Queen Laluna

Queen Laluna
Apakah Ayah Masih Mencinta Ibuku?



Setelah berhasil memproses segala informasi baru yang dia dapatkan, Renata bergegas memulai rencananya. Perempuan itu tahu benar bahwa sesungguhnya yang dikatakan Bellacia benar: ayahnya sungguh memprioritaskan dia. Walaupun ayahnya tidak banyak berbicara, tetapi laki-laki itu selalu mengetahui kegiatannya.


Bodohnya Renata jika sempat berpikir ayahnya tidak menyayanginya, sehingga membuat dia haus akan kasih sayang orang yang salah. Namun, kesadarannya kini membuat Renata yakin untuk menemui ayahnya. Renata harus memastikan sesuatu tentang hubungan ayahnya dengan Bellacia.


Untuk duo iblis itu akan dipikirkan lain kali.


Renata: Ayah di mana?


Ayah: Di kantor. Kenapa?


Renata: Renata pengen ketemu. Boleh?


Ayah :Boleh.


Renata : Okeee


Renata pun bersiap-siap membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Hanya butuh sedikit polesan make-up untuk membuatnya terlihat menawan dan segar. Rasanya, tidak akan sedikit orang yang menolehkan mata mereka untuk melihat Renata jika berpapasan dengan perempuan itu.


"Renata, semangat!"


Keluar dari kamar dan menuruni lift, Renata menemukan Ibu Sentia yang sedang tersenyum dengan Ana, Leticia, dan pelayan lainnya. Mereka semua sedang menata makanan yang akan disantap Renata. Entah mengapa Renata juga tidak menemukan duo iblis ini di meja makan.


Apa mereka sudah sarapan? batin Renata.


"Bellacia dan Florencia—mereka di mana, Bu Sentia?"


"Bellacia dan Florencia?" para pelayan berbisik-bisik karena tidak biasanya Nona Muda Soleil yang satu ini tidak memanggil langsung kedua nama itu. Biasanya ada embel-embel ibu dan juga kakak di depannya. Hanya Ibu Sentia yang tersenyum dan memahami perubahan Nona-nya. Sepertinya, putri kecil Soleil telah tumbuh dan tidak lagi membutuhkan dua orang itu.


"Mereka sedang pergi untuk menemui Event Organizer yang akan membantu penyelenggaraan ulang tahun Renata yang ke-21," jawab Ibu Sentia.


Lagi dan lagi, pelayan lain kebingungan. Ibu Sentia kembali memanggil langsung nama nona muda. Apa yang sebenarnya terjadi pada dua orang ini? Sepertinya mereka mendapatkan bahan pembicaraan saat mereka makan siang nanti.


"Ibu Sentia, tolong bantu saya membatalkan kerja sama denga EO pilihan mereka. Saya minta tolong Ibu Sentia yang mengatur pesta ulang tahun saya nanti. Untuk Bellacia dan Florencia, tidak usah dipikirkan."


Leticia menatap tidak suka penuturan Renata. Pelayan yang seumuran dengan Ibu Sentia itu mengepalkan tangannya. Dia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Namun, semua itu tidak lepas dari pengamatan Renata. Perempuan itu baru sadar bahwa panca indranya begitu menguat setelah kembali hidup.


"Kenapa, Leticia? Kau sepertinya tidak suka dengan perintahku?"


Tak siap, Leticia berusaha menjawab pertanyaan Renata, "tidak, nona muda. Saya tidak berani untuk tidak suka dengan perintah Anda."


"Baiklah. Kalau begitu, saya makan dulu. Yang lainnya boleh pergi. Saya ingin berbicara dengan Ibu Sentia."


"Baik, Nona!" jawab para pelayan lainnya serentak sebelum meninggalkan tempat itu. Di sisi lain, Ibu Sentia bingung mengapa Renata menahannya. Apa ada hal lain yang diinginkan gadis itu? Sayangnya, yang menjadi sumber pikiran Ibu Sentia, justru asik memakan makanannya dan sedikit lupa bahwa Ibu Sentia masih berdiri—menanti Renata untuk berbicara sesuatu.


Terkesiap, Renata langsung menyuruh Ibu Sentia duduk di sampingnya. Dan setelahnya, Ibu Sentia duduk walaupun masih dalam keadaan bingung.


"Ibu, selain tugas aku tadi, aku harap Ibu dapat mengawasi Bellacia dan Florencia. Ibu mungkin sedikit sadar bahwa aku telah mengetahui sifat buruk dua orang tersebut, bukan?"


