
Renata telah mengirimkan surat lamaran dan CV pada ayahnya. Kini, dia hanya tinggal menunggu informasi lebih lanjut mengenai proses perekrutannya. Renata sungguh tidak sabar. Apakah mereka akan membicarakan Renata yang menggunakan 'orang dalam'?
Tunggu, untuk apa Renata memedulikan hal sepele macam itu?
Sejak Renata kecil, setiap langkahnya sudah diperhatikan oleh banyak orang. Dibicarakan orang—entah baik atau buruk sudah menjadi makanan sehari-harinya. Perempuan itu lalu berpikir untuk mengabaikan perasaannya itu.
Tidak ada gunanya terlalu larut dalam sebuah kekhawatiran karena hanya menambah beban pikiran. Tidak akan ada solusi yang keluar dari sana. Lebih baik dia melakukan hal yang lain, seperti memikirkan tentang apa yang bisa dia lakukan di luar perusahaan La Lune?
Siapa tahu dia memiliki bakat lain yang mungkin dapat dia gunakan untuk membuat bisnisnya sendiri? Dengan begitu, Renata juga memiliki senjata rahasia yang dapat melindungi keluarganya.
"Hufft," Renata menghela napas pada akhirnya.
Dia tidak menemukan jawaban. Baru kali ini dia merasakan tak berdaya. Renata adalah seorang yang cerdas, tetapi tidak banyak kesulitan dalam hidupnya. Ekhem, kecuali duo Iblis itu.
Renata tidak tahu harus sedih atau senang karenanya. Kenyamanan dalam hidup yang diberikan oleh orang tuanya, terutama sang Ayah, membuat Renata tidak terlalu memikirkan kesempatan-kesempatan lain. Memilih jurusan ekonomi dan bisnis pun dia pilih karena pemikiran sederhananya untuk membantu La Lune. Padahal, membantu La Lune tidak hanya selalu melalui bidang itu.
Apa yang sebenarnya Renata suka? Perempuan itu seketika iri pada Diademe yang tahu apa yang ingin dia lakukan. Renata bahkan cemburu pada Florencia yang ingin menguasai La Lune meskipun terlihat tidak masuk akal menilik dari kemampuannya. Namun, setidaknya saudara tirinya itu mempunyai sebuah tujuan hidup yang jelas, bukan?
Renata tanpa sadar kembali larut dalam kekhawatiran walaupun dengan subjek yang berbeda. Kepalanya mulai terasa penuh. Seandainya Ibu masih hidup, apakah dia dapat memberikanku saran? Atau bahkan aku tidak akan pernah memikirkan hal ini?
Apakah semua orang yang seumuran dengan Renata merasakan hal yang sama? Tidak tahu dan bingung dengan apa yang akan dia lakukan? Namun, di sisi lain, memiliki rasa semangat yang meluap-luap?
Tunggu…
Renata bukan hanya manusia biasa. Ada darah werewolf dalam dirinya. Bagaimana dengan para werewolf seusianya? Apakah mereka memiliki kekhawatiran lain seperti karier atau hal lain?
Jika demikian, apa itu?
Pack Bellemort
"Guillaume, apa yang sedang kau pikirkan?"
Suara Jacques—temannya sekaligus Beta yang akan mendampingi Guillaume untuk memimpin Pack-nya— menyadarkan lamunan Guillaume.
"Tidak ada yang kupikirkan," balas pria itu datar.
Mendapatkan respons demikian, Jacques memutar matanya. Namun, Guillaume hanya melihatnya sekilas saja.
"Ini aneh. Benar-benar aneh," batin Jacques. Sang Beta itu bingung mengapa Guillaume tidak memarahinya. Biasanya, Guillaume akan memelototinya saat Jacques bertingkah sedikit kurang ajar. Namun, kali ini tidak.
Pada akhirnya, Jacques memutuskan untuk bertanya pada Guillaume, "Kau kenapa?"
Belum sempat Guillaume menjawab, mate dari Jacques mengetuk pintu. Mengetahui hal tersebut, Jacques langsung menghampiri Roseline, mate-nya. Keduanya pun kembali masuk ke ruangan Guillaume.
"Ada apa dengan kalian? Biasanya ada saja yang kalian pertengkarkan?" tanya Roseline yang merasa Jacques dan Guillaume hanya berdiam diri saja.
