
"Florencia, akhirnya kamu datang!"
"Kenapa Ibu? Sepertinya begitu mendesak?" tanya Florencia saat masuk ke kamarnya. Bellacia biasanya tidak pernah langsung menggebu-gebu seperti itu menghampiri Florencia, terutama setelah menikah dengan Ferdinand.
Ibunya itu selalu menjaga etiketnya bahkan melarang Florencia menggunakan lo dan gue untuk sapaan pada temannya. Namun, kini Bellacia bertingkah seolah tidak ada ada hari esok dan menanggalkan ketenangannya yang merupakan bagian 'etiket' miliknya.
"Kau tahu? Si bodoh Renata membatalkan kerja sama dengan EO milik Cynthia! Aku malu sekali padahal sahabatku itu bahkan sudah mentransferkan 20% biaya yang akan dibayar keluarga Soleil ke rekeningku."
"Sialan. Lalu bagaimana, Bu? Apa kau harus mengembalikan uang itu ke mereka?"
"Jelas! Ditambah lagi, Cynthia marah dan bahkan memintaku untuk membayar denda karena mereka telah mengosongkan jadwal mereka di bulan ini."
"Oh, God! Tapi, Ibu masih punya 20% yang Tante Cynthia kirimkan ke Ibu, bukan?"
Bellacia hanya diam dan membuat Florencia tercengang.
"Ibu… Lalu bagaimana?"
"Aku tidak tahu."
"Tante Cynthia adalah sahabat Ibu, kan? Tidak bisakah dia memberikanmu waktu untuk mengembalikan uangnya?"
"Dia tidak mau. Dia bahkan mengancam akan membocorkan rencana peracunan Renata ke Ferdinand jika kita tidak mengembalikan uang itu secepatnya."
"Sial! Sungguh sial! Renata brengsek. Ada apa dengan si bodoh itu? Mengapa dia tiba-tiba membatalkan kerja sama dengan EO milik sahabat Ibu? Lagi pula, usaha sahabat Ibu menjadi besar karena Ibu selalu memakai jasa mereka dan mengenalkan pada circle sosialitamu. Sahabat macam apa yang Ibu punya itu?"
"Entahlah. Ibu tidak tahu," mereka diam sebelum Bellacia kembali berkata," bagaimana jika kau telepon Barbara? Dia adalah putri kesayangan sahabatku itu. Siapa tahu Cynthia jadi berubah pikiran?"
"Baiklah akan kucoba."
Florencia mencoba memanggil Barbara. Namun, beberapa kali panggilan Florencia diabaikan. Selalu saja mesin otomatis yang menjawab panggilannya dengan mengatakan bahwa Barbara tidak mengangkat panggilannya. Barbara tidak tahu bahwa pasangan Ibu dan anak ini semakin tegang, hingga tak lama nada tunggu itu berubah suara.
"Kenapa?" tanpa basa-basi dan bernada ketus, Barbara mengangkat telepon dari Florencia.
Florencia bingung dengan respons Barbara. Temannya itu biasanya tidak pernah ketus pada Florencia.
"Hey! Kau kenapa? Aku yang seharusnya kesal karena menunggu lama sekali agar kau mengangkat teleponmu. Jika kau ada masalah, jangan lampiaskan ke aku, teman!"
"Baiklah. Ada apa?"
"Begini, kau tahu bukan EO milik ibumu akan menyelenggarakan ulang tahun untuk adik tiriku?"
"Ya? Lalu? Jika itu menyangkut urusan bisnis, kenapa kau tidak menghubungi Ibuku?"
"Baiklah. Aku akan langsung ke poin utama. Adik tiriku itu tiba-tiba ingin menggunakan jasa EO milik temannya. Tante Cynthia lalu meminta persenan yang sudah diberikan pada Ibuku dan juga dendanya secepatnya. Ibuku jelas akan menggantinya, namun tidak sekarang karena ada yang harus dia lakukan dengan uang itu."
"Cih," Barbara tersenyum miring dan memutar matanya. Dia berani karena tahu Florencia tidak dapat melihatnya. Ada sedikit perasaan kesal karena menyadari kebenaran dari ucapan Theo bahwa Florencia dan Ibunya memang tidak punya kuasa sebesar itu walaupun sekarang mereka bagian Soleil.
Sadar dengan respons temannya yang lagi-lagi menyebalkan, Florencia tidak dapat menahan kekesalannya, "eh! Kenapa kamu berdecih seperti itu?"
"Tidak apa. Aku akan mengusahakannya. Namun, aku tidak berjanji."
"Tolonglah. Kau tahu bukan bahwa kami sebentar lagi akan menyingkirkan adik tiriku yang bodoh itu? Aku akan mentraktirmu nanti jika semua ini sudah selesai."
