Queen Laluna

Queen Laluna
Diademe



Saat berbincang dengan Diademe, Renata tidak menyadari bahwa waktu berlalu begitu cepat. Espresso dan kepingan madeleine yang tadi berada dihadapannya telah habis tak tersisa. Rasanya begitu kenyang hingga Renata yakin dia akan melewatkan makan siangnya.


Setelah duduk beberapa menit, perempuan itu beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa perlu berolahraga dahulu sebelum pulang ke rumah. Dia ingin menyalurkan energi negatif yang rasanya menumpuk hanya karena membayangkan akan bertemu Dua Iblis di rumah nanti.


Beruntung, Renata selalu menyiapkan baju dan dress untuk acara mendadak, termasuk pakaian olah raga. Perempuan itu jadi tidak perlu membeli pakaian lagi. Menghemat waktu dan uangnya. Walaupun dia kaya, Ibu Sarah selalu mengajari dirinya untuk tidak terjebak dalam kehidupan yang konsumtif. Bellacia tidak berhasil memengaruhinya untuk yang satu itu.


"AAA—" ada suara melengking memekakkan telinga Renata yang sedang berjalan. Ini kombinasi yang sangat menyebalkan karena sekarang telinga Renata yang sensitif akan suara. Renata ingin mengacuhkannya, tetapi suara yang sama menyebutkan nama keluarganya.


"Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Aku adalah Barbara de Lucia dan aku masih kerabat dari keluarga Soleil," kata perempuan itu yang sedang membuat pertunjukan itu.


"Soleil? Siapa di antara keluargaku yang merupakan kenalannya?" batin Renata.


Renata akhirnya memerhatikan perempuan itu yang sedang meluapkan emosinya kepada seorang pria yang masih duduk santai di bangku khas milik Le Café. Laki-laki itu terlihat tidak merasa risih sama sekali walaupun kini sudah menjadi pusat perhatian. Dihadapkan dengan keadaan demikian, wajah perempuan—yang menyebut dirinya Barbara itu— memerah.


"Soleil? Apakah kau mengenal Ferdinand? Jika tidak, maka menjauhlah. Ferdinand adalah kenalanku, "kata pria itu pada akhirnya.


Barbara sepertinya terkejut akan balasan tak terduga dari pria itu, "asal kau tahu, Bellacia—istri Ferdinand adalah sahabat ibuku dan putrinya Florencia adalah sahabatku."


Atensi Renata kini sudah teralih pada dua orang itu, terutama Barbara. Jika benar dia merupakan kerabat dua Iblis itu, kenapa Renata tidak pernah mengetahuinya.


"Tunggu. Jangankan mengetahui tentang Barbara. Hidupku yang lalu bahkan seolah dibuat berputar mengitari kampus, kantor, dan rumah. Aku bahkan dibuat tidak terlalu akrab dengan siapa pun karena dua Iblis itu bilang bahwa mereka cukup untuk diriku," kutuk Renata pada dirinya saat menyadari bahwa dirinya sungguh terperdaya oleh Bellacia dan Florencia di masa lalu.


"Yang aku tahu Bellacia tidak pernah melahirkan seorang keturunan pun bagi keluarga Soleil. Sahabatmu itu juga bukanlah ahli waris Soleil. Sudah kukatakan padamu tadi bahwa Ferdinand adalah kenalanku. Jangan buat aku marah dan melaporkan ini pada dia. Jadi hentikanlah ancamanmu," kata pria itu dengan suara rendah di akhir.


Barbara terlihat begitu marah sebelum akhirnya berteriak pada pria yang sampai sekarang Renata tidak tahu namanya. "Tunggu! Kau tidak bisa memperlakukanku dengan begini! Lihat saja nanti! Aku akan melaporkan ini semua pada keluargamu!"


"Laporkanlah! Aku—Theo tidak peduli," kata pria itu sebelum berbicara dengan volume kecil yang sepertinya hanya dapat didengar oleh Barbara—dan tentunya Renata, "dasar perempuan sinting."


Setelah berkata demikian, pria itu pergi meninggalkan Barbara yang terlihat sangat menyedihkan. Renata merasa jika Barbara adalah golongan atas di kota ini. Perempuan itu benar-benar kehilangan martabatnya. Le Café adalah tempat para pengusaha dan pewarisnya di Ibu Kota untuk meminum kopi. Gosip ini akan menyebar begitu cepat.


Di kehidupan sebelumnya, Renata tidak pernah menyadari kerabat dari duo Iblis di rumahnya ini. Barbara tidak sadar bahwa karena ketidakmampuannya mengendalikan emosi telah membuat dia masuk dalam daftar pengawasan Renata. Karena jika benar mereka begitu dekat, maka besar kemungkinan Barbara dapat dilibatkan dalam rencana Bellacia dan Florencia.


