
Renata telah selesai berolahraga dan membersihkan tubuhnya. Dia juga telah menyiapkan diri untuk wawancara besok. Oleh sebab itu, dia sedang berbaring di tempat tidurnya untuk mengistirahatkan diri sejenak.
Dari Ibu Sentia, Renata tahu bahwa ayahnya dan duo iblis juga telah tiba di rumah. Sebentar lagi, Renata mungkin akan dipanggil untuk makan malam bersama. Sebuah tantangan hidup untuk kembali berpura-pura baik-baik saja di depan mereka.
"Hai!"
"Astaga, Dewa Fenrir!"
"Kau mengapa begitu kagetan jadi manusia serigala, Renata?" ucap Dewa Fenrir sambil memutar bola matanya, "kau ini kan punya kemampuan ya. Harusnya, kau lebih peka dengan segala hal yang ada di sekelilingmu. Masa, kau terus-menerus kaget saat aku datang menghampirimu?"
"Maafkan aku, Kakek Dewa. Aku masih tidak terbiasa menggunakan kemampuanku," Renata tiba-tiba mengingat kejadian tadi pagi sebelum wawancara, "oh iya, apakah manusia serigala lain mempunyai kemampuan sepertiku?"
"Tentu saja. Dibandingkan manusia biasa, kaum werewolf memiliki kemampuan khusus, terutama para Alpha dan Luna yang memang memimpin pack," jelas Dewa Fenrir sebelum bertanya, "mengapa? Kau baru bertemu salah satu dari mereka?"
"Sepertinya begitu. Tadi, aku nyaris saja kecelakaan. Anehnya, aku tidak dapat menangkap perubahan arah mobil yang kutabrak itu seolah dikendalikan bukan oleh manusia."
Mendengar penjelasan Renata, Dewa Fenrir pun berkata, "Ya, mungkin itu salah satu dari kaum werewolf. Atau mungkin saja mahkluk lain?"
"Ah. Kalau begitu, aku harus berhati-hati."
"Ya. Sebelum kau berulang tahun 21 tahun, kemampuanmu belum benar-benar maksimal. Apalagi, selama ini kau hidup sebagai manusia biasa. Pasti, semakin sulit bagimu untuk menemukan siapa saja yang merupakan werewolf."
"Okey. Aku akan mengingat ini baik-baik."
"Bagus!" kata Dewa Fenrir yang kali ini berkeliling melihat-lihat lukisan buatan Renata, "kau ada bakat seni sepertinya, kenapa tidak menekuninya?"
"Aku masih melukis saat senggang. Namun, tidak untuk pekerjaan."
Ada gurat pasrah dari wajah Renata.
"Pekerja seni, seperti pelukis sampai penulis—mereka akan sulit untuk hidup jika hanya mengandalkan seni dalam diri mereka, kecuali mereka sudah punya nama."
"Di sini atau di seluruh dunia?" tanya Dewa Fenrir yang tertarik dengan ucapan Renata. Selain hal-hal seperti balas dendam dan mencari jodoh, baru kali ini Sang Dewa mendengar Renata mengeluarkan pendapat.
Renata menghela napas sebelum menjawab, "di seluruh dunia, terutama di sini."
"Mengapa?"
"Tidak semua orang melihat seni sebagai hal yang penting. Dan itu wajar sekali. Ada hal-hal penting yang perlu menjadi fokus dalam kehidupan mereka. Mungkin makan, pendidikan, rumah, ataupun sekadar bertahan hidup."
Mendengar itu, Sang Dewa pun menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "wah, kamu humanis ya ternyata."
"Aku tidak tahu apakah aku masuk kategori itu. Sejujurnya, aku bahkan tidak suka diberi sebuah label karena aku pun baru memikirkan ini setelah kehidupan keduaku. Selama ini, aku hanya mengikuti 'alur'. Namun, setelah dibunuh oleh duo Iblis dan hidup kembali, aku dapat melihat hal-hal yang selama ini terlewat olehku."
"Seperti apa?" tanya Dewa Fenrir.
"Privilese. Aku dapat berbuat banyak dengan privilese yang kumiliki. Sayangnya, dulu aku tidak menyadarinya."
Ada keheningan di sana. Renata kembali memikirkan betapa naifnya dia. Hidupnya mungkin sulit, namun tentu saja ada kemudahan juga. Dia terkungkung hanya ingin menjadi anak yang baik bagi ayahnya dan dulu juga untuk Bellacia. Hari ini, dia kembali diingatkan setelah bertemu Pak Rendy.
Seketika Dewa Fenrir pun tertawa dan Renata menjadi bingung.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Pantas Selene menyukaimu. Dia mungkin melihat sebuah potensi dalam dirimu."