Ada keheningan. Barbara teringat rencana itu. Jika demikian, Barbara dapat membalas dendam pada Theo. Dia bahkan mungkin membuat pria itu mengemis padanya walaupun itu butuh proses.
"Maaf. Baiklah, kau tahu benar aku tidak butuh traktiranmu. Tapi, aku butuh bantuanmu yang lain. Apakah kau tahu Theodore Alexandre?" balas Barbara pada akhirnya setelah tersadar dari lamunannya.
"Ya, dia pewaris keluarga Alexandre. Kenapa?"
"Aku tadi bertemu dengannya dan dia memperlakukanku dengan tidak hormat."
"Kau ingin aku menggunakan nama Soleil untuk menyadarkannya?"
"Betul! Sebenarnya, tadi aku sudah menggunakan nama Soleil. Aku bahkan menyebutkan nama Ibumu dan namamu. Namun, dia mengabaikannya karena kalian bukan apa-apa di keluarga Soleil."
Mendengar itu, Florencia menaikkan volume suaranya, "APA? Sial sekali pria itu! Lihat saja, akan kutunjukkan kekuasaanku setelah Renata mati akhir bulan ini!"
Bellacia menatap tajam Florencia yang berapi-api. Walaupun penasaran, perempuan itu mencoba mengingatkan Florencia bahwa itu adalah rencana rahasia dan tidak boleh sampai gagal karena ada yang mengetahuinya. Tersadar, Florencia kembali menenangkan dirinya.
"Baik. Akan kuberi pelajaran pria itu!"
"Baik. Kutunggu. Aku akan berusaha membujuk Ibuku untuk memberikan waktu pada Tante Bellacia,"
"Siap!"
Setelah panggilan tersebut berakhir, Bellacia dan Florencia bertatap-tatapan. Ada perasaan kesal dalam diri mereka. Mengapa rencana mereka menghadapi hambatan di saat-saat terakhir?
"Sebenarnya ada apa dengan Renata? Apakah dia sudah curiga pada kita?"
"Ibu tidak tahu, Florencia. Menurutku, dia belum curiga pada kita. Intinya adalah kita harus menemukan cara meracuni dia walaupun tanpa EO milik Cynthia."
"Betul! Bila rencana kita berhasil, kita bahkan akan terhindar dari kecurigaan, Bu. EO pilihan Renata tidak ada hubungannya dengan kita. Kita akan benar-benar, bebas."
"Betul sekali."
Renata telah kembali dari latihannya. Dia juga sudah makan malam bersama ayahnya dan dua iblis. Sejauh ini, kedua orang itu belum menunjukkan kekesalannya. Renata yang pernah tertipu di kehidupan pertamanya, tahu bahwa dia tetap harus waspada. Bisa jadi, keduanya punya rencana tambahan yang akan menyulitkan Renata. Namun, seperti duo iblis, Renata juga harus tenang dalam pergerakannya.
Renata harus memulai menyewa orang untuk mengawasi mereka. Setelah makan malam yang penuh kepalsuan itu, Renata membersihkan diri dan bersiap untuk beristirahat. Namun, Dewa Fenrir tiba-tiba muncul di hadapan perempuan itu.
"Ya, Dewa. Mengapa engkau datang tiba-tiba? Perasaan, aku tidak memanggilmu."
"Hei, bocah! Kau pikir aku jin lampu yang datang sesuai keinginanmu? Asal kau tahu, aku datang kalau aku ingin saja dan bukan karena panggilanmu. Menyebalkan sekali," gerutu Dewa Fenrir.
"Ya ampun. Aku tidak tahu kalau seorang Dewa dapat bertingkah kekanak-kanakan –"
Dewa Fenrir langsung memotong ucapan Renata yang belum selesai,"—padahal aku ingin memberitahukanmu rencana Bellacia dan Florencia. Tapi, sepertinya kau tidak memerlukannya? Ah Sarah, anakmu ini memang mandiri sekali dan tidak butuh bantuanku sepertinya."
"Ah, maafkan aku Dewa Fenrir. Bisakah kau memberi tahuku?" Renata mencoba membujuk Sang Dewa, "aku mohon."
"Tidak. Aku sudah tidak mood lagi. Aku akan pulang dulu, ya."
"Tidak! Tunggu! Baiklah, kalau tidak mau memberi tahu tentang rencana mereka tak apa. Tapi, dapatkah kau membantuku untuk hal yang lain?"
Dengan jual mahal, Dewa Fenrir pun bertanya pada perempuan itu, "apa?"
"Untuk 3 jodoh dari Dewi Selene, bagaimana aku mencari mereka? Apakah aku dapat mencium aroma mereka saat bertemu mereka atau justru aku punya kemampuan lain yang dapat membantuku untuk menemukan mereka?" tanya Renata dengan penuh pengharapan.