Queen Laluna

Queen Laluna
Tuan Arnold



Dalam hidup pasti akan selalu diwarnai dengan situasi yang membuat seseorang merasa canggung, tertekan, merasa paling benar dan bahkan adanya kesalahpahaman. Lalu bagaimana tanggapanmu bila kau dihadapkan pada posisi salah paham?


*********************


"Bagaimana hari pertama kau bekerja?" tanya Ferdinand, sang Ayah yang mencoba untuk lebih dekat dengan putri semata wayangnya itu.


Semenjak mantan istrinya Sarah meninggal, dia memiliki jarak yang cukup renggang dengan Renata. Ditambah lagi dengan kehadiran istri baru serta 1 anak sambungnya.


Renata yang baru saja pulang dari divisi parfum meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja. Dia tersenyum dan terharu.


"Kenapa tidak menjawab pertanyaan Ayah? Apa kau merasa tidak nyaman dengan pertanyaan itu?" tanya Ferdinand lagi.


"Tidak, Ayah." Renata menggeleng cepat. "Aku hanya terharu dan merasa bahagia ketika kau menanyakan tentang hal itu."


Ferdinand meletakkan benda pipih di atas meja lalu menatap putri kesayangannya itu. "Astaga. Aku baru sadar jika selama ini aku kurang perhatian dengan Renata. Padahal itu hanyalah sebuah pertanyaan yang umum yang sering aku tanyakan kepada Florencia," batinnya.


Renata sudah tahu isi hati Ayahnya. Dia merasa kecewa namun masih bersyukur sebab Ayahnya mulai melirik dirinya.


"Ayah, aku ingin bertanya satu hal kepadamu."


"Ya, katakan apa yang ingin kau tanyakan kepadaku."


"Apa kau sering bertanya tentang keadaan Florencia setelah dia pulang bekerja? Atau kata-katamu itu hanya kau berikan kepadaku?" Ferdinand tercenung.


Dia sudah salah dalam melangkah selama ini. Dia bahkan lebih memperhatikan anak sambungnya dibandingkan dengan darah dagingnya sendiri.


"Hm, ya. Ayah memang kerap bertanya kepada Florencia. Kalau sekarang Ayah akan lebih sering bertanya tentang keadaanmu, Renata."


"Ah Ayah. Aku sangat bersyukur karena Ayah sudah mulai merasakan kehadiranku."


"Kenapa kau berkata seperti itu, Renata?"


Ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Ferdinand. Renata tanpa aba-aba memberitahu mengenai curahan hatinya yang tersakiti selama ini.


"Jika aku boleh jujur. Selama ini aku merasa cemburu kepada Florencia. Padahal kau adalah Ayah kandungku, tapi kenapa kau begitu perhatian kepada dia yang bukan darah dagingmu sendiri. Ya, aku tidak bisa memaksakan jika orang lain harus mengerti tentang perasaanku. Tapi kau ayahku bukan. Kenapa kau tidak mengerti tentang hatiku selama ini?"


"Maafkan Ayah yang terlambat menyadari jika kau membutuhkan perhatian dan juga kasih sayang dari Ayah. Tapi Ayah janji, mulai sekarang dan ke depannya akan memprioritaskan kamu dibandingkan yang lainnya," tutur Ferdinand dengan penuh penyesalan.


"Termasuk dengan Bellecia dan juga Florencia?" tanya Renata penuh senyum.


"Tentu. Kau adalah pewaris utama dari perusahaan De La Lune. Karena itu Ayah akan memperlakukanmu dengan sangat istimewa dan berbeda dari biasanya.


Renata senang bukan main. Dia melompat girang dan tanpa ragu memeluk Ferdinand.


Kenapa harus ragu, toh mereka adalah Ayah dan juga anak.


"Jika kau butuh sebuah pelukan, datanglah kepada Ayah. Ayah akan segera memberikan pelukan itu. Sebab kau adalah Putri kecil Ayah dan selamanya akan begitu."


****


Ponsel Renata mendapatkan pesan dari Ibu Sentia yang menyuruhnya untuk turun dan makan malam bersama.


Renata duduk di samping ayahnya dan telah merebut kembali kursi yang seharusnya menjadi miliknya.


Bagi orang lain perihal kursi serta posisi duduk itu adalah hal yang biasa, akan tetapi baginya itu adalah hal yang luar biasa sebab kursi ini menyimpan banyak kenangan antara dirinya, ibunya dan juga sang Ayah.