"Hai Renata, sudah lama kamu gak boxing. Ada apa ini?" Rexy, pelatih boxing Renata, menyapa perempuan itu.


"Biasa. Lagi butuh pelampiasan, Kak. Lagi pula, aku harus tampil prima sebelum ulang tahunku."


"Berat kayaknya jadi pewaris Soleil, ya. Oh, iya ulang tahun? Gue diundang gak nih? Hahaha."


Tiba-tiba, Lala—salah satu teman boxing Renata menyahut, "undang aja, Renata! Siapa tahu dia bisa ketemu jodoh. Kasihan sudah tua belum laku-laku."


Ucapan Lala disambut tawa oleh Renata dan juga Rexy. Itu adalah salah satu topik candaan mereka. Seperti Lala yang akan diledeki Samson ataupun Renata yang dilekatkan kata busy woman, ketiganya tidak akan tersinggung bila satu sama lain yang membahas topik itu.


"Tenang, gengs. Pasti kalian berdua diundang, kok. Tunggu aja undangannya, ya!" kata Renata riang. Dengan kedua orang ini, Renata bisa terlepas menjadi dirinya sendiri. Tidak perlu terlalu mengekang perasaan dan juga tawanya.


Tak lama, Renata pun memulai latihannya. Segala gerakan dasar, seperti jab, cross, hook dan uppercut dilakukan Renata selama 45 menit. Kemudian, Renata menambah lagi intensitas latihannya dan menambah lagi counterpunch, bolo punch, dan short straight-punch. Stamina Renata benar-benar memuncak dan kedua temannya menyadari itu.


"Wah, gila! Renata, lo kerasukan, ya?" tanya Lala.


Lalu, mereka bertiga tertawa. Ketiganya kembali berlatih dengan samsak masing-masing. Tanpa disadari, seseorang masuk ke tempat latihan.


Lala adalah orang pertama yang menyadarinya. Perempuan itu akhirnya menyapa laki-laki yang baru masuk ke ruang latihan, "apa kabar Theo? Tumben datangnya week-days."


Mendengar ucapan Lala, Renata akhirnya mengalihkan fokusnya dari samsak. Perempuan itu terkejut karena melihat laki-laki yang tadi membuat pertunjukan di Le Café—kini berada lagi di satu ruangan dengan Renata.


Menyadari tatapan Renata, Lala kemudian mengenalkan kedua orang tersebut, "Eh, Theo. Kenalin, ini Renata. Dia senior lo di tempat ini. Cuma kalian jarang ketemu."


"Hai, Renata. Gue Theo."


"Hai, Theo. Gue Renata. Salam kenal."


"Buset. Kaku banget kalian gaya kenalannya. Macam ketemu di blind date, dah," kata Rexy tiba-tiba.


"Sembarangan!" kata Renata sebelum keempatnya tertawa.


"Btw, gue kayaknya pernah lihat lo, deh,"kata Theo.


"Jujur, aja. Tadi, gue ada di Le Café."


"Ah," Theo meringis sebelum tertawa.


"Ada apa dengan restoran mahal itu?" tanya Lala penasaran.


"Tadi, gue ketemu sama orang yang dikenalin keluarga gue. Tapi, gak jelas," jelas Theo pada Lala tanpa beban.


"Kok Renata tahu?" tanya Rexy.


"Lumayan ramai tadi. Yang ada di sana, pasti tahu."


"Wah! Gak lo videoin, Ren?" Lala bersemangat dengan keterangan dari Theo tadi.


Renata menggeleng sebelum berkata, "di sana, gak boleh videoin satu sama lain. Nanti, kita bakal didenda."


"Beda kelasnya itu tempat, kayanya. Kita mah Starling aja cukup, La," kata Rexy sebelum tertawa.


"Starling? Tempat baru?" tanya Renata bingung.


Tiga orang lainnya tertawa mendengar pertanyaan Renata.


Lala akhirnya menjelaskan pada Renata, "Starbuck keliling, Beb. Itu yang naik sepeda dan jual minuman, termasuk kopi."


"Ah. Itu toh maksudnya."


Ketiganya tertawa. Renata benar-benar puas dengan pilihannya pada hari ini untuk ke Le Café, berbicara dengan Diademe hingga ke tempat latihan boxing. Itu semua berbanding terbalik dengan ketegangan Bellacia dan Florencia yang telah sampai di kediaman Soleil. Keduanya berdiskusi untuk menghancurkan Renata. Yang tidak mereka tahu, bahwa Dewa Fenrir memperhatikan semua itu dari sudut ruangan.