Queen Laluna

Queen Laluna
Sibuk



Renata sudah meninggalkan area perusahaan Soleil. Dia kini telah pindah ke salah satu pusat perbelanjaan. Suasana Le Café yang terlihat tidak begitu ramai menarik perhatian Renata, sehingga perempuan itu memutuskan untuk mampir di sana. Mungkin dengan mengonsumsi beberapa keping madeleine dan segelas espresso dapat membantu Renata mengorganisir langkah-langkah yang harus diambilnya.


Setelah mengambil pesanan dan duduk di pojok ruangan, Renata mulai menyalakan Ipadnya. Di sana, dia menuliskan sebuah list yang berisi empat hal yang harus diperhatikan Renata untuk saat ini.


Membuka kedok dua iblis dan membalaskan dendam, ✓


Memastikan posisi keluarga dan aman, ✓


Memutuskan Ferdinad, dan


Mencari jodoh yang tepat dari 3 pilihan Selene.


Untuk rencana pertama dan kedua, Renata sudah memikirkannya baik-baik. Walaupun Renata tentu saja memerlukan bantuan orang lain, tetapi dia yakin dapat melakukannya. Terlebih lagi, dia memiliki kemampuan baru yang didapatkan setelah hidup kembali. Namun untuk dua hal terakhir, kemampuan yang baru dimilikinya itu rasanya tidak akan berguna.


Ferdinand, bagaimana cara memutuskan hubungannya dengan pria itu?


Apakah Renata sanggup membohongi perasaannya? Biar bagaimana pun, pria itu adalah cinta pertamanya dan Renata tidak pernah berpura-pura saat menjalani hubungan mereka. Selain itu, pertunangan mereka juga melibatkan dua keluarga besar. Apakah Renata sanggup membuat kecewa kedua orang tua Ferdinand yang juga menyayanginya?


Rasanya sulit.


Tanpa sadar, Renata mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. Perempuan itu gelisah. Dia tidak mungkin meminta pertolongan Dewa Fenrir untuk memanipulasi pikiran dan perasaan Ferdinand dan orang tuanya. Itu tidak adil untuk mereka.


Dia menghela nafas berkali-kali sebelum kembali menyeruput kopi miliknya. Renata memejamkan mata. Siap tidak siap, Renata memang harus memutuskan Ferdinand. Lebih tidak adil bagi Ferdinand, jika Renata terus bersama pria itu padahal Renata tahu pasti mereka tidak dapat bersama.


Baru hari pertama dalam kehidupannya kembali dan Renata dipaksa untuk berproses dalam kedewasaannya. Berat sekali. Walaupun dengan perasaan yang sulit, Renata menambahkan check mark pada poin nomor 3.


Memutuskan Ferdinad, dan ✓


Besok atau lusa, Renata berpikir bahwa dia harus bertemu dengan Ferdinand sebelum membicarakan hal tersebut dengan keluarga besar.


Tiba-tiba, ada dua pesan yang masuk ke handphone Renata nyaris bersamaan. Di sana, tertera nama Ibu Bellacia dan Ibu Sentia.


Menarik. Aku rasa Ibu Sentia telah menjalankan tugasnya dan Bellacia telah mengetahuinya.


Sebenarnya, Renata malas sekali harus membaca pesan Bellacia. Namun, dia tahu dia masih perlu tarik-ulur untuk menghadapi ibu tirinya itu.


Ibu Sentia


Renata, Ibu sudah memutuskan kerja sama dengan EO yang dipilih Bellacia.


Keadaan di rumah masih cukup kondusif karena Bellacia yang rasanya masih menahan diri.


Namun, raut wajahnya tidak bisa berbohong. Dia kesal.


Ibu tidak ingin menggurui, tetapi alangkah lebih baik bila kamu memikirkan alasan yang masuk akal untuk perempuan itu.


Ibu takut dia akan membuat masalah di depan ayahmu.


Renata


Baik, Bu. Tenang saja.


Renata sudah tahu alasan yang tepat untuk menghadapi Bellacia.


Terima kasih atas informasinya, Bu.


Oh, iya.


Apakah Ibu punya perkiraan siapa saja pelayan di kediaman Soleil yang mungkin saja berpihak pada Bellacia dan Florencia?


