
"Apa? Apa kau bilang tadi?" ucap si Ayah pura-pura bodoh.
Renata duduk. Dia tidak membiarkan mata Ayahnya beranjak sedikit pun. Dia tahu bahwa mata takkan pernah berbohong. Begitulah istilah kata orang.
"Apa kau masih mencintai Ibuku?" tekan Renata. Dia melihat jika wajah Ayahnya mulai memerah.
Laki-laki itu membenarkan dasinya yang miring. Lalu melihat buah hati kecilnya sudah tumbuh besar dan dewasa.
Dia begitu manis dan persis seperti dia. Ya, dia adalah Ibunya Renata. Wanita yang sangat dicintainya dan sudah terlebih dahulu pergi. Pergi membawa luka dan juga membawa separuh hidupnya. Jika bukan karena Renata yang terus meniti, mungkin dia juga sudah bertemu dengan mendiang istrinya itu. Ayah memegang bahu Renata dengan tangan kekarnya. Mata memang tak bisa untuk berbohong. Renata tahu persis jika Ayahnya masih menyimpan rasa sama seperti dulu ketika dia kecil. Memiliki keluarga yang utuh dan hidup bahagia. Bukan seperti kehidupan sekarang. Dia sudah terperdaya oleh sosok dua iblis jahat yang menjelma seperti malaikat.
Ya, lebih tepatnya malaikat kesialan. "Kenapa Ayah? Kenapa kamu tidak bisa mengungkapkan apa yang tersimpan di mata Ayah? Apa Ayah sudah mulai melupakan Ibu? Melupakan cinta tulus kalian berdua?" Renata berbalik memegang lengan Ayahnya. Pria itu menghela napas berkali-kali. Dia tidak bisa untuk membohongi putri kecilnya. Dia sudah beranjak dewasa dan memiliki pengetahuan lebih. Rasanya percuma jika dia mengelak dan mengatakan tidak. Pada akhirnya Renata sendiri yang mendesak dan juga meminta agar Ayahnya jujur tanpa ada keraguan.
"Oke. Mungkin Ayah takut kalau mereka berdua mendengar. Ayah juga mungkin menjaga perasaan kedua wanita itu dan mengabaikan perasaan aku," katanya sedih.
Renata berbalik. Dia memiliki ide untuk mengelabuhi si Ayah. Dia akan berpura-pura kecewa lalu pergi. Kita akan melihat reaksinya.
Tap tap tap
Bunyi sepatu high heels Renata yang bergesekan dengan lantai. Suara serak itu menghentikan langkahnya. Gadis belia itu berbalik dengan mengulum senyum. Dia berlari ke arah pintu kemudian menutupnya rapat-rapat.
"Ayah? Apa yang mau kau katakan! Ayo katakan saja. Aku sudah tak sabar untuk menunggu jawabannya," balas Renata penuh harap.
"Ehem! Apa kau merindukan Sarah?"
"Ah Ayah, kau berbicara apa. Pertanyaan kau sangat konyol." Renata melambaikan tangannya dan memalingkan wajah.
"Bagaimana mungkin aku tidak merindukan dia Ayah? Aku sangat merindukan dia." Batinnya.
"Aku tidak terlalu merindukan dia. Aku sudah bahagia hidup bersama dengan Ayah. Memiliki keluarga baru meskipun tidak sesempurna ketika bersama Ibu."
"Maafkan Ayah. Ayah tahu kau tidak terlalu menyukai mereka."
Jari telunjuk Renata menutupi rapat-rapat bibir Ayahnya. "Jangan perduli itu. Sekarang cepat katakan. Apa kau mencintai dan juga merindukan Ibuku?"
"Ayah sangat mencintai dan merindukan dia. Jika Ayah boleh meminta, Ayah akan memohon kepada dewa agar mengizinkan untuk bertemu dengan dia," jujurnya.
Renata kaget. Dia tidak tahu jika pertanyaan yang dianggapnya bercanda itu malah melukai hati Ayahnya. Sungguh, Renata tak bermaksud begitu. Dia hanya ingin tahu kebenarannya saja. Apakah masih ada rasa cinta di antara kedua orangtuanya meskipun sudah berbeda alam.
"Ayah, aku tahu kau tidak akan mengecewakan aku. Huh, aku sangat lega mendengarnya. Pikiran aku menjadi jauh lebih ringan. Seringan kapas," balasnya tak henti-henti tersenyum.
