Queen Laluna

Queen Laluna
Dewa Fenrir Baperan



Renata terbangun dengan mimpinya yang buruk. Mimpi itu seakan-akan nyata dan dia baru saja pulang dari dunia lain.


Sedikit merasakan nyeri di kepalanya, serta tangannya yang terbakar memang ada. "Ada apa? Kenapa luka bakar ini memang ada di tanganku? Atau jangan-jangan aku baru saja pulang dari alam werewolf," katanya sembari menyingkirkan selimut yang enggan untuk disingkirkan.


Renata melihat wajahnya yang sedikit gosong di depan kaca besar. Dia bisa melihat lagi dengan jelas luka bakar di tangan kirinya memang begitu nyata, begitu juga dengan rasa sakit serta rasa perih.


"Aku harus bertanya kepada Dewa Fenrir mengenai ini?" katanya.


Gadis itu fokus memanggil-manggil nama Dewa tua yang bersemayam di dalam tubuhnya. Eh tidak, bisa saja dia pergi ke alamnya dan hanya akan kembali pada saat yang dibutuhkan.


Jika benar, maka saat ini dia tengah membutuhkan penjelasan terhadap mimpinya yang serasa nyata ini.


"Kenapa tidak muncul-muncul juga!" dengusnya. Renata meletakkan pantat montoknya di kasur. Kemudian mengambil ponsel.


Baru saja dia membuka layar kunci, sebuah pesan masuk membuat senyuman di kedua bibirnya merekah. Gadis itu seperti malu-malu kucing.


Entah kenapa, semenjak kemarin bertemu dengan Ferdinand, membuat kepala Renata pusing dan tak bisa dikontrol.


Apakah dia menyukai Ferdinand? Atau benarkah benih-benih cinta itu hadir seiiring dengan berjalannya waktu? Entahlah, Renata berusaha mengahalau pikiran perihal cinta. Baginya sekarang adalah menemukan 3 jodoh yang sudah ditetapkan oleh Selene serta Dewa Fenrir.


"Hi, Beb! Apa kau sudah bangun dari mimpi indahmu?"


Dengan rasa kesal, jari Renata mengetik begitu cepat. "Bukan indah, yang ada buruk, kelam dan jahat."


"Kok bisa? Pasti kamu tidurnya tidak baca doa bukan?"


"Sok tahu kamu. Memangnya, mimpi buruk itu terjadi kalau kita nggak baca doa?"


"Jelas. Karena itu Tuhan menyuruh kita untuk membaca doa sebelum tidur. Supaya kita memiliki mimpi yang indah."


Renata termenung cukup lama. Dia ingin sekali bercerita kepada Ferdinand mengenai dirinya yang bukan manusia sepenuhnya. Dia adalah campuran antara ras manusia dengan manusia serigala.


Yang jadi pertanyaan yang di sini adalah apakah Ferdinand akan mempercayai itu? Ah kurasa tidak. sebab manusia serigala dianggap sebuah legenda atau mitos yang terjadi beberapa ratus tahun yang lalu.


"Kenapa kau tidak membalas pesanku, Beb?"


Renata sadar jika dia belum menjawab pesan singkat dari Ferdinand. "Astaga, aku terlalu memikirkan tentang mimpiku sehingga aku melupakan Ferdinand," katanya.


"Baiklah, mungkin untuk tidur selamanya aku akan membaca doa sesuai dengan unsur yang kau berikan, Beb."


"Kalau begitu aku pamit. aku harus segera ke kantor untuk bertemu dengan klien luar negeri."


"See you!"


***


Renata masih berada di apartemen almarhumah Ibunya. Ini sudah 2 hari dia menghilang dari rumah.


Renata tak mendapatkan pesan dari Ayahnya. Lalu pikiran buruk kembali menghinggapi otak Renata.


"Ayah, Apa kau benar-benar tidak menyayangiku? Aku sudah pergi 2 hari dari rumah tanpa memberi kabar dan kau sama sekali tidak mencariku." Dia merebahkannya kembali badannya di atas kasur.


Di sampingnya, ada figura. Sebuah bingkai foto yang nampak usang, namun berkesan di hatinya.