"Potensi?" tanya Renata.
Dewa Fenrir menyadari pesan itu. Sebelum menghilang, dia berkata pada Renata, "Sepertinya kita akan membicarakan itu lain kali. Kau harus segera makan malam."
Makan malam telah selesai.
Saat ini, Renata dipanggil ayahnya ke ruang kerjanya. Ada rasa ingin tahu dari tatapan Ibu dan Anak Iblis di dekatnya tadi. Mereka sepertinya ingin tahu apa yang ingin dibicarakan ayahnya.
Renata rasanya ingin tertawa. Jangankan mereka, Renata pun ingin tahu mengapa ayahnya sampai harus berbicara dengan dirinya di ruang kerja. Tak lama, keduanya sampai di depan pintu mahoni yang memiliki ukiran lambang keluarga Soleil.
Ayahnya membuka pintu dengan sidik jarinya dan menyuruh Renata masuk.
Tidak ingin membuat ayahnya menunggu lama, Renata langsung duduk di kursi seberang ayahnya. Dia juga langsung bertanya pada ayahnya, "Kenapa ayah? Apakah ada sesuatu hal yang begitu penting sampai harus dibicarakan di ruang kerja ayah?"
Ferdinand Soleil tersenyum.
"Apakah harus untuk hal penting, ayah dan anak bertemu untuk berbincang-bincang?" tanya ayahnya.
Tersentak, Renata menjawab dengan gugup, "Ti—Tidak ayah. Aku hanya penasaran saja. Biasanya, ayah juga tidak masalah berbincang-bincang di meja makan dengan Ibu Bellacia dan Florencia."
"Hahaha," tawa pria itu, "santai saja Renata. Aku tidak menyalahkanmu, nak."
Seketika Renata menjadi relaks dan ikut tertawa. Perempuan itu menyadari kebodohannya. Di depannya ini adalah ayahnya. Ayahnya yang menyanginya hingga membuat Bellacia cemburu.
"Okey. Kau benar, Ayah ingin membicarakan sesuatu. Namun, bukan hal yang sangat rahasia. Hanya saja, ayah merasa kamu tidak nyaman dengan Bellacia dan Florencia."
"Ah," Renata tersenyum mendengar penuturan ayahnya. Ternyata, ayahnya peka.
"Ayah tidak tahu mengapa dan setelah Ayah pikirkan, Ayah juga tidak berhak melarangmu. Hanya saja, jangan berbuat hal yang merugikanmu karena kamu membenci mereka."
"Baik, ayah."
"Okey, kita back to the topic, Ayah tadi bertemu dengan Om Rendy. Dia bilang kamu terlambat untuk wawancara HR dengan dia."
"Betul. Tadi, Renata telat karena sempat menabrak mobil orang saat menuju kantor."
Mendengar pernyataan Renata, Ferdinand panik dan melontarkan pertanyaan beruntun, "Apa? Mengapa kamu tidak bilang sama sekali? Apa kamu terluka?"
"Tenang, Ayah. Aku baik-baik saja. Tadi, aku sudah meminta tolong orang untuk mengurus asuransi mobilku. Namun, aku masih harus mengurus mobil orang yang kutabrak."
"Baiklah. Lain kali kau harus berhati-hati," ada jeda di sana sebelum ayahnya kembali berkata, "tunggu, sampai di mana topik pembicaraan kita tadi?"
Renata tersenyum, "Om Rendy bertemu Ayah dan aku terlambat."
"Oh. Baiklah! Om Rendy bilang dia tidak meragukanmu. Namun, kamu akan mengalami tantangan berat jika kamu gagal memberikan impresi bagus pada Arnold de Louise."
"Tantangan berat?" Renata tertarik dengan pernyataan ayahnya ini.
"Benar. Divisi parfum sedang menjalankan proyek untuk membuat aroma terbaru. Akan ada banyak hal yang kamu bisa pelajari di dalam prosesnya. Namun, jika Arnold tidak punya kesan yang baik padamu, sebagai asistennya kau akan diabaikan."
"Diabaikan?"
"Betul. Alih-alih membuatmu mengerjakan banyak hal tidak penting. Dia akan menganggapmu tidak ada sampai kau merasa tidak layak menjadi asistennya."
Rasanya, Renata ingin berteriak dan mengadu pada Ibunya yang sekarang ada di bulan. Dia sudah tahu bahwa calon atasannya itu benar-benar orang 'luar biasa'. Namun, ternyata dia tidak tahu betapa luar biasanya pria itu.
"Kakek Fenrir, Selene, Ibu, tolong bantu Renata," mohon Renata dalam hati.