Queen Laluna

Queen Laluna
Harus Memilih



"Sial! Aku lupa mengatakan kepada Ferdinand tentang pembatalan pertunangan!" keluh Renata yang sekarang begitu pusing.


Perempuan itu kini sudah berada di kamarnya. Pertemuannya dengan Ferdinand tidak membuahkan hasil yang dia harapkan. Rencananya semua hancur saat melihat senyum Ferdinand. Jangankan mengatakan keinginannya itu, Renata saja merasa otaknya seolah kosong dan hanya ingin menikmati setiap momen kebersamaan mereka.


"Kalau seperti ini, aku akan menjadi orang yang paling kejam di dalam hubungan kami. Ya Dewa dan Selene, mengapa tugas dari kalian berat sekali? Bagaimana dengan hal-hal yang harus kulakukan jika yang seperti ini saja tidak bisa kulewati?"


"Hai, bocah!"


"Ya, Dewa!" kaget Renata.


"Ya, Dewa!" ulang Dewa Fenrir seolah mengejek Renata, "aku memang Dewa sih, tetapi rasanya aneh jika kau terus-menerus memanggilku Dewa. Mulai sekarang, panggil saja aku kakek!" putus Dewa Fenrir.


Renata ragu dan berkata dengan intonasi bertanya, "kakek?"


"Kakek?" kata Dewa Fenrir lagi-lagi meniru ucapan Renata sebelum kembali berkata, "pokoknya jangan panggil aku Dewa lagi. Aku bosan mendengar semua orang memanggilku Dewa, terlebih kamu, bocah!"


"Tapi, Kau kan memang Dewa? Semua werewolf memuliakan nama-Mu. Karena aku juga werewolf, bukankah wajar jika aku memanggilmu Dewa?"


"Bocah! Kau itu anak Sarah. Jelas berbeda dengan werewolf lainnya. Kau itu punya privilese memanggilku Kakek tidak seperti yang lain. Paham? Katanya pintar, tapi kok susah sih memahami hal sederhana seperti itu? Jangan bilang kau itu tipe yang lol?"


"Lol? Kakek sedang mengatai aku, ya?" tanya Renata kesal.


Terkejut dengan respons Renata, Dewa Fenrir langsung mengelak, "bukan! Itu loh yang ada lama-lamanya itu."


"Lol? Lama?" bingung Renata.


"Iya. Kamu ini gak gaul juga ya ternyata. Ini kan seharusnya bahasa anak-anak muda yang satu generasi dengan kamu!"


Kebingungan, Renata masih mencoba mencari kata yang dimaksud Dewa Fenrir. Setelah beberapa menit, perempuan itu teringat sesuatu, "lol dan lama? Astaga! Maksudnya Lola? Loading lama?"


"Iya, itu dia si lola! Aku tarik ucapanku sebelumnya. Kau bukan anak yang kuper ternyata. Kau tahu kan apa arti kuper?"


"Tentu. Kurang pergaulan," jawab Renata sedikit malas.


Dewa Fenrir yang puas pun tertawa dan memuji Renata dengan berkata, "bagus!"


"Oke, Kakek. Kalau begitu, apakah kakek datang karena aku menyebut nama kakek barusan?"


"Yap. Betul sekali! Aku mendengarmu mengeluh tentang betapa sulitnya tugas yang diberikan padamu. Kenapa?"


Renata menghela nafas sebelum kembali berbicara, "bukan apa-apa. Aku tahu mungkin bagimu ini semua tidak begitu berat, tetapi ada satu hal yang paling aku tak bisa: memutuskan hubungan pertunanganku. Bukannya aku meragukan takdir yang kakek dan Selene pilih untukku, tetapi bagaimana jika kami tidak cocok? Bahkan, bisa saja kami membenci satu sama lain? Jika demikian, bukankah aku akan menjalani lagi kesengsaraan, tetapi dalam bentuk lain?"


"Baiklah. Mungkin menurutmu ini sulit. Tapi, yang perlu aku beri tahu padamu adalah kami tidak akan memberikanmu pencobaan terus-menerus. Kami tahu usahamu dan sebisa mungkin melindungimu. Percayalah dari tiga jodoh pilihan Selene yang kau pilih akan membawa kebahagiaan juga untukmu."


"Jangan pernah meragukan Selene, Renata. Kalian menyebutku Sang Maha Adil, tetapi ketahuilah Selene adalah salah satu penasihatku setiap aku harus membuat keputusan sulit. Di Bulan, kakakku itu adalah orang yang terbijak di kalangan kami."