"Ayah, tadi ketika aku sedang berjalan-jalan di mall dengan teman-teman. Aku melihat tas keluaran baru. Tas itu begitu cantik dan juga jadi incaran para gadis-gadis," kata Florencia berapi-api. Dia yang mengira jika keinginannya akan terus diikuti oleh Ferdinand sengaja memanas-manasi Renata.


Tanpa disadari oleh Renata. Selama ini Florencia selalu mendapatkan apa keinginannya dari sang Ayah.


"Lalu?" jawab Ferdinand dingin tak seperti biasanya.


"Aku ingin tas itu Ayah. Apalagi dalam waktu dekat aku akan berulang tahun. Anggap saja itu adalah kado yang Ayah berikan kepadaku," katanya dengan wajah yang penuh harap.


Mulut Ferdinand tengah mengunyah sayuran-sayuran. Dia sangat menikmati makan malamnya. Ada sesuatu yang berbeda dari makan malam hari ini.


Renata punya ide. Dia akan menguji apa yang dikatakan oleh Ayahnya tadi adalah benar.


Karenanya dia meminta tas itu kepada Sang Ayah dan mematahkan ucapan duo iblis itu mentah-mentah.


"Kelihatannya Kakak sangat tertarik dengan tas itu. Pasti tasnya bagus sekali ya, Kak."


"Renata, Florencia memiliki selera yang bagus dalam bidang fashion. Mana mungkin pilihannya akan jelek dan buruk," bantah Bellacia


"Duh, si tua reyot ini malah nyambung aja eh," kesalnya.


"Iya, Ibu. Tentu saja pilihan Kakak adalah yang terbaik. Ayah." Ini Renata menatap Ferdinand begitu imut.


"Apa kau menginginkan tas itu?"


"Apa?" Sontak kedua iblis itu kaget bukan main. Mulut mereka menganga besar.


"Mas, kenapa kamu menawarkan tas itu kepada Renata? Kan kamu tahu sendiri kalau Florencia meminta tas itu kepadamu!" sanggah Bellacia yang tidak terima jika keinginan anaknya di ambil oleh Renata.


"Renata, kamu tahu kan kalau dalam waktu dekat ini Kakak kamu akan berulang tahun. Dia yang duluan meminta atas itu sebagai kado kepada ayahmu. Maka mengalah demi kakakmu," ucap Bellacia enteng.


Renata merasa tidak senang. Dia meletakkan garpu di atas piring lalu melihat wajah kedua iblis itu. Wajah mereka seperti sedang menahan emosi dan juga amarah.


"Loh, kenapa aku harus mengalah dari Kakak? Bukankah seharusnya dia yang mengalah dariku. Karena aku adalah adiknya. Bukan begitu Ayah?"


"Ya, apa yang dikatakan oleh Renata benar. Florencia, berikan saja tas itu kepada adikmu. Kamu bisa memilih tas yang lainnya."


"Tapi Ayah-" ucapan Florencia seketika terhenti saat melihat wajah Ferdinand yang tak bersahabat.


"Oh iya, Ayah. Kau akan membelikan tas itu sebagai hadiah ulang tahunku bukan?"


"Tentu saja sayang." Tangan Ferdinand mengelus surai hitam Renata.


"Apa, sayang? Sejak kapan dia memanggil anak pembawa sial ini dengan sebutan seperti itu!" batin Bellacia tak terima.


"Terima kasih, Ayah. Renata sayang banget sama Ayah." Renata bergelayut manja di lengan besar Ferdinand. Hal itu mengingatkan Ferdinand dengan kenangan ketika Renata masih kecil.


"Aku yakin. Kalian berdua pasti marah bukan dengan perubahan Ayah. Haha, aku sangat suka melihat raut wajahnya yang menahan emosi. Astaga, ternyata begitu rasanya membuat orang lain emosi. Sangat menyenangkan," ucapnya dalam hati.


Suasana ketika makan malam berubah menjadi mencekam. Renata berbicara dengan Ferdinand tanpa menganggap kehadiran dua iblis.


"Aku sudah kenyang," ketus Florencia.


Diikuti oleh Bellacia. "Makanan ini rasanya hambar tak enak. Aku akan menyusul Florencia," ujar Bellacia.


Ferdinand diam. Mereka terus melanjutkan makan malam tanpa dua iblis itu.


"Ayah, Ibu dan Kakak kenapa tiba-tiba pergi!"


"Entahlah. Ayo makan lagi. Besok kau harus bekerja lagi kan," kata Ferdinand.


"Baik, Ayah."