Queen Laluna

Queen Laluna
Rencana Iblis



"Dewa Fenrir itu sangat menyebalkan sekali! Kenapa dia tidak mau memberitahu aku," kesal Renata.


Gadis itu membuka ponselnya. Saat ini dia membutuhkan sesuatu yang menyenangkan, bukan yang membuat otaknya pusing. Namun, dia tidak bisa.


"Sial! Kenapa aku malah terus saja kepikiran mengenai 3 jodoh dari Dewi Selene!" seru Renata yang sedang pusing. Dia bahkan tidak mampu mengalihkan pikirannya walaupun sudah bermain handphone.


Akhirnya, dia pun mencoba untuk tidur. Namun sialnya, tubuhnya kembali tidak mendengarkan keinginannya. Dia bahkan seperti orang aneh dan berusaha berkomunikasi dengan otaknya sendiri agar bisa segera tidur. Sayangnya, otaknya seperti tidak mendengarkan juga.


"Tidak ada pilihan lain lagi! Aku akan memanggil Dewa itu," ucap Renata yang bahkan sudah malas menyebut namanya.


"Apa yang kau katakan tadi anak manusia! Menyebalkan sekali kamu!" ujar Dewa Fenrir tiba-tiba.


"Sial, aku lupa bahwa Dewa Fenrir bisa membaca isi hatiku," batin Renata.


"Kasihan sekali kamu. Padahal masih muda, tapi sudah pelupa," kata Dewa Fenrir yang lagi-lagi membaca pikiran Renata.


Tak tahu harus merespons apa, akhirnya Renata pun terkekeh. Dia harus meminta maaf lagi atas kecerobohannya, "maafkan aku Dewa. Aku sudah frustrasi tentang jodoh yang kau dan Selene pilihkan. Namun, tidak ada satu pun clue untukku. Lalu, bagaimana caranya aku bisa mengenali mereka?"


Dewa Fenrir tidak menjawab. Kali ini, dia justru menutup matanya. Pria tua itu sepertinya sedang berkonsentrasi pada sesuatu yang tidak diketahui oleh Renata.


"Oh Dewa yang baik. Kau sungguh mulia dan juga baik," rayu Renata melihat respons Dewa Fenrir yang tidak langsung menolak untuk menjawab pertanyaan perempuan itu.


Namun, sang Dewa tak bergeming. Dia masih dalam posisi yang sama.


Renata yang putus asa akhirnya memohon, "Ayolah Dewa. Katakan beberapa kata agar aku bisa tahu. Aku sungguh penasaran dengan mereka."


"Baiklah. Aku akan memberikan kamu beberapa petunjuk. Terlepas dari itu, kau harus menggunakan kemampuan yang kau miliki agar bisa mengenali mereka," kata Dewa Fenrir.


Renata riang. Dia mengucapkan banyak terima kasih.


Setelah lelah mendengar ucapan terima kasih dari Renata, Dewa Fenrir kembali berkata, "Masing-masing dari mereka memiliki benda unik."


"Benda unik? Bagaimana bentuknya? Apa warnanya? Ukurannya kek mana. Terus orangnya seperti apa? Tinggi atau pendek!" tanya Renata dengan banyak pertanyaan bahkan mencoba menjebak Dewa Fenrir untuk menjawab karakter fisik dari tiga calon pasangannya.


"Gunakan otakmu," jawab Dewa Fenrir singkat lalu menghilang. Jangankan terjebak dari pertanyaan bertubi-tubi dari Renata. Kakek tua itu justru menghilang dengan membuat Renata kembali pusing.


"ARGH!" geramnya.


Terdengar suara teriakan kesal dari Renata pada akhirnya. Dia mengacak-acak rambutnya. Jika ada yang melihat, Renata mungkin akan dipaksa untuk memeriksa kesehatannya.


Paginya, Renata terbangun dengan wajah yang lesu. Perempuan itu akhirnya kurang istirahat karena memikirkan clue yang berguna tapi tidak berguna juga dari Dewa Fenrir. Rasanya, Renata ingin berbaring saja dan tidak ingin melakukan aktivitas apa pun. Namun, satu nama melintas di kepalanya: Ferdinand!


"Astaga! Aku lupa dengan urusanku dan Ferdinand," kata Renata yang berbicara pada dirinya sendiri, "bodoh. Dasar Renata bodoh."


"Baiklah. Aku harus chat tunanganku. Ah, sial! Calon tuananganku."


Renata : Beb, kamu sibuk hari ini?


Ferdinand : Lumayan, Beb. Kenapa?


Renata : Sampai malam, gak? Aku mau ajak kamu dinner nanti.


