Queen Laluna

Queen Laluna
Klan Manusia



Dewa Fenrir menatap malas Renata. Lagi dan lagi, anak manusia ini mencoba memasukkan Ferdinand dalam daftar tiga jodoh yang diutus Selene. Namun, akhirnya dia memutuskan memberi tahu kenyataan pahit pada gadis itu.


"Tidak. Dia bukan yang terpilih, Renata."


Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, perempuan itu mendengar Dewa Fenrir menyebut namanya dengan tegas. Ada begitu banyak hal yang tersirat dari gurat wajah Sang Dewa. Keputusasaan dan kesedihan.


"Maaf. Tiga jodoh pilihan Selene memiliki benda istimewa yang terikat dengan kekuatan alami serigala mereka. Ferdinand tidak memiliki serigala dalam dirinya. Kau dapat menyimpulkan sendiri."


Mendengar itu, Renata menangis tanpa suara. Dia harus benar-benar menerima kenyataan bahwa Ferdinand tidak akan pernah menjadi takdirnya. Renata awalnya berpikir dia akan mudah melepaskan Ferdinand, namun ternyata rasanya begitu sulit.


Kali ini, Sang Dewa berusaha untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya. Meskipun hatinya tercubit melihat tangisan cicitnya itu, Sang Dewa berusaha untuk tidak terlihat terlalu terpengaruh dengan hal tersebut.


"Jangan menangis, anak nakal. Ini adalah takdirmu," Dewa Fenrir melihat ke sebuah lukisan buatan Sarah yang tergantung di dinding dan berkata, "dan kami yakin akan orang pilihan kami. Tidak mungkin kau tidak dapat melewatinya. Ini saranku sebagai orang tua dan bukan dewa, putuskanlah hubunganmu dengan dia saat dia sudah kembali dari urusan pekerjaannya."


Renata mengangguk mendengar perkataan Dewa Fenrir. Dalam hidup ini, kita memang harus memilih pilihan-pilihan yang sulit. Terkadang, rasanya tidak masuk akal untuk merelakan pilihan yang menurut kita sama pentingnya.


Perempuan itu pun mengusap air matanya. Dia mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya berkata, "Baiklah. Aku akan berusaha yakin. Namun, dapatkah kau memberitahuku tentang tiga jodoh itu? Apakah aku pernah bertemu mereka secara tidak sadar."


"Tunggu sebentar. Mari kuingat," Dewa Fenrir mengusap dagunya seraya berpikir, "ya, dua sudah kau temui. Hanya satu yang belum pernah kau temui sama sekali."


"Benarkah?" Renata begitu tertarik mendengar penuturan Dewa Fenrir.


"Benar. Untuk apa aku berbohong, bocah nakal?"


"Hei. Jangan baper Dewa! Aku hanya ingin memastikan saja. Itu seperti reaksi otomatis atas rasa terkejutku!"


"Baper? Aku baper? Cih!"


"Tunggu! Kau mengerti kata baper?"


"Tentu saja. Aku ini Dewa yang up-to-date dengan kehidupan umatnya!"


Renata terkekeh mendengar ucapan Sang Dewa. Perempuan itu merasa kehadiran Kakek Dewa ini sungguh mewarnai hari-harinya dan Renata bersyukur akan itu. Setidaknya, di kehidupan keduanya yang begitu memusingkan ini, Renata punya seseorang sebagai tempat dia bertanya.


"Hah! Kau ini seharusnya langsung berterima kasih di depanku dan jangan cuma berkata di dalam hati saja!" kata Dewa Fenrir tiba-tiba,


"Aaaa. Aku lupa kau dapat membaca pikiranku!" seru Renata yang sekarang menutupi wajahnya dengan tangannya. Perempuan itu ingin menenggelamkan dirinya agar Sang Dewa tidak dapat melihatnya sebentar—setidaknya sampai rasa malunya hilang.


"Oh, iya. Berhentilah overthinking Renata. Terkadang, aku merasa kamu seperti mencari tambahan kesulitan hidup saja. Ayahmu itu mencintaimu. Sarah menitipkan pesannya lewat aku dan mengatakan bahwa prianya itu mencintaimu. Jangan meragukannya!"


"Tapi—"


"Tidak ada kata tapi. Jika kau terus seperti itu, aku yakin satu hal. Kalau kau bertemu Ibumu, dia pasti akan memarahimu," putus Dewa Fenrir.


Renata mengangguk mendengar perkataan Dewa Fenrir. Meminjam istilah Diademe saat berdiskusi, perkataan Dewa Fenrir kali ini benar-benar 'daging' banget. Gak ada tulangnya sama sekali.


