pedang, melayangkan pukulan telak mengenai pelipis kanannya, kemudian langsung melompat jauh melewatinya dan beruntung, untuk beberapa saat ia hanya berdiri linglung memunggungiku.


Segera aku pun berlari, meraih lengan kanannya, lalu memelintir tanpa resistensi ke belakang, meski selanjutnya, aku hampir tidak bisa bergerak karena aksi meronta-ronta hebatnya, namun tidak tahu ide dari mana, refleks aku menusukkan dua jemariku ke arah lekukan yang berada di antara tulang leher sebelah kanan dan kiri pada pangkal lehernya.


Benar saja, Duke Oakley, seketika berhenti melawan dan membeku di tempat.


“Mi-lik-ku.”


Aku yang sudah mengambil alih bilah pedangnya dengan agak kasar menjenggut rambut cokelat terangnya agar kedua iris kami saling bertubrukan.


Tidak tahu apa aku berhasil atau tidak, tapi ngilu dan nyeri menusuk-nusuk di sekeliling wajahku tidak mungkin keliru, menandakan telah terjadi perubahan pada kedua warna mataku.


“B-berhasil?”


Masih agak tidak percaya juga, ketika aura berupa asap hitam dari kedua mata cokelat, ubun-ubun dan seluruh tubuh Duke Oakley mendadak menguar keluar, lalu terangkat ke udara dan tidak lama hilang tak berbekas.


“Haa... Haa... Maafkan aku Duke.”


Aku menarik pelan tubuh Duke Oakley dan lalu menidurkannya di atas lekar. Keringat dingin mengucur deras melewati pelipisku dan melihat sebuah benda berbentuk bundar yang mencelos sedikit dari bawah lekar, tanpa babibu aku mengambilnya.


Sesuai perkiraanku, benda bundar tadi adalah sebuah jam perak berbahan baja nirkarat.


Aku melirik jarum-jarum panjang dan pendek pada tubuh dalam si jam. Penunjuk berwarna merah milik jarum yang lebih panjang, berhenti pada angka tiga dan itu berarti, jam giliran jaga Duke Oakley sudah berakhir semenjak lima belas menit lalu.


“Setelah ini Ingram, kalau tidak salah.”


Kedua iris keemasanku memandang jauh ke dalam pintu gua sembari mengurut-urut kencang tulang pangkal hidung dan kedua alisku.


Namun, bisa jadi hanya perasaanku saja, setelah hampir tiga menit berlalu, tetap tidak tampak tanda-tanda wujud Ingram akan muncul dalam waktu dekat. Bahkan setelah menajamkan pendengaran, aku masih tidak dengan samar-samar pun mendengar langkah kaki dari lubang besar dan gelap di depanku.


‘Apa Ingram selalu sepulas ini? Tapi tunggu, sejak tadi aku dan Duke Oakley bertarung kenapa tidak ada satu orang pun yang datang melerai? Apa mereka sama sekali tidak dapat mendengarnya? Ini benar-benar aneh. Lagi pula, kalau mereka adalah anggota AoifBrëe bukankah seharusnya mereka lebih sigap dengan keributan tadi? Akhhh, aku tidak tahu! Aku benar-benar sangat lelah sekarang, jadi untuk sebentar aku akan...’


KRESEK...


“A-apa itu..?”


Sontak aku terbangun dari posisi telentangku. Bukan suara tapak kaki Ingram yang kuharapkan terdengar, melainkan gesekan berisik dedaunan atau bisa jadi rerimbunan semak-semak belukar di kedalaman vegetasi berlapis sekitar sepuluh meter dari mulut gua, tempat hamparan lekar bambu Duke Oakley dan aku berada.


KRESEK...


KRESEK...


Aku berdiri, meneliti sebentar keadaan lebat hutan minim penerangan di utara tubuhku menghadap dan kemudian dengan ritme lambat, berjalan menghampiri sumber suara.


Namun belum ada beberapa langkah, sesuatu di antara tumpukan tanaman tingkat rendah, tidak terlalu jelas apa itu tetumbuhan perdu, paku-pakuan dan atau sebangsanya, mereka seperti tengah memantau gerak-gerikku. Serupa para predator yang sedang menunggu mangsanya datang sendiri ke dalam perangkap mematikan mereka.


“Eh, apa itu? S-sinar merah? Gulp!”


.


.


Bersambung...