Renata pikir Ibu Sentia bisa mulai dari Leticia.


Ibu Sentia


Iya. Ibu mulai mengobservasi mereka.


Tapi, menurut Ibu, Leticia bukanlah pengikut dua orang itu.


Dia dan ibu memang sering bersaing dari dulu. Mungkin, dia masih terbawa.


Renata


Bersaing?


Ibu Sentia


Iya Bersaing. Namun, Ibu tidak dapat memberi tahu kamu sekarang.


Ibu khawatir Bellacia curiga bila Ibu terlalu lama izin ke kamar mandi.


Renata


Oke, Bu.


Terima kasih.


Baiklah sekarang aku harus menahan kebencianku pada Bellacia. Aku tidak ingin perempuan iblis itu menyadari perubahanku.


Menarik nafas sekali, Renata membuka pesan dari Bellacia.


Ibu Bellacia


Hai, Renata.


Ibu tadi dihubungi oleh EO langganan Ibu.


Katanya, kamu membatalkan kerja sama dengan mereka, ya?


Kenapa, nak?


Renata


Benar, Bu.


Teman Renata ada yang baru mulai usaha EO sendiri.


Ibu Bellacia


Renata ingin bantu dia dengan jadi client pertamanya, Bu.


Tapi, apa kamu gak takut?


Banyak orang penting datang


Ibu rasa lebih baik dengan EO langganan Ibu


Renata


Toh, Renata belum tanda tangan kontrak kerja sama dengan mereka.


Sepertinya tidak ada denda juga kok Bu.


Anggap saja sedang dalam proses pemilihan EO.


Renata rasa mereka akan memahaminya.


Terima kasih, Ibu.


Renata hanya berhubungan melalui chat dengan Bellacia, tetapi rasanya energi Renata telah terkuras habis. Dia tidak dapat menahan perasaan muak dan kesal pada Bellacia. Bahkan saat mengetik pesan untuk memanggil iblis itu sebagai Ibu, Renata menahan rasa mualnya.


Jijik sekali.


Bagaimana mungkin ada orang munafik seperti itu? Berperan bagai Ibu yang penuh kasih namun merencanakan kematian yang menyakitkan untuk Renata. Terlebih lagi, dia melakukan semua itu demi Ferdinand dan juga harta keluarga Soleil.


Dunia ini memang menyeramkan. Ada begitu banyak orang jahat yang memandang ringan arti sebuah nyawa.


Renata tersadar dari lamunannya. Dia harus segera menghubungi Diademe—seorang teman yang dijadikannya alasan pembatalan kerja sama dengan EO langganan Bellacia. Sejujurnya, Renata tidak terlalu dekat dengan Diademe. Mereka kebetulan pernah berada dalam kelompok yang sama. Satu kali saja karena dipilih secara acak oleh dosen mereka.


Setelah menemukan kontak, Renata langsung mengirim chat untuk meminta izin pada Diademe agar bisa menelepon teman sejurusannya itu secara langsung. Tak disangka, Diademe menerima permintaan Renata begitu mudah.


"Halo, Diademe. Ini Renata."


Ada keheningan di sana sebelum Diademe bersuara, "Iya, Renata. Udah tahu. Ada apa, ya? Apakah ada masalah? Karena ya, kamu menghubungiku tiba-tiba?"


"Hahaha. Maaf kalau ngaggetin. Aku dengar kamu baru saja mendirikan EO pribadi milikmu, ya?"


"Betul. Kenapa? Kamu mau investasi atau menggunakan jasa EO-ku?" tanya perempuan itu secara langsung.


Renata terkekeh dengan respons yang diberikan Diademe, "Sebenarnya aku ingin menggunakan jasa EO-mu untuk ulang tahunku yang ke-21 di akhir bulan ini. Kira-kira, akan ada 300 tamu undangan yang terdiri dari teman-temanku, keluarga, dan kenalan ayahku di Mansion keluarga Soleil. Apakah memungkinkan?"


"Hemm. Jujur, waktunya terlalu dekat. Kamu akan kena charge yang cukup besar karena pemesanan yang cukup mendadak ini. Apalagi, ini acara yang cukup eksklusif, bukan? Aku akan memberikan list vendor dekorasi, foto, dan makanan lewat email. Aku harap kamu menentukan secepatnya atau kamu sudah memiliki konsepmu sendiri?"