Gadis itu memeluk Ayahnya. Dia meminta maaf karena pernah membuat opini buruk.
"Ayah, maafkan aku. Aku sudah durhaka. Aku juga sudah memikirkan yang tidak-tidak tentang Ayah," katanya manja.
"Nak, jangan pernah berpikir buruk lagi tentang Ayah. Ayah tidak memperhatikan kamu, tidak ada di saat kamu butuh. Bukan berarti Ayah tidak menyayangi anak kesayangan Ayah bukan!" Dia mengacak rambut Renata.
Mereka terlihat begitu bahagia. Kebahagiaan yang jarang bisa didapatkan keduanya. Mereka saling melemparkan senyuman. Senyuman penuh bahagia tanpa ada kata terluka. Renata meninggalkan ruangan Ayahnya. Dia tak sengaja melihat tunangannya bertemu dengan Kakak sambungnya. Sedikit menghindar dan memasang telinga. Dilihat dari gerakan keduanya, sepertinya Florencia yang mendekati Ferdinand. Tidak bisa dipungkiri bila banyak para gadis yang tertarik dengan laki-laki itu. Selain tampan, dia juga adalah orang yang berpengaruh di perusahaan Luna.
"Baiklah. Mari kita tes seberapa hebatnya kekuatan dari dewa Fenrir. Aku sungguh penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh dia, Florencia!" Renata menggerutu.
Ferdinand sedang mengambil coffe latte yang dia pesan. Florencia berdiri di belakang Ferdinand. Tidak sengaja coffe itu tumpah dan mengotori seragam Ferdinand. Sedangkan Florencia merasakan panas di tangannya. Tangannya merah dan terlihat seperti sangat panas. "Haduh, maaf. Aku tidak melihat kalau kau ada di belakangku," ucap Ferdinand. Dia mengambil tisu dan membasahi tisu itu kemudian menempelkan ke tangan Florencia. Florencia senyum-senyum. Dia rela menahan rasa sakit serta perih di tangannya. Asalkan bisa bersentuhan dengan Ferdinand.
"Oh ya, aku tidak apa-apa. Lalu kamu bagaimana? Bajumu kotor!" Dia bergegas mengambil tisu kemudian membersihkan baju Ferdinand.
Pria itu kaget. Lalu tersadar bahwa dia sudah memiliki Renata. Gadis yang sangatlah dicintainya.
"Oh no no no. Jangan, biar aku saja. Aku bisa sendiri untuk membersihkannya," katanya menolak. Lalu menjauhkan tangan Florencia.
"Kenapa? Apa kau takut jika Renata melihat kita?" Ferdinand mengangguk.
"Come on Ferdinand. Renata tak ada di sini. Mana mungkin dia akan tahu tentang hal ini. Lagi pula, kita tidak berbuat apa-apa. Lihat sekeliling kamu!" Florencia mengitari. Melihat ada begitu banyak orang yang sedang menikmati makan siang atau pun minum.
"Iya, aku tahu. Tapi tetap saja aku tidak mau membuat hati dia luka. Dia memang tidak melihatnya, namun bisa saja ada orang lain yang sengaja menyebarkan berita buruk. Berita miring yang akan membuat hubungan kami rusak." Renata tersenyum. Dia memeluk tiang listrik karena bahagia berbunga-bunga.
"Astaga, kau sungguh romantis Ferdinand. Apa kau begitu mencintai aku?" ujarnya.
"Kekuatan ini ada manfaatnya juga. Aku bisa lebih mengetahui hal buruk atau orang-orang yang berniat jahat."
"Anak manusia! Jangan kau pikir kekuatan ini bisa kau gunakan untuk hal yang tidak penting!" Tiba-tiba dewa Fenrir menegurnya. Renata berdehem. Dia baru ingat jika dewa ini mengetahui isi hatinya.
"Iya-iya tahu. Lagian siapa suruh sih aku bisa mendengar pembicaraan mereka. Aku juga tidak meminta kan. Jadi jangan salahkan aku!" ucapnya.
"Ingat perkataan aku sebelumnya. Jangan sampai kau salah memilih pasangan. Konsekuensinya di sini rakyatlah yang akan menanggungnya."
"Iya, tahu kok. Udah sana, yang tua jangan kepo sama urusan anak muda."
Renata tertawa. Dia mencoba untuk bercanda dengan dewa Fenrir. Kemudian dewa menghilang.