
"Renata, Anda telat!"
Gadis itu berdebar kencang setelah mendengar pernyataan Head of HR di La Lune. Bahkan sebelum HR yang berada dihadapannya ini berbicara, Renata sudah mengetahui kekesalan sang HR berkat kemampuan supranaturalnya. Pak Rendy sedikit menggerutu bahwa Renata sungguh tidak profesional.
"Maafkan saya, Pak."
Pak Rendy menghela napas panjang. Pria paruh baya itu benar-benar kesal namun tampak dia menahannya. Renata menebak bahwa ada kemungkinan karena pria tersebut tahu bahwa Renata adalah anak dari pemilik dan pemimpin perusahaan La Lune.
"Baiklah. Jujur saja, saya kecewa dengan Anda karena saya sudah berharap banyak."
"Sekali lagi, saya minta maaf, Pak," kata Renata makin deg-degan. Bukan apa-apa, orang-orang yang bukan penjilat seperti Pak Rendy adalah orang yang menurut Renata patut disegani. Mereka mengerjakan segala sesuatu dengan maksimal bukan mencari 'perhatian' agar dapat posisi yang baik.
"Okay. Lebih baik, kita langsung wawancara saja, silakan duduk."
Mendengar itu, Renata bergegas untuk duduk dan tidak ingin memperlambat pekerjaan Pak Rendy seperti tadi. Tak lama, Pak Rendy juga duduk di tempatnya. Renata masih menanti pria itu berbicara.
"Hasil tes kamu saat magang di tim Finance masih terekam dalam sistem. Jadi, kita tak perlu melakukan tes kompetensi ulang. Kalau begitu, bisakah kamu memperkenalkan ulang dirimu dan alasan kamu memilih untuk bergabung dengan Divisi Parfum?"
"Baik. Terima kasih atas kesempatannya, Pak Rendy. Perkenalkan, nama saya Renata Soleil. Usia saya 20 tahun. Saat ini, saya seorang mahasiswa ekonomi yang skripsinya sudah selesai. Sebelumnya, saya telah melakukan magang di perusahaan La Lune, tepatnya di divisi Finance. Namun, seiring berjalannya waktu, saya merasakan ketertarikan pada pengembangan Divisi Parfum. Saya menyadari bahwa saya tidak memiliki latar belakang pendidikan yang menunjang di bidang pemasaran ataupun penelitian parfum. Akan tetapi, saya percaya diri dapat menjadi anggota tim yang baik jika diberikan kesempatan. Terima kasih," kata Renata yang setelahnya menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
Sudah lama sekali dia tidak melakukan wawancara kerja. Dia takut melakukan kesalahan saat memperkenalkan diri tadi.
Pak Rendy sendiri hanya diam saja sebelum akhirnya kembali berkata, "Baiklah. Sebenarnya, Pak Ferdinand sudah memberi tahu saya untuk menaruh Anda di divisi parfum untuk latihan sebelum memimpin perusahaan La Lune. Dengan kata lain, ini adalah sebuah formalitas saja. Namun, saya ingin memastikan satu hal, apakah Anda tahu bahwa Anda akan menjadi asisten dari Kepala Divisi Parfum?"
"Izin menjawab. Iya, Pak. Pak Ferdinand telah memberi tahu saya."
"Baik. Kalau begitu, saya akan menghubungi Pak Arnold. Anda dapat melakukan wawancara user dengan dia besok."
"Baik, Pak. Terima kasih."
Saat Renata pikir wawancara mereka sudah berakhir, tiba-tiba Pak Rendy kembali berbicara, "Renata."
"Iya, Pak?"
"Saya harap kamu tidak menyia-nyiakan kesempatanmu. Saya melihat bahwa kamu tidak akan bermain-main dengan pekerjaanmu. Namun, saya berharap kamu dapat memberikan sebuah kemajuan di dalam tim. Jujur saja, tidak semua orang dapat dengan mudah untuk masuk dan bahkan pindah ke divisi lain di La Lune," kata Pak Rendy.
Pria itu tidak lagi menggunakan saya—Anda pada Renata dan terdengar lebih akrab. Walaupun demikian, Renata merasa hatinya sedikit tercubit. Mungkin Pak Rendy berpikir keterlambatannya tadi menunjukkan adanya kemungkinan Renata tidak bersungguh-sungguh. Renata gagal memberi kesan baik pada orang yang baik.
