
Menjadi asisten dari Divisi parfum mungkin bukanlah mimpinya. Namun Renata memiliki ketertarikan dalam hal pemasaran serta juga financi. Mungkinkah minat itu akan membawa Renata pada keberuntungan dalam hidup keduanya inji?
Dia sudah bersiap dengan baju yang diberikan oleh Ibu Sentia. Renata menata ulang rambutnya yang berantakan, lalu sedikit mengoleskan pelembab bibir serta pewarna alami bibir. Perlahan namun pasti. Tap tap. Dia menggunakan jari telunjuknya lalu memasukan benda itu ke dalam tasnya.
Sembari menunggu jam kerja dimulai, Renata bermain ponsel. Dia terlalu gugup sehingga memerlukan sesuatu untuk mengalihkan rasa gugupnya itu.
"Mbak Renata. Silahkan ke ruangan Bapak Arnold!" panggil salah seorang staff dari divisi parfum.
Renata terkesiap. Dia melihat dirinya sudah menawan serta merapikan bajunya atau ada yang kurang.
Renata masuk setelah diizinkan oleh pemilik ruangan itu. Sosok laki-laki yang bertubuh tinggi besar itu memunggungi Renata.
"Saya permisi, Pak," kata si staff itu dan kemudian meninggalkan dia serta Bapak Arnold.
Pikiran Renata saat itu adalah sosok laki-laki tua, gendut, perutnya buncit serta jelek. Namun dia kaget saat tahu bahwa prianitu memiliki kebalikan dari apa yang diduga-duga oleh Renata.
"Selamat pagi, Pak. Saya Renata," ujarnya memperkenalkan diri.
"Saya sudah tahu," sanggahnya.
"Hah!"
"Saya bilang saya sudah tahu. Apa kau tuli?"
Renata segera menggeleng. "Ti-tidak, Pak."
"Bagus. Apa Pak Rendy sudha memberitahu tingkatanmu di sini?" tanyanya sekali lagi.
"Asisten dari Anda, Pak Arnold."
Pria yang bernama Arnold itu melihat vc Renata kembali. Lalu dia meletakkan kertas di atas meja.
Kemudian melepaskan kancing jasnya. Renata memicing. Dia takut jika pria itu akan berlaku buruk.
"Hey! Kenapa kau menutup mata seperti itu!" teriaknya.
"Anu, Pak. Mata saya kelilipan, iya, kelilipan." Bohongnya.
Belum juga satu jam menjadi sekretarisnya, Renata sudah mendapatkan banyak tugas serta diminta untuk menyusun ulang mengenai jadwal meeting.
Renata duduk tidak jauh dari bangku Arnold. Mereka masih dalam satu ruangan yang begitu besar dan juga lebar.
"Apa kau sudah mengerti dengan konsepnya?"
Renata mengangguk. "Sudah, Pak. Saya sedang menata ulang."
"Berapa lama lagi akan selesai?"
"Kemungkinan ini akan segera selesai, Pak."
"Kerjamu cepat juga. Saya suka itu."
Renata acuh. Tangannya bergerak membolak-balikan kertas serta menyesuaikan dengan layar komputer.
Dia tidak ingin mengecewakan Ayahnya, Ibu Sentia serta Om Rendy.
Orang-orang itu sudah memberikan kesempatan serta semangat padanya. Rasa percaya diri serta tanggungjawab. Ya, Renata sudah mendapatkan tanggungjawab karena sudah mengambil pekerjaan di luar jalur kuliahnya.
Jam istirahat. Renata melihat jika Arnold keluar ruangannya dengan gelagat aneh. Pria itu dengan secepat mata memandang sudah ada di depan pintu.
"Eh, kenapa cepat sekali!" kata Vega. Lalu membuka minuman dingin yang dibawa oleh OG.
Dia menyeruput minuman dingin itu hingga ke lambung. Lalu dia kaget dengan kemunculan Dewa Fenrir yang tiba-tiba.
"Hey Renata. Kenapa kau melamun!" katanya.
Renata sontak berdiri. Dia berpikir jika Tiu adalah Arnold. Terlebih lagi kakinya diangkat satu ke atas. Hal yang tak sopan dan dilarang karena dia adalah seorang wanita.
"Huf, Kakek Dewa. Kau suka sekali membuat aku kaget. Apa itu salah satu dari pekerjaanmu?" tanya Renata kesal.