Mendapat mindlink dari matenya, Roseline lalu menatap Jacques. Tak lama, perempuan itu menatap Guillaume, "Kau kenapa?"
Interaksi pasangan yang ditakdirkan Selene ini tak lepas dari observasi Guillame. Sebenarnya, bisa saja pria itu mengetahui apa isi mindlink dari kedua orang dihadapannya. Namun, rasanya Guillaume terlalu malas untuk itu. Kali ini, pria itu tidak menjawab apa pun.
Roseline seketika memberanikan diri untuk menebak pikiran abang sepupunya itu, "Kau memikirkan di mana matemu ya?"
Jacques terkejut mendengar penuturan matenya yang sangat berani itu. Topik mate milik Guillaume adalah hal tabu di pack mereka. Tidak ada seorang pun yang berani menanyakannya pada Guillaume, bahkan Elders sekalipun.
Ini semua karena pria itu sampai sekarang tidak berhasil menemukannya padahal usianya sudah 32 tahun. Padahal di usia 25 tahun, seorang pria werewolf biasanya sudah mengenali mate-nya. Hal ini juga yang membuat pengangkatan Guillaume sebagai Alpha di packnya terus tertunda karena sebuah tradisi untuk mengangkat Alpha dan Luna-nya sekaligus.
Ada keheningan di ruangan itu. Guillaume sepertinya tidak ingin menjawab pertanyaan Roseline. Oleh sebab itu, Jacques terus berpikir bagaimana cara untuk menghindari kecanggungan itu.
"Mungkin, matemu masih belum berusia 21 tahun, Guillaume! Kau berdoa saja pada Selene agar dia berusia 21 tahun! Lalu—" Jacques mencoba bercanda. Ada jeda di sana karena Jacques berusaha mengingat apa yang hendak dia katakan.
Sayangnya, Roseline merasa Guillaume justru marah. Terlihat dari otot wajahnya yang mengeras. Perempuan itu berusaha menghentikan ucapan mate-nya sebelum menyinggung Guillaume terlalu jauh. Namun, itu semua terlambat.
"Sampai kapan akhirnya mate-ku itu berusia 21 tahun?" Tidak pernah dalam sejarah Bellemort, seorang alpha diangkat setelah berusia 30 tahun. Lihatlah aku! Apakah aku nanti akan diangkat di umur 40 tahun?" ucap Guillaume sangat panjang. Nadanya penuh dengan tekanan yang membuat sesak ruangan itu.
Roseline dan Jacques merasa sulit bernapas dengan kemarahan Guillaume.
Dengan susah payah, Roseline berusaha menghentikan sepupunya itu, "Hey, Bro! Hentikan, a—ku su—lit ber-nafas."
Guillaume pun akhirnya menghentikan aura Alpha yang keluar dari dalam dirinya.
Setelah itu, Jacques yang kembali bernafas dengan baik, menegur temannya itu.
"Guillaume aku minta maaf jika aku menyinggungmu. Tapi, aku tidak ada niat untuk itu. Aku hanya mencoba menghiburmu. Maafkan aku."
"Tidak apa-apa. Maafkan aku juga yang melampiaskan kekesalanku akan takdir pada kalian," kata Guillaume.
Sepasang mate itu saling memandang dan merasa kasihan pada Guillaume. Sebelumnya, Guillaume adalah werewolf yang ramah. Namun, semakin lama dia berubah menjadi pemurung.
Tidak ada yang dapat Pack Bellemort salahkan tentang ini. Tidak mungkin mereka mengutuk Selene yang memberi takdir atau Dewa Fenrir yang Maha Adil. Bukan hanya Guillaume. Sesungguhnya, Pack ini juga terus menanti kehadiran Luna baru mereka yang tidak pernah terlihat di mana.
Apakah Luna Baru mereka manusia murni atau keturunan campuran dengan mahkluk lain? Seperti apa dia? Apakah akan membuat Pack Bellemort semakin jaya? Di mana dia?
Apakah dia benar-benar ada?
Pertanyaan terakhir adalah pertanyaan yang jauh di dalam benak Guillaume. Tak ada satupun yang dapat mendengar pertanyaan itu hanya Sebastian—wolf dalam diri Guillame yang mendengarnya.
"Tentu saja dia ada," kata Sebastian pada Guillaume.