"Iya, Renata. Saat kamu menyuruh Ibu untuk memanggil nama kamu langsung, Ibu yakin pasti ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan mereka. Ditambah lagi, kamu tadi meminta Ibu untuk membatalkan kerja sama antara keluarga Soleil dengan EO pilihan mereka. Walaupun Ibu tidak tahu detailnya, tetapi Ibu sangat senang untukmu, nak."


"Iya, Bu. Untuk saat ini, Renata belum bisa memberitahukan detailnya. Tapi, aku mohon perhatikan mereka. Renata curiga ada pelayan lain yang mungkin juga sekutu mereka, seperti Leticia contohnya. Dia terlalu menunjukkan ketidaksukaannya pada perintahku tadi. Atau mungkin yang lain? Renata tidak tahu siapa saja yang sudah berpindah tuan baik karena terpaksa atau memang dari dalam hatinya."


Ibu Sentia benar-benar dipenuhi rasa suka cita. Nonanya mulai memerhatikan sekelilingnya selain masalah pendidikan dan pekerjaan. Dia tidak perlu pusing dan memendam semuanya sendiri.


"Baik, Renata. Nanti, Ibu akan memberitahukan perkembangannya."


"Baik, Bu. Terima kasih banyak ya, Bu."


"Sama-sama, Renata. Kalau begitu, apa Ibu bisa pergi sekarang atau masih ada yang ingin Renata sampaikan?"


"Tidak ada lagi, Bu. Kalau bisa, Renata minta tolong Ibu untuk cepat memutuskan kerjasama dengan EO itu. Jangan sampai terlalu lama."


"Baik. Kalau begitu, Ibu pergi dulu, ya."


"Siap, Bu. Aku juga makan dulu."


Renata akhirnya makan kembali dan bersiap ke kantor untuk menemui ayahnya.


"Nona Renata. Bapak Ferdinand sudah menunggu di atas," kata sekretaris ayahnya yang ternyata sudah menunggu dia di lobby.


"Iya, Nona. Bapak suruh saya jemput Nona karena sepertinya urusannya mendadak sekali."


Renata tersenyum mendengar penuturan Pak Rey barusan. Apakah ayahnya merasakan keanehan atas keinginan Renata yang ingin menemuinya? Sembari berjalan, Renata memikirkannya dan menemukan jawabannya. Bodohnya, dia! Renata selama ini selalu mendekatkan diri pada Bellacia dan Florencia. Tanpa sadar dia yang membatasi ruang antara dirinya dan sang ayah. Dia merasa sedikit bersalah.


Dalam perjalanan, Renata menemukan karyawan Perusahaan Soleil yang menyapa dirinya. Seperti di kehidupan sebelumnya, Renata membalas sapaan mereka. Namun kali ini, perempuan itu memerhatikan ada keanehan pada beberapa orang. Tatapan mereka lain. Sepertinya intuisi Renata juga muncul setelah kelahirannya kembali. Renata merasa bahwa dirinya perlu untuk mencari tahu tentang kemampuan apa saja yang dia dapatkan untuk merancang strategi yang baik.


Tak terasa, Renata kini telah sampai ke ruangan ayahnya. Tanpa mengetuk pintu, Renata langsung masuk dan dia menemukan ayahnya sedang menatap pigura. Ayahnya dengan terburu-buru berusaha menyembunyikan pigura tersebut dan meletakkannya ke dalam laci. Yang ayahnya tidak tahu adalah Renata tahu benar foto yang ada di pigura tersebut.


Di sana ada foto mereka bertiga. Renata, Ayahnya, dan Sarah—Ibunya. Itu liburan terakhir mereka sebelum kematian mendadak ibunya. Kejadian pahit yang penuh tanda tanya dan selalu dilupakan Renata. Dia dulu tidak sadar bahwa ayahnya mungkin sama terluka dengan dirinya. Namun, dia memaksa ayahnya untuk "bangkit" dan melupakan ibunya. Ah, mungkin kehidupan sebelumnya adalah buah pahit akibat perlakuan tidak adilnya pada ayahnya.


Kini, Renata yakin dengan perasaan ayahnya. Namun, dia harus tetap mengonfirmasinya. Renata tidak ingin kembali egois dan membuat ayahnya mengorbankan dirinya kembali.


"Renata, kamu sudah datang? Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?"


Tanpa basa-basi, Renata langsung bertanya pada ayahnya, "Apa Ayah masih mencintai Sarah, Ibuku?"