Queen Laluna

Queen Laluna
Topeng Pembawa Kebenaran



Setibanya di meja makan, Renata melihat jika Ayahnya sudah dikerumuni oleh dua iblis jahat yang tengah berpura-pura menjadi baik.


Renata mengangkat satu sudut bibirnya ke atas lalu menarik kursi untuk duduk. Akan tetapi, tidak jadi.


Renata melihat jika Florencia telah mengambil bangkunya. Dia berdiri cukup lama, sehingga membuat Ayahnya bingung dan meletakkan sendok di atas piring makannya.


"Renata, kenapa kamu berdiri di situ? Duduk!" titah Ayahnya.


Namun, Renata menatap tajam ke arah Florencia dan Bellacia. Seketika Renata kembali tersadar dan dengan cepat mengubah kembali raut wajahnya. Dia masih harus menahan diri jika ingin melenyapkan kedua orang itu sesegera mungkin dari rumahnya. Jika gegabah, Renata takut keduanya akan mengambil cara terlalu ekstrem untuk mengalahkannya.


"Dasar gak tahu malu! Hebat sekali dia mengambil bangku di sebelah kiri Ayah. Itu seharusnya milikku," ketusnya dalam hati namun kini wajahnya sudah tersenyum seperti tak terjadi apa-apa.


Melihat Renata masih berdiri, Bellacia berkata-kata dengan manis namun terasa memuakkan untuk Renata, "Renata sayang, ayo duduk. Jangan hanya berdiam diri di situ. Kita makan sama-sama."


Gadis itu masih berdiri dengan bersedekap tangan di depan dadanya. Wajahnya yang tersenyum justru membuat Renata tampak terlihat mendominasi. Sesuatu yang kalian dapat lihat pada seorang pemimpin yang sedang ingin menegur bawahannya.


Bellacia menyadari itu dan tertegun.


"Kenapa sikap dia jadi gini. Biasanya dia akan menuruti apa kataku? Lagi pula mengapa dia cepat sekali datang ke meja makan? Kami belum sempat berbicara apa pun pada Ayahnya," batin Bellacia.


Belum sempat Bellacia menemukan jawabannya, tiba-tiba Renata mengatakan sesuatu yang membuat Bellacia tercengang. Tidak! Bahkan Florencia juga terkejut.


"Kak, minggir. Boleh tidak kalau kakak pindah? Aku ingin duduk di samping Ayah," ucapan Renata terdengar manis. Namun, duo iblis menyadari bahwa itu adalah metode pasif agresif yang biasanya mereka berdua gunakan.


Florencia yang tadinya sedang melihat sebentar ponselnya menjadi terganggu karena itu. Dia meletakkan ponselnya di meja dengan cukup kasar dan melepaskan topeng kakak tiri yang baik miliknya tanpa sadar, "Loh? Bukannya selama ini aku memang duduk di sini? Terus, kenapa sekarang baru kau permasalahkan, Re!"


Bellacia sebenarnya kaget karena Florencia yang tiba-tiba kehilangan kendali diri. Namun, dirinya pun sudah tidak dapat lagi menahan kekesalannya atas perubahan diri Renata yang mendadak. Belum sempat mengatakan sesuatu, Bellacia kembali tercengang dengan ucapan selanjutnya dari Renata.


"Iya, benar. Tapi, aku harap mulai sekarang bangku itu jadi tempatku, Kak. Bolehkan? Oh iya, untuk Mama, aku harap bangku Ibu Sarah tolong jangan diduduki dulu, ya. Biarkan saja bangku itu kosong," kata Renata sambil menunjuk bangku di sebelah kanan ayahnya.


Kedua iblis itu kaget dan saling berpandangan.


"Re, kamu enggak lagi ngigo kan?" tanya Bellacia berusaha menenangkan dirinya.


"Are you oke, baby?" Ayahnya juga kembali bertanya pada Renata.


"Aku sehat. Enggak sakit sama sekali. Bolehkan kalau Renata meminta sama Kakak juga Mama?" tanya Renata sambil tersenyum.


Bellacia menarik napas kasar dan panjang. Masih memerankan peran Ibu sambung baik hati, dia membelai rambut Renata dengan penuh kasih sayang. Sayangnya, dia tidak tahu bahwa Renata menyadari tindakannya yang penuh kepalsuan.


"Iya, gak apa-apa kok sayang. Mama tahu. Kamu pasti sedang merindukan almarhumah ibumu kan. Ya Mama mengerti itu kok sayang," kata Bellacia.


Florencia bangkit dengan kesal. Lalu tak berbicara lagi. Renata duduk dan tersenyum ke arah Ayahnya.