Tunggu. Diademe?


Renata menepuk jidatnya sebelum berkata, "astaga!"


"Kenapa? Ada apa dengan Diademe?" tanya Dewa Fenrir.


"Jika demikian, hubungi temanmu itu secepatnya. Oh, iya aku pergi dulu ya!"


Setelahnya, Dewa Fenrir menghilang dan Renata tertawa karena otaknya tiba-tiba mengasosiasikan Dewa Fenrir dengan Jin lampu. Untungnya, tidak ada satu pun yang melihat kelakuan aneh Renata. Kalau tidak, Renata pasti akan dipandangi secara aneh.


Renata segera menghubungi temannya. Dia menanyakan tentang detail rekapan acara. Apakah semuanya sudah disusun sesuai dengan konsepnya ayu belum sama sekali.


Renata berjalan meninggalkan ruangan temannya. Setidaknya dia bisa bernapas lega karena semua sudah tersusun dan tak ada kendalanya.


Renata kembali duduk diam dan berpikir mengenai Ferdinand. Pernyataan pahit yang diungkapkan oleh Dewa Fenrir sedikit melukai hatinya.


Renata bingung harus berbicara apa dan berbuat apa. Rasa yang selalu dijaganya agar tidak berlebihan dengan Ferdinand kini menyiksanya.


"Padahal aku sudah berusaha untuk tidak menaruh perasaan ke Ferdinand. Tapi kenapa rasa itu ada, timbul dan perlahan tumbuh tanpa dipupuk. Apakah ini yang dinamakan dengan cinta secara diam-diam?" katanya.


"Tidak, tidak. Aku tidak boleh memikirkan tentang cinta lagi. Apalagi kepada Ferdinand. Memikirkannya saja membuat aku pusing. Jantungku serasa ingin berhenti berdetak dan napasku tak bisa untuk diatur. Apakah aku akan mati untuk kedua kalinya?" tolaknya. Namun sekeras apapun dia menolak kenyataan tentang benih cinta, dia hanya akan membuat hidupnya sengsara serta terluka secara perlahan karena cinta yang tidak direstui itu.


Di sisi lain. Guillaume merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan jantungnya. Jantung ini seperti sedang menahan sesak tangis yang hebat.


"Argh!" Geramnya. "Ada apa dengan diriku? Kenapa aku merasakan sesak hebat," katanya bangkit dari tidurnya.


Jacques menghampiri Pack-nya itu dan bertanya. "Hei, Bro. Apa yang terjadi dengan dirimu? Kenapa kau terlihat begitu kesusahan untuk bernapas?" tanyanya.


"Entahlah. Aku merasa seperti sedang dikendalikan oleh seseorang. Tapi siapa dia?"


Jacques menepuk dagunya, berpikir. "Sepertinya kau tidak dikendalikan oleh seseorang. Tapi lebih mengarah kepada matemu."


"Mate-ku? Jika ucapanmu salah sasaran. Aku akan mencabik-cabik badanmu," ancamnya kepada Jacques.


"Ah yang bener aja. Jika kau mencabik-cabik tubuhku, lalu siapa yang akan mendampingimu untuk memimpin Pack ini?"


"Argh! kenapa Sebastian belum memberitahuku di mana keberadaan gadis itu," tanya Guillaume.


"Barangkali Sebastian sedang tertidur dan melupakan tentang dirimu, Bro." Kelakar Jacques.


"Tapi percayalah Guillaume. Mate-mu itu nyata dan dia benar-benar ada. Kita hanya perlu menunggu waktu serta keadaan yang akan mempertemukan kalian berdua."


"Apakah benar dia belum berusia 21 tahun?"


"Hmp, aku tidak bisa memastikan itu. Tapi jika dilihat dari kisah pendahulu kita. Memang benar adanya begitu. Jika dia belum berusia 21 tahun, maka kau Dan Dia belum waktunya untuk bertatap muka."


"Aku sedang berpikir. Apakah dia dari bangsa manusia serigala, vampir atau dari ras manusia yang tidak pernah terpikirkan olehku," tambah Jacques.


"Apa? Manusia?" Guillaume kaget dan sontak mengeluarkan aura alpanya lagi.


"Ya, memangnya ada masalah jika dia berasal dari ras manusia? Bukan Kak lebih bagus jika mate-mu itu terlahir sebagai seorang manusia?"


"Entahlah, Jacques. Siapapun dia, aku sudah tidak sabar menunggu kehadirannya."


"Sabar, Bro. Semuanya akan indah pada waktunya."