"Aku sebenarnya ingin dekorasi yang sederhana dan elegan. Anggap saja ini seperti menyatakan kelahiran kembali."


"Semacam statement bahwa kamu telah lahir baru sebagai manusia? Menarik sekali."


"Bagaimana? Apakah bisa?" tanya Renata tertarik. Entah mengapa cara Diademe menghadapi Renata sebagai client ribuan kali lebih baik dibanding EO pilihan Bellacia. Renata pernah sekali bertemu mereka dan merasa tak nyaman. Renata pikir EO akan selalu seperti mereka. Oleh sebab itu, Bellacia lah yang selalu menjadi penanggung jawab acara keluarga Soleil.


"Oh, iya. Budget-mu berapa?"


"Apa bisa di bawah 500 juta?" tanya Renata mencoba menawar.


"Ya. Kurasa aku bisa rincikan dan memberi proposalnya nanti malam."


"Benarkah?" Renata terkejut karena setahu Renata dengan konsep dan jumlah tamu undangan yang sama, Bellacia meminta dana lebih dari 1M pada ayahnya.


"Kau meragukanku?" tanya Diademe sebal di ujung sana.


"Tidak. Aku hanya senang. Kalau begitu, tolong bantu aku membuat ulang tahun yang tak terlupakan, Diademe. Jika ini berhasil, mungkin aku akan benar-benar mempertimbangkan untuk berinvestasi di tempatmu. Hahaha."


Keduanya masih larut dalam pembicaraan mengenai rencana ulang tahun Renata. Di saat Renata sedang berbahagia, Bellacia sudah mulai mendidih. Dia segera menghubungi Florencia untuk kembali ke rumah. Ada yang aneh pada diri Renata.


BAB 6. Saat berbincang dengan Diademe, Renata tidak menyadari bahwa waktu berlalu begitu cepat. Espresso dan kepingan madeleine yang tadi berada dihadapannya telah habis tak tersisa. Rasanya begitu kenyang hingga Renata yakin dia akan melewatkan makan siangnya.


Setelah duduk beberapa menit, perempuan itu beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa perlu berolahraga dahulu sebelum pulang ke rumah. Dia ingin menyalurkan energi negatif yang rasanya menumpuk hanya karena membayangkan akan bertemu Dua Iblis di rumah nanti.


Beruntung, Renata selalu menyiapkan baju dan dress untuk acara mendadak, termasuk pakaian olah raga. Perempuan itu jadi tidak perlu membeli pakaian lagi. Menghemat waktu dan uangnya. Walaupun dia kaya, Ibu Sarah selalu mengajari dirinya untuk tidak terjebak dalam kehidupan yang konsumtif. Bellacia tidak berhasil memengaruhinya untuk yang satu itu.


"AAA—" ada suara melengking memekakkan telinga Renata yang sedang berjalan. Ini kombinasi yang sangat menyebalkan karena sekarang telinga Renata yang sensitif akan suara. Renata ingin mengacuhkannya, tetapi suara yang sama menyebutkan nama keluarganya.


"Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Aku adalah Barbara de Lucia dan aku masih kerabat dari keluarga Soleil," kata perempuan itu yang sedang membuat pertunjukan itu.


"Soleil? Siapa di antara keluargaku yang merupakan kenalannya?" batin Renata.


Renata akhirnya memerhatikan perempuan itu yang sedang meluapkan emosinya kepada seorang pria yang masih duduk santai di bangku khas milik Le Café. Laki-laki itu terlihat tidak merasa risih sama sekali walaupun kini sudah menjadi pusat perhatian. Dihadapkan dengan keadaan demikian, wajah perempuan—yang menyebut dirinya Barbara itu— memerah.


"Soleil? Apakah kau mengenal Ferdinand? Jika tidak, maka menjauhlah. Ferdinand adalah kenalanku, "kata pria itu pada akhirnya.


Barbara sepertinya terkejut akan balasan tak terduga dari pria itu, "asal kau tahu, Bellacia—istri Ferdinand adalah sahabat ibuku dan putrinya Florencia adalah sahabatku."