Namun, belum sempat Renata menjawab, Pak Rendy kembali berkata, "Jangan pikir bahwa saya meragukan kemampuan dan semangatmu. Tidak. Itu tidak benar. Saya hanya ingin mengingatkan saja karena Ayah dan ibumu adalah sahabatku. Akan ada banyak orang di perusahaan ini yang menanti kamu membuat kesalahan dan meletakkan kesalahan itu pada ayahmu."
Renata tertegun. Ternyata dia berpikir terlalu jauh. Namun, mengetahui bahwa ada orang selain ayahnya yang mengharapkan Renata untuk melakukan terbaik, membuat perempuan itu tambah bersemangat.
"Baik, Pak. Terima kasih atas nasihatnya. Saya akan mengingatnya dengan baik."
"Ya. Terima kasih juga Renata. Saya harap kamu melakukan yang terbaik. Sampai jumpa lagi."
"Baik, Pak."
Setelah menutup pintu dan keluar dari ruangan tadi, Renata mengusap dadanya dan dapat bernapas dengan lega. Perasaannya campur aduk. Namun, setelah ketegangannya menghilang, dia menjadi kesal karena teringat kejadian tadi pagi.
Sungguh Aneh!
Mobil yang ditabrak Renata tadi pagi bergerak tidak wajar. Bahkan, Renata dengan kekuatan supernya itu, tidak dapat melakukan apa-apa dan berakhir menabraknya. Seharusnya, untuk hal sepele seperti itu, penglihatan Renata dapat mendeteksi dan menghindarinya, bukan? Bagaimana pria itu mengubah arah kemudi dengan cepat? Apakah jangan-jangan dia juga bukan manusia biasa?
Kalau dia bukan manusia biasa, apakah ada kemungkinan pria itu adalah salah satu dari tiga jodoh pilihan Selene. Tapi, bagaimana cara mengetahuinya? Tidak ada petunjuk selain 'benda' yang dikatakan Dewa Fenrir. Namun, bagaimana Renata dapat menyadari bahwa benda itu adalah benda yang dimaksud?
Ini terlalu sulit. Sepertinya, memang lebih baik Renata memfokuskan diri untuk membangun dan bekerja dengan baik di La Lune. Daripada memikirkan hal-hal yang terasa sulit, lebih baik mengerjakan hal yang bisa dia kerjakan.
Handphone Renata berbunyi dan perempuan itu dengan segera membukanya. Ternyata ada email formalitas dari Pak Rendy yang masuk.
Kepada : Renatalalune@bmail.com
Dari : Rendy.AP@Lalune.com
CC : Arnold.DL@Lalune.com
Selamat pagi Renata,
Terima kasih karena telah melakukan wawancara dengan Tim HR dari La Lune. Kami ingin memberitahukan bahwa jadwal wawancara user Anda bersama Arnold de Louise, Kepala Divisi Parfum, telah keluar.
Tanggal: 4 Februari, pukul 10.30 WIB
Tempat : Gedung La Lune lantai IX.
Mohon mengonfirmasi kehadiran Anda melalui email ini. Terima kasih.
Salam,
Rendy April Morgen
Head of HR La Lune
Jakarta
Dengan cepat, Renata akhirnya membalas email tersebut dengan ucapan terima kasih dan juga mengonfirmasi bahwa dirinya dapat hadir.
Entah mengapa, firasatnya mengatakan besok adalah hari yang panjang.
Dia sudah pernah mencari tahu tentang Arnold de Louise. Pria itu termasuk orang yang perfeksionis. Jika dalam kuadran warna, pria itu juga masuk ke kategori fiery red. Sungguh, sebuah kombinasi gila sebagai seorang kepala tim. Renata mendengar kabar bahwa hanya orang-orang bermental kuat yang dapat bertahan di bawah kepemimpinan pria itu. Namun, di bawahnya, divisi parfum menjadi salah satu divisi terkuat di La Lune.
Berbagai ide gila dan terlihat ambisius berhasil ditaklukkan pria itu. Business Model Canvas-nya selalu membuat jajaran direksi takut namun excited karena catatan membuktikan kegilaan pria itu selalu membawa profit besar bagi perusahaan. Oleh sebab itu, selain mental kuat, orang-orang berotak encer ditempatkan di sana.
Bodohnya Renata yang sempat ingin menjadi pimpinan divisi parfum dan membawahi orang seperti itu? Diwawancarai besok saja, dia sudah mulai cemas. Namun, siap atau tidak siap, Renata harus menghadapi Arnold de Louise—calon leader-nya.
Wish me luck!