"Bukan aku yang mengagetkanmu, tapi diri kau sendiri yang masih belum terbiasa dengan kekuatan yang diberikan oleh Selene."
"Apa? Jadi itu adalah sebuah kekuatan? Yang benar aja deh. Gak masuk akal banget."
"Ada apa, Kakek? Kelihatannya kau sedang berpikir!" tanya Renata.
"Hm, sepertinya ada hawa lain di ruangan ini. Kau harus berhati-hati. Jangan lengah," katanya.
"Hawa lain bagaimana? Aku di sini dengan bosku. Gak ada siapa-siapa lah," jawabnya.
"Karena itu. Tapi aku masih belum bisa menjelaskan kepadamu. Terasa samar-samar dan-"
"Dan apa?" tanya Renata yang tak sabaran.
"Kau sedang berbicara dengan siapa?" tanya Arnold tiba-tiba. Pria itu sudah ada di depannya. Renata membatu.
Dia bingung. "Ayo Renata. Berpikir dong. Jangan gugup gini," katanya dalam hati.
"Tenang saja. Aku manusia dan enggak makan daging manusia kok."
"Hah!"
Bagaimana bisa Renata menjadi lemot dan tak nyambung begini ketika diajak berbicara. Apakah dia sudah kembali menjadi manusia normal?
Tidak tidak tidak. Renata harus ingat apa yang dikatakan oleh Dewa. Dia harus berhati-hati. Sebab ada hawa lain yang mungkin saja tak baik.
"Anu, saya tadi sedang menonton film. Lalu teringat sampai ke sini," kilahnya.
"Lain kali jangan begitu. Saya tidak suka dengan seseorang yang membawa masalah dari rumah ke kantor," katanya.
"Baik, Pak."
Renata kembali disibukkan dengan pekerjaan barunya. Meski begitu, pikiran Renata terus saja mengingat dengan seseorang yang ditabraknya.
"Bagaimana keadaan orang itu ya? Atau jangan-jangan dia hanya membaik sebentar lalu mati terkena serangan jantung?" Dia memikirkan begitu banyak hal bodoh dan tak penting.
"Renata," panggil Arnold. Namun yang dipanggil tak menyahut juga.
Arnold yang kesal melemparkan pulpen. Trak. Renata masih belum kembali ke alam sadarnya.
"Menyebalkan!" Arnold bangkit kemudian menendang kaki mejanya.
"Ini kantor, bukan tempat untuk berkhayal," dengusnya.
"Ma-maaf, Pak. Saya khilaf."
"Ini SPO kedua untukmu. Jika kau berulah lagi. Silahkan keluar dari divisi ini."
Jam kerja akan segera usai. Namun Renata melihat jika Arnold memandangi sesuatu yang ada di dalam kotak segi empat berwarna biru tua.
"Permisi, Pak. Saya ingin pamit untuk pulang karena sudah jadwalnya," kaya Vega.
"Selesaikan semua tugasnya, setelah itu kau boleh pulang!"
"Tapi, Pak. Kan enggak harus kelar seharian ini juga. Bapak tahu sendiri jika jadwalnya banyak dan rumit. Mana mungkin saya bisa menyelesaikannya dalam waktu sehari saja," bantah Renata.
"Apa kau membantahku?"
"Bukan membantah. Saya hanya memperjuangkan hak saya sebagai pekerja."
"Hm, hak ya. Kau berbicara mengenai hak, lalu di mana kewajiban yang harus kau berikan kepadaku. Selesaikan atau kau takkan kembali ke sini lagi."
"Hah!"
"Aku tidak peduli jika Ayahmu adalah Ferdinand. Selagi kau melanggar ucapanku. Kau akan tahu konsekuensinya."
Renata tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Arnold.
Ternyata benar apa yang diungkapkan oelh Om Rendy. Bahwa Arnold bukanlah seseorang yang mudah ditaklukkan. Apalagi dengan siasat murahan.
"Kakek, Ibu, Ayah. Bagaimana ini? Baru sehari saja aku sudah ingin menyerah rasanya. Apalagi sebulan? Huh, aku terjebak dengan pilihanku sendiri," sesalnya."
Renata seperti merasakan suara bisikan dari Dewa Fenrir. "Itulah mengapa aku meminta agar kau tak salah dalam memilih pasangan, Renata. Semuanya harus kau pikirkan dengan matang-matang tanpa harus melibatkan persoalan hati yang takkan pernah ada habisnya."