Atensi Renata kini sudah teralih pada dua orang itu, terutama Barbara. Jika benar dia merupakan kerabat dua Iblis itu, kenapa Renata tidak pernah mengetahuinya.


"Tunggu. Jangankan mengetahui tentang Barbara. Hidupku yang lalu bahkan seolah dibuat berputar mengitari kampus, kantor, dan rumah. Aku bahkan dibuat tidak terlalu akrab dengan siapa pun karena dua Iblis itu bilang bahwa mereka cukup untuk diriku," kutuk Renata pada dirinya saat menyadari bahwa dirinya sungguh terperdaya oleh Bellacia dan Florencia di masa lalu.


"Yang aku tahu Bellacia tidak pernah melahirkan seorang keturunan pun bagi keluarga Soleil. Sahabatmu itu juga bukanlah ahli waris Soleil. Sudah kukatakan padamu tadi bahwa Ferdinand adalah kenalanku. Jangan buat aku marah dan melaporkan ini pada dia. Jadi hentikanlah ancamanmu," kata pria itu dengan suara rendah di akhir.


Barbara terlihat begitu marah sebelum akhirnya berteriak pada pria yang sampai sekarang Renata tidak tahu namanya. "Tunggu! Kau tidak bisa memperlakukanku dengan begini! Lihat saja nanti! Aku akan melaporkan ini semua pada keluargamu!"


"Laporkanlah! Aku—Theo tidak peduli," kata pria itu sebelum berbicara dengan volume kecil yang sepertinya hanya dapat didengar oleh Barbara—dan tentunya Renata, "dasar perempuan sinting."


Setelah berkata demikian, pria itu pergi meninggalkan Barbara yang terlihat sangat menyedihkan. Renata merasa jika Barbara adalah golongan atas di kota ini. Perempuan itu benar-benar kehilangan martabatnya. Le Café adalah tempat para pengusaha dan pewarisnya di Ibu Kota untuk meminum kopi. Gosip ini akan menyebar begitu cepat.


Di kehidupan sebelumnya, Renata tidak pernah menyadari kerabat dari duo Iblis di rumahnya ini. Barbara tidak sadar bahwa karena ketidakmampuannya mengendalikan emosi telah membuat dia masuk dalam daftar pengawasan Renata. Karena jika benar mereka begitu dekat, maka besar kemungkinan Barbara dapat dilibatkan dalam rencana Bellacia dan Florencia.


"Hai Renata, sudah lama kamu gak boxing. Ada apa ini?" Rexy, pelatih boxing Renata, menyapa perempuan itu.


"Biasa. Lagi butuh pelampiasan, Kak. Lagi pula, aku harus tampil prima sebelum ulang tahunku."


"Berat kayaknya jadi pewaris Soleil, ya. Oh, iya ulang tahun? Gue diundang gak nih? Hahaha."


Tiba-tiba, Lala—salah satu teman boxing Renata menyahut, "undang aja, Renata! Siapa tahu dia bisa ketemu jodohnya. Kasihan sudah tua belum laku-laku."


ucapan Lala disambut tawa oleh Renata dan juga Rexy. Itu adalah salah satu topik candaan mereka. Seperti Lala yang akan diledeki Samson ataupun Renata yang dilekatkan kata busy woman, ketiganya tidak akan tersinggung bila satu sama lain yang membahas topik itu.


"Tenang, gengs. Pasti kalian berdua diundang, kok. Tunggu aja undangannya, ya!" kata Renata riang. Dengan kedua orang ini, Renata bisa terlepas menjadi dirinya sendiri. Tidak perlu terlalu mengekang perasaan dan juga tawanya.


Tak lama, Renata pun memulai latihannya. Segala gerakan dasar, seperti jab, cross, hook dan uppercut dilakukan Renata selama 45 menit. Kemudian, Renata menambah lagi intensitas latihannya dan menambah lagi counterpunch, bolo punch, dan short straight-punch. Stamina Renata benar-benar memuncak dan kedua temannya menyadari itu.


"Wah, gila! Renata, lo kerasukan, ya?" tanya Lala.


"Bagus, Renata! Pertahankan, ya! Bisa-bisa jadi atlet ini mah si busy woman."