"Kakek, kau terlihat bijak sekali. Aku terkadang lupa bahwa kau adalah Sang Maha Adil."


"Cih," kata Dewa Fenrir namun bibirnya sedikit tersungging, lalu dia kembali berkata, "saranku, kau harus perlahan dalam menyelesaikan masalahmu. Jangan langsung ingin menyelesaikan semua sekaligus."


"Aku tahu tapi rasanya aku tidak sabar untuk menyelesaikan semua itu sekaligus. Rasanya muak sekali melihat dua orang itu di rumah ini. Aku juga ingin segera menyelesaikan tugas dari Selene."


Dewa Fenrir terdiam sebelum kembali berkata, "ya, aku rasa aku dapat sedikit memahamimu. Namun, kau harus ingat bahwa kau bisa mulai dari memperbaiki dirimu sendiri."


Kebingungan, Renata menatap Dewa Fenrir menuntut penjelasan lebih lanjut.


Melihat Renata menatapnya demikian, Sang Dewa akhirnya berdeham, "ekhem. Maksudku, mulailah melihat apa kekuranganmu dan perbaikilah. Jika dulu kamu mudah mempercayai orang lain, mulai sedikit waspada. Namun, jangan sampai berlebihan juga sampai kamu sulit percaya pada siapa pun."


"Lalu?"


"Ini hanya saranku dan kau dapat mempertimbangkannya. Aku tahu perusahaan Sarah yang dikembangkan ayahmu memiliki profit luar biasa. Namun, cobalah berdiri di atas kakimu. Jika sesuatu hal buruk terjadi, kau tidak akan terguncang. Kau dapat berdiri di atas kakimu bahkan menopang orang yang kau sayang. Jadi—" Dewa Fenrir menggantung ucapannya. Namun, dari wajahnya terlihat bahwa dia seperti mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia ucapkan.


"Jadi?" tanya Renata yang menyadari perubahan sikap dari Sang Dewa. Perempuan itu berusaha menuntut penjelasan lebih lanjut dari Dewa Fenrir.


"Ya. Jadi, berubahlah lebih baik."


Dewa Fenrir menutup perkataannya seperti itu. Dia seolah tidak ingin melanjutkan percakapan itu lebih lanjut. Sayangnya, Renata dengan kemampuan barunya itu menangkap perubahan raut wajah Dewa Fenrir sekecil apa pun.


"Apakah ada orang atau kelompok yang ingin menjatuhkan keluarga Soleil?"


"Ingat, aku tidak memberi tahu apa pun padamu, gadis nakal. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya!" seru Dewa Fenrir sambil tertawa.


Melihat kepergian sang Dewa, Renata terdiam. Wajahnya mengerut dan berpikir keras. Ada hal baru yang harus dia lakukan. Namun, dia sadar bahwa ucapan Dewa Fenrir benar adanya. Renata harus mulai mandiri. Dia tidak ingin ada penyesalan lagi di kehidupan keduanya ini.


Jika Renata harus membalas dendam, dia akan memberikan pembalasan yang menyakitkan.


Jika Renata harus melindungi keluarga Soleil, dia akan memberikan perlindungan yang terbaik.


Jika Renata harus memilih jodoh yang ditakdirkan untuknya, dia akan mencari seseorang yang dapat dia percayai, cintai, dan terbaik untuk para werewolf.


Dan semuanya itu, tidak dapat Renata lakukan sendirian. Dia harus membangun kelompoknya dengan orang-orang yang dapat dia percayai. Dengan demikian, Renata tidak hanya akan menyesal atas kesempatan kedua ini? Renata akan puas. Dia juga dapat dengan bangga bila suatu saat bertemu Selene, Ibunya, dan bahkan Kakek Fenrir yang selama ini mau menolongnya.


"Ya, aku dapat melakukannya. Aku memiliki kemampuan baru di kehidupan keduaku ini. Semua itu harus dapat pergunakan sebaiknya. Jika aku hanya terpaku pada pembalasan dendamku dengan membuka topeng kedua orang itu, rasanya kehidupan keduaku akan percuma. Aku dapat melakukan hal yang lebih karena aku sekarang bahkan didukung Dewa Fenrir. Tugas dari Selene juga harusnya tidak membebaniku. Bila aku terbebani, bagaimana aku bisa memilih yang terbaik untuk kaum werewolf?"


Renata tidak sadar bahwa dia tidak hanya kembali lahir dengan kemampuan baru. Namun, hari ini dia telah lahir sebagai orang yang benar-benar baru. Sebuah kebijaksanaan telah tertanam dan menunggu untuk bertunas dalam diri Renata.