Semenjak Ibu meninggal, Renata baru kali ini duduk sangat dekat dengan Ayahnya. Dia melihat wajah Ayahnya bahkan sama sekali tidak menua. Dia tersenyum seperti sedang memandangi kekasih hatinya saja.


"Ehem! Ini jam makan pagi, bukan untuk berkhayal."


"Ayah, wajah Ayah semakin tampan dan tak pernah menua sedikit pun," ucap Renata polos. Tangannya menyendok nasi serta mengambil lauk.


"Siapa dulu ya ngerawat Ayah? Mama aku, hehe," Florencia terkekeh di akhir kalimat berusaha membuat candaan agar ketegangan yang sempat terasa menghilang dari meja makan.


"Iya, kamu benar. Itu Mama kamu. Bukan aku," balas Renata.


Mereka berpikir jika Renata merasa tersinggung dan kemudian bersedih hati karena tak dianggap.


Dengan sigap, Bellacia menarik dagu Renata dengan lembut, "Sst, jangan berbicara seperti itu, Nak. Kamu sama Kakak kamu adalah anak Mama. Dua putri cantik kesayangan Mama!"


Benar-benar sempurna.


Seharusnya Bellacia menjadi aktris saja. Dia dapat membuat orang percaya dengan peran yang dia bawakan. Sayangnya, Renata muak akan itu semua.


"Tidak. Kamu bukan Mamaku. Ibuku sudah meninggal dan tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan dia," bentaknya. Entah kenapa Renata menjadi kelepasan dan tidak bisa mengontrol emosinya.


Dia ingat tentang kematiannya pertama kali yang penuh siksaan hanya karena harta dan kecemburuan dari pasangan Ibu dan anak ini.


Walaupun kesal dengan jawaban Renata, Bellacia memanfaatkan momen tersebut dengan baik. Seolah tersakiti, Bellacia berkata, "Renata, kamu, kamu. Ke-kenapa tega berbicara seperti itu kepada Mama, Nak? Apa kamu tidak menyayangi Mama lagi?"


Ada isakan di akhir kalimatnya. Bellacia layak dapat Oscar untuk itu.


"Renata, minta maaf!" suruh Ayahnya.


"Kenapa harus meminta maaf jika tidak melakukan kesalahan Ayah?" tanya Renata lembut.


"Kamu salah karena sudah menyakiti hati Mama kamu. Apa kamu lupa? Selama ini dia yang sudah merawat kamu. Membesarkan kamu," tegas Ayahnya.


"Memang benar. Tapi bukan berarti dia bisa menggantikan posisi Ibuku. Ibu Sarah adalah Ibu Sarah. Meksipun dia sudah pergi dan tak akan pernah kembali."


"Renata!!!" suara Ayahnya meninggi. Ayahnya merasakan campuran emosi akibat perkataan Renata. Pria itu sadar dengan perkataan Renata. Namun, di sisi lain, dia tidak dapat membela Renata begitu saja. Dia akan terlihat sekali pilih kasih.


Sementara itu, Renata terdiam. Dia menarik napas panjang. Mengalah untuk kebenaran ke depannya. Dia tahu ayahnya membentak karena membencinya.


"Ya sudah. Renata minta maaf sama Mama karena sudah berbicara lancang. Tapi jujur, Renata enggak bermaksud untuk tidak mengucapkan terima kasih kok, Ma," Renata mengambil tangan Bellacia lalu mengusap punggung tangan itu.


"Iya sayang, iya. Mama ngerti kok. Mama sudah memaafkan kamu sebelum kamu meminta maaf," jawab Bellacia.


"Dasar munafik!" dengus Renata dalam hati. Namun, wajah Renata tersenyum lembut.


"Lain kali jaga ucapanmu ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, mengerti!" kata Ayahnya tegas.


"Iya, Ayah. Mengerti!" jawab Renata sambil berusaha terlihat imut di depan ayahnya.


Otot wajah Ayahnya yang sempat menegang kini kembali relaks melihat tingkah putrinya. Dia berpikir mungkin karena hormon-hormon pertumbuhan, emosi Renata menjadi sedikit tidak terkendali. Namun, dirinya bersyukur putrinya itu gadis yang penurut dan tidak akan membantah jika diingatkan, namun ini bukan Renata. Tetapi ini adalah sifat kedua Renata yang sedaing ia perankan demi rencana balas dendam.


Di lain sisi, kaki Florencia dan juga Bellacia saling bersentuhan. Mereka bertukar pesan lewat mata mereka seolah senang melihat Renata yang dimarahi oleh Ayahnya. Keduanya tidak sadar bahwa Renata melihat itu semua. "Lihat saja, topengku ini akan membawa kebenaran dan kalian berdua akan diusir Ayah dari rumah ini," serunya dalam hati.