Ferdinand : Hahaha. Tumben kamu ajak aku! Oke, kalau untuk dinner bisa kok. Apa sih yang gak bisa untuk kamu?


Renata terdiam di tempatnya setelah membaca chat Ferdinand. Hatinya tersentil karena balasan Ferdinand yang sepertinya bahagia sekali dengan ajakan Renata. Bagaimana respons pria itu nanti bahwa acara dinner yang diajukan Renata adalah untuk membatalkan pertunangan mereka? Rasanya, Renata tidak sanggup. Lamunan Renata terhenti setelah Ferdinand menuliskan pesan lagi untuk Renata.


Renata : Ofc! Ok. Just get back to ur work, beb. See you!


Ferdinand : Well, see u beb.


Setelah pesan itu, hati Renata kembali goyah. Dapatkah Selene membuat Ferdinand sebagai salah satu dari tiga jodohnya? Jika demikian, Renata tidak akan pusing. Masalah ke-3 dan ke-4 yang harus ditanganinya di kehidupan ini akan langsung hilang seketika.


Namun, Renata tahu itu tidak mungkin. Keluarga Ferdinand adalah manusia normal. Bukan manusia serigala atau pun bangsa lain.


Mencoba tegar, Renata menguatkan dirinya. "Ya, semangat Renata! Ini konsekuensi dari hidup kembali. Semoga pilihanmu tidak mengkhianatimu."


Renata terus berharap bahwa semua ini akan membawa akhir kebahagiaan bagi dirinya, Ayahnya, keluarganya dan semua orang yang dikasihinya.


"Knock Knock Knock," bunyi pintu yang diketuk membuat Renata kembali tersadar.


"Siapa?" tanya Renata.


"Saya Sentia, Nona," kata orang di balik pintu.


Awalnya Renata tertegun dengan panggilan Nona, tetapi kemudian perempuan itu sadar bahwa Ibu Sentia mungkin sedang berpura-pura agar duo iblis tidak semakin mencurigai Renata.


"Pintar sekali," batin Renata.


"Baiklah. Masuk saja ke kamar saya!"


Tak lama, perempuan paruh baya itu masuk ke kamar Renata dan segera menutupnya.


"Kenapa, Bu?"


"Kamu dipanggil untuk sarapan bareng sama yang lain di bawah, Nak," kata Ibu Sentia.


"Oke. Terus, apa lagi, Bu?"


"Tadi saya mencuri dengar percakapan Bellacia dan Florencia saat sedang menyiapkan makanan di meja makan bersama yang lain."


Ada jeda di sana yang membuat Renata kembali menelan ludah. Gadis itu sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Kakak tiri serta Ibu tirinya tersebut.


"Ada apa dengan dua orang itu, Bu? Jangan membuat Renata penasaran."


"Maafkan Ibu, Nak. Intinya, mereka bilang akan mengadu kepada Ayahmu tentang pembatalan EO. Mereka sengaja berbkata begitu sebelum kamu turun ke bawah dan mereka juga tahu bahwasannya kamu cukup lama jika bersiap-siap."


"Arrgh, astaga mereka itu mencoba membuat aku dan ayahku bertengkar lagi, bukan?" geram Renata yang sangat kesal.


"Sepertinya begitu, Renata. Maka dari itu, Ibu langsung menemuimu ke kamar. sebenanarnya ibu ingin mengirimu pesan, namun Ibu takut kamu tidak akan sempat untuk melihat handphone-mu," jelas Ibu Sentia.


Renata bersyukur Ibu Sentia berada dipihaknya saat ini. Ada yang mengingatkannya untuk tidak lengah dari dua Iblis yang dipelihara di rumahnya. Dia juga berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Ibu Sentia bertahan dan tidak pergi lagi seperti di masa lalu.


"Baik, Ibu. Terima kasih atas informasinya. Kalau begitu, Renata akan bersiap-siap dahulu, ya."


"Baik, Renata. Kalau begitu, Ibu pergi dulu ya. Ibu takut ada yang curiga dengan kepergiaan Ibu jika terlalu lama."


"Baiklah, Bu. Bila ada yang mencurigai Ibu, katakan saja bahwa aku menyuruh Ibu ke kamarku tadi untuk mencari baju yang ingin kupakai hari ini lewat chat," kata Renata yang membuat keduanya tertawa.


Tak lama setelah pintu kamar Renata kembali tertutup, perempuan itu bergegas bangun dari tempat tidurnya. Dia juga membersihkan diri lebih cepat dari biasanya. Untuk makeup, riasan natural menjadi pilihannya saat ini dan bersiap menghadapi duo Iblis itu.