Tangannya yang jenjang meraih figura itu. Tangannya menyapu debu-debu yang menghinggapi figura itu kemudian meniupndi setiap sisinya yang kotor.


"Apakah benar Ayah sudah tidak mencintai kita lagi, Bu? Lihatlah, aku sudah pergi dari rumah selama 2 hari tanpa memberi kabar apapun. Namun Ayah tidak pernah mencari atau menghubungiku meskipun melalui ponsel. Apakah ini buktinya jika Ayah sudah berpaling kepada 2 iblis itu dan melupakan aku?"


Mata bulan atas Terus saja menatap 3 manusia yang ada di dalam foto itu. Dia mengingat masa kecilnya yang bahagia dan dipenuhi dengan kenangan indah.


Namun itu hanyalah sebuah kenangan, yang takkan bisa terulang kembali. Ibu sudah berada di alam lain dan berbeda dengan dunianya.


Ketika dirinya terus memikirkan mengenai masa lalu, tiba-tiba saja kabut tipis memenuhi ruangan kamarnya.


Sebuah sasaran berat mengagetkan Renata yang melamun. "Anak manusia! Jangan terlalu larut dalam kesedihanmu. semua masa itu takkan pernah terulang kembali jika kau masih berada di alam manusia," kata Dewa Fenrir.


Dengan malas Renata menjawab ungkapan dewa tua itu, "terus jika aku sudah berada di dunia werewolf. Apakah aku bisa bertemu dengan Ibuku?"


"Hmp! Aku tidak bisa memastikan 100%. namun ada kesempatan jika kau bisa menghidupkan Ibumu di dunia werewolf lalu tentu saja kau harus melewati syarat yang sudah aku tetapkan."


Apakah dia harus senang atau tidak? Dirinya memang sangat merindukan Ibunya, akan tetapi Renata sadar. Bahwasanya Sarah sudah tak bisa dihidupkan lagi di dunia manusia.


"Entahlah apa yang harus aku lakukan sekarang, aku sendiri juga bingung."


"Kau masih memikirkan tentang manusia itu bukan?"


Renata memperbaiki posisi duduknya. dia menatap ke pria tua berjanggut putih serta bertubuh gemuk darinya itu.


"Manusia yang mana maksudnya? Ah dasar tua!"


"Apa kubilang barusan, tua?" kata Dewa Fenrir sedikit menggeram.


"Bukannya kau memang sudah tua, hai dewa. Lalu kenapa kau tidak terima?"


"Aku tidak akan memberikan syarat untuk menghidupkan Ibumu lagi. Kau sudah membuat aku marah." Dewa Fenrir bersiap untuk menghilang. Namun digagalkan oleh Renata.


"Huf, maafkan atas kecerobohanku. Jadi manusia yang mana yang kau maksud, hai dewa?"


"Laki-laki yang berada di duniamu saat ini."


"Ferdinand? Dia itu hanyalah sebatas rekan di perusahaan saja. Tidak lebih dan tidak kurang," jawab Renata penuh kebohongan. Akan tetapi dia lupa perihal dewa Fenrir yang tahu akan isi hatinya.


"Jangan coba-coba untuk membohongiku. Apa kau lupa aku yang bisa mengetahui isi hatimu?"


Renata memukul dinding. "Sial! Aku benar-benar merupakan hal besar itu. Ok, kau sudah tahu bukan tentang isi hatiku mengenai Ferdinand?"


"Lalu apa yang akan kau lakukan anak manusia?" tanya Dewa tua itu.


"Apa yang bisa dilakukan oleh eh orang setengah manusia dan setengah lagi memiliki darah werewolf? bahkan aku sendiri tidak mengetahui kekuatan apa saja yang aku miliki?" katanya putus asa.


Renata dilema, bingung dan bimbang. Percuma saja jika meminta kepada Dewa Fenrir soal jodoh yang sudah disiapkan oleh Selene.


"Cepat katakan. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara dengan manusia."


"Hei, Dewa! Kau sudah berbicara lebih dari 5 menit denganku. Ayolah tambah durasi mu setidaknya lima menit lagi agar aku bisa bertanya lebih banyak kepadamu," bujuknya.


"2 menit," balas Dewa Fenrir.


"Mengenai tiga jodohku. Apakah Ferdinand boleh masuk di antara salah satunya?