
Setelah sarapan penuh drama di kediaman Soleil, Renata dan ayahnya meninggalkan rumah. Renata harus pergi ke kampusnya untuk mengurus sesuatu, sedangkan si kepala keluarga tentu saja pergi ke kantornya. Oleh sebab itu, selain para pelayan dan anggota keamanan, dua perempuan yang dikategorikan sebagai iblis oleh Renata masih berada di kediaman Soleil.
Melihat situasi yang telah aman, Florencia berkata dengan bahagia pada Bellacia, "Ma, aku yakin banget. Pasti Renata itu sakit hati karena enggak kita anggap selama ini. Terutama sama Mama."
"Kamu benar sayang. Mama juga tidak sudi itu punya anak seperti dia," ucap Bellacia sambil terkekeh.
"Aku lihat matanya merah ketika selesai makan barusan. Pasti dia akan menangis, merengek di mobilnya. Haha."
"Haha, Mama senang banget punya anak sepintar kamu sayang. Muah!" Bellacia dan Florencia saling berpelukan.
"Sama. Aku juga bangga punya Mama yang secerdas Mama. Walaupun kita belum memberi tahu tentang EO pada Bapak Kepala Keluarga Soleil, tetapi dia akhirnya tetap marah pada Renata."
"Betul. Anak kemarin sore itu hanyalah sebuah kerikil. Sebentar lagi, dia akan mati dan kita singkirkan."
Tiba-tiba, ada seorang pelayan yang lewat dan membuat keduanya terkejut. Sayangnya, dua Iblis itu tidak dapat melihat wajahnya.
"Siapa kamu? Balikkan badanmu!" seru Florencia yang panik.
"Ya. Perlihatkan wajahmu, pelayan!" tambah Bellacia.
Mendengar hal tersebut, pelayan itu terkejut dan membalikkan badannya, "Ini saya Nyonya dan Nona. Saya sedang disuruh merapikan sesuatu oleh Sentia dan terburu-buru."
"Ah, itu ternyata kamu! Okay, bekerjalah dengan baik dan buat pelayan lain menaruh rasa percaya padamu," balas Bellacia setelah melihat wajah pelayan yang ternyata bagian dari kelompoknya.
"Baik. Kalau begitu, saya undur diri."
Setelah kepergian pelayan tersebut, keduanya masih bersuka cita atas kejadian tadi pagi. Mereka juga mulai melanjutkan kembali rencana pembunuhan Renata.
Hari telah sore dan Renata telah berhasil mengurus keperluannya di kampus. Tugas akhirnya sudah diserahkan pada para pembimbing dan penguji. Dia tinggal menunggu panggilan sidang saja untuk menyelesaikan S-1. Waktu masih cukup lama sebelum bertemu Ferdinand dan Renata memilih untuk singgah terlebih dahulu ke apartemen pribadi miliknya.
Tidak ada seorang pun yang tahu apartemen itu, bahkan ayahnya sekalipun.
Apartemen ini adalah sesuatu yang dimiliki Ibunya sebelum menikah. Dia akan berada di sini untuk menenangkan pikiran dan sebelum meninggal, Ibunya mewariskan apartemen ini pada Renata. Ibunya bilang sahabatnya yang akan mengurus ganti nama di sertifikat ini agar dibuat atas Renata pada umur 21 tahun.
Di kehidupan sebelumnya, Renata belum sempat melihat sahabat ibunya.
Renata menjadi termenung. Sepertinya, Renata juga mengikuti jejak Ibunya untuk menggunakan apartemen ini sebagai tempat melarikan diri sejenak. Rasanya, Renata ingin tidak bisa berpikir karena terlalu banyak hal yang harus dia pikirkan. Perempuan itu mulai takut karena harus bertemu dengan Ferdinand.
Apa yang harus dikatakannya?
Ruas jari Renata mengambil gawainya. Dia melihat jam semakin mendekati untuk bertemu dengan Ferdinand.
"Come on Re! Kamu harus tampil cantik di depan Ferdinand. Jangan sampai mengecewakan dia." Dia beranjak dari posisi ternyaman kemudian mandi.
Setelah selesai membersihkan dirinya. Renata membuka lemari alhamarhumah Ibunya. Mendiang Sarah.
Renata kembali tercenung. Dia tersenyum ketika melihat ada catatan kegiatan yang dilakukan oleh Ibunya semasa hidupnya dulu.
"Ternyata kamu menuliskan semua kegiatan yang kau lalui selama berada di apartemen ini, Bu," ucapnya.
Renata membaca isi surat itu. Dia terisak ketika membaca hak yang menyedihkan sekaligus membuat jantungnya tak karuan.
"Renata sayang. Ibu sangat mencinta kamu lebih dari apapun, Nak. Mungkin saat kamu membaca pesan ini, Ibu sudah tak adalagi di dunia ini. Kaku harus kuat ya sayang. Jangan mudah percaya pada orang lain, selain diri kamu." Wanita yang memakai dress berwarna merah menyala itu menghapus butiran air kristal di sela matanya.
**
Ferdinand sudah bersiap dengan sebuket bunga ros di tangannya. Pria itu tersenyum ketika melihat kedatangan Renata.
Gadis itu begitu cantik dengan balutan dress merah menyala yang digunakannya. Itu sangat pas dan cocok.
Lalu dia juga menggunakan polesan natural. Sebab tanpa make up yang bold sekalipun, Renata sudah cantik. Dia memang terlahir cantik tanpa bantuan make up.
Ferdinand menganga besar. Bibirnya dikatupkan oleh tangan Renata. Dia kaget dan membuang muka.
"Hei! Kenapa kau segitunya melihat aku? Apa aku terlihat aneh!" tanya Renata yang melihat dari atas hingga ke bawah tampilannya.
Pria yang sedang bersama dengan dia menggeleng. "Tidak. Kamu tidak memiliki kurang sedikitpun, Re. Kamu begitu cantik dan anggun. Aku sampai terpesona dan tak bisa untuk memalingkan wajah," balas Ferdinand.
Renata tersipu malu. Dia menutupi mulutnya dengan tangan kanan. Wajahnya memerah serta badannya panas dingin.
"Astaga. Kenapa dia jadi memuji aku seperti ini. Aku, aku aku tak bisa untuk mengendalikan diri. Aku terbawa suasana. Alias baper." Dia berdehem kecil untuk menghilangkan rasa gugup.
"Bukankah semua wanita itu cantik?"
"Ehem! Kau benar. Semua perempuan itu cantik. Ah, aku sampai tak bisa untuk berbicara dengan jelas," ujarnya.
"Ferdinand, apa kau tidak mau membelikan aku minum serta makan? Kau sungguh pria yang pelit," sahut Renata.
Jujur! Dia masih gugup dan tak bisa untuk menyembunyikan betapa dirinya merasa kacau dengan gombalan Ferdinand tadi.
"Ya ampun! Aku lupa. Oke. Ayo kita pesan makanan." ucap Ferdinand yang memanggil waiters.
"Kamu mau minum apa, Re?" tanya Ferdinand yang memberikan buku menu ke Renata.
Gadis itu mulai membaca buku menu yang ada di depannya. Sesekali Renata memanyunkan mulutnya tanpa sadar. "Jus alpukat satu terus sama seafood pedas saja deh!" ujar Renata tersenyum.
"Kalau begitu samakan saja."
"Hah? Kok sama? Memangnya kamu suka seafood?" ucap Renata kaget.
"Ya begitulah. Seafood memiliki cita rasa yang lezat dan juga makanan sehat yang berasal dari laut. Negara kita memiliki begitu banyak hewan di laut dan darat."
"Oh, aku pikir karena ada alasan lainnya," jawab Renata.
Ferdinand tersenyum manis. Pria itu tengah menatap wanita yang dia sayangi.
"Re, apa kau setuju dengan pertunangan kita? Apa kau benar-benar ingin menjadi soulmateku?" tanya Ferdinand tanpa basa-basi.
Renata menelan ludah. Inilah yang ditakutkan olehnya. Dia sendiri bingung dengan perasaanya. Namun, setiap bertemu dengan Ferdinand, hati Renata tak bisa untuk diatur, darahnya bergejolak seakan bisa membanjiri seluruh kota dan jantungnya ingin melompat keluar.
"Hmp!" Dia bingung, tidak tahu harus menjawab apa. Tidak adalagi kata-kata yang bisa diucapkan oleh lisannya. Mulutnya seperti beku dan otaknya tidak lagi mampu untuk berpikir.
"Hehe, aku tahu. Kau pasti bingung ingin menjawab apa. Oke, tidak masalah jika kamu belum bisa menjawabnya. Tapi jujur, aku menyayangimu setulus hati dan aku berharap kau juga merasakan hal yang sama denganku." Senyuman Ferdinand membuat batin Renata berteriak meminta kepada Dewa Fenrir agar memasukkan Ferdinand ke dalam kategori tiga jodohnya.
"Please, jadiin Ferdinand salah satu di antara mereka bertiga jodoh aku," batinnya menangis.