Queen Laluna

Queen Laluna
Kehancuran Soleil



"Toktok," bunyi pintu yang diketuk memenuhi pendengaran orang yang berada di dalamnya.


"Masuk!"


Setelah perintah tersebut, Renata masuk ke ruangan kerja ayahnya. Di sana, Renata dapat melihat ayahnya masih berkutat pada berkas-berkas yang dia bawa dari kantornya. Walaupun ayahnya masih terlihat bugar dan tampan, Renata akhirnya menyadari ayahnya terlihat menua. Ada gurat lelah yang tak dapat tersembunyi di wajahnya.


Tersadar dengan keterdiaman Renata, ayahnya kemudian bertanya, "kenapa Renata?"


"Tadinya, Renata ingin berbicara sesuatu. Namun, ayah sepertinya masih sibuk?"


"Ah, tidak. Ayah hanya sedang memeriksa sekilas proposal proyek baru di perusahaan kita. Kenapa? Akhir-akhir ini, ayah merasa kamu sering melakukan hal-hal baru."


Ucapan sang ayah, membuat Renata tertawa. Melihat itu, ayahnya tersenyum. Hatinya senang melihat tawa putrinya yang begitu lepas. Entah sebaik apa pun perlakuan Bellacia pada Renata, sepertinya memang ada hal yang tak bisa digantikan dari kasih sayang Sarah pada putrinya.


Setelah berhasil menghentikan tawanya, gadis itu kembali berkata sambil tersenyum—berusaha menggoda ayahnya, "hal baru itu bagus atau buruk?"


"Ada bagusnya dan ada buruknya. Satu hal yang pasti, ayah baru sadar kamu kurang bisa mengendalikan emosimu."


"Ekhem. Maksud ayah masalah di meja makan?"


"Betul!" kata ayahnya tanpa ragu.


"Entahlah mungkin ayah benar. Aku masih harus belajar mengendalikan emosiku jika aku harus menjadi pemimpin."


"Pemimpin? Kau sudah mau menggantikan ayah?" tanya sang ayah yang diakhiri dengan tawa.


Mendengar candaan sang ayah, Renata dilanda sedikit rasa gugup, "menurut ayah, apakah aku bisa menjadi pemimpin?"


"Tentu. Kau adalah anakku dan Sarah. Kami memimpin diri kami sendiri hingga kau dapat melihat perusahaan La Lune sebesar ini. Jika kau mengasahnya, kau mungkin dapat melakukannya. Bahkan lebih! Kamu sudah punya fondasi yang telah kami siapkan sejak lama," ayahnya menatap lurus ke mata Renata.


Renata tahu itu. Dia punya privilese sebagai generasi ke-2 Ayah dan Ibunya berhasil mengembangkan La Lune di saat-saat terburuk bisnis busana saat itu. Sekarang, Renata bisa memiliki segala hal yang baik berkat usaha kedua orang tuanya. Bahkan bisa dibilang, dengan membawa namanya saja, orang akan percaya untuk berinvestasi pada dirinya. Namun, selama ini, dia hanya fokus pada hal-hal di sekitarnya saja dan menutup mata dari kemungkinan besar dari privilese miliknya. Dia terjebak di sangkar emasnya.


Dia pikir cukup dengan berusaha dalam belajar di perkuliahan atau berusaha memahami manajemen La Lune. Baru setelah disadarkan Dewa Fenrir, dia selama ini hanya mengikuti arus saja. Berenang sebaik mungkin mengikuti arus padahal dia sendiri tidak berada di kedalaman yang seharusnya.


"Ayah. Aku tahu ini terdengar gila. Namun, bisakah aku memimpin divisi parfum dari La Lune?"


"Divisi parfum? Kenapa?"


Ayahnya senang mendengar penuturan Renata, namun mempercayakan langsung keseluruhan divisi parfum pada putrinya akan menyebabkan kehebohan di pihak manajemen. Oleh sebab itu, pria tersebut berusaha berpikir dengan keras.


"Oke. Kalau kamu sensitif dengan aroma. Itu dapat menjadi modal yang baik. Namun, hal itu tidaklah cukup untuk langsung memimpin Divisi Parfum. Selama ini, kamu belajar tentang finance, sedangkan di divisi parfum ada banyak hal. Pengembangan brand dan produk sekarang menjadi titik tumpu divisi tersebut," kata ayahnya sebelum mengubah intonasi suaranya seolah berhati-hati, "jika ayah boleh jujur, untuk saat ini kamu belum dibutuhkan di sana."


"Lalu? Apa yang harus Renata lakukan? Apakah Renata perlu membuat proposal dan mempresentasikannya pada pihak perusahaan?" tanya Renata masih berharap.


Ayahnya menghela nafas. Dia juga mencoba memikirkan jalan keluar dari dua kepentingan ini. Pria itu tidak bisa mengorbankan pihak mana pun. Tidak bisa pria itu hanya mementingkan keinginan putrinya saja walaupun dia sangat menyayanginya. Ada banyak orang yang hidup dan menggantungkan diri pada divisi ini.


"Tidak perlu, Renata. Ayah rasa untuk langsung memimpin sebuah divisi, kamu masih memerlukan waktu. Bagaimana jika kamu menjadi asisten atau magang di divisi ini terlebih dahulu? Buat CV-mu dan ayah akan langsung berikan pada tim HR. Mungkin besok hari kamu akan langsung mengikuti assessment untuk melihat apakah kamu cocok di tim Parfum."


Renata terdiam cukup lama dan ayahnya memerhatikan setiap ekspresi yang dibuat oleh putrinya itu. Pria itu harap-harap cemas dengan tanggapan Renata. Sudah lama Renata tidak meminta sebuah permintaan padanya. Terakhir kali dia membuat permintaan adalah saat masih kecil. Renata ingin bertemu dengan Sarah setelah kematian istrinya itu. Tentu saja, pria itu tidak dapat mengabulkannya.


Orang mungkin akan berpikir bahwa pria ini terlalu memanjakan Renata. Namun, pria itu tahu benar bahwa tidak ada perlakuan seperti itu untuk Renata walaupun dia mencintai putrinya itu. Ini semua karena janjinya pada Sarah.


"Jadi? Bagaimana Renata? Apakah kamu tertarik dengan hal yang ayah baru saja katakan?"


Renata akhirnya sadar dari pikirannya dan kembali ke dunia nyata, dia terkejut melihat ayahnya yang masih saja menatap dirinya. Bahkan, ada rasa cemas yang terlihat jelas di mata pria itu.


"Hahaha, muka ayah lucu sekali!" kata Renata untuk meringankan ketegangan yang mungkin dirasakan ayahnya.


Namun, ayahnya tetap sama: menatap Renata untuk menjawab pertanyaan darinya.


"Baiklah. Renata merasa bahwa ucapan ayah benar adanya. Rasanya tidak benar bila aku langsung terjun ke divisi parfum dan mengembangkan produknya hanya dengan kemampuan finance saja," ucap Renata yang membuat ayahnya menarik nafas lega.


Rasanya, beban pria itu sedikit terangkat. Dia senang bahwa putrinya dapat menerima pendapatnya. Terkadang, dia mendengar anak-anak dari koleganya hanya ingin dituruti saja kemauannya. Untungnya, putrinya tidak.


Bahkan, jika boleh membandingkan dengan Florencia, putrinya jauh lebih baik. Terkadang, Florencia akan sedikit cemberut jika dirinya lupa membelikan barang titipan putri sambungnya itu saat bertugas di negara tertentu. Bellacia lah yang akan menyampaikan kekecewaan Florencia, sehingga dirinya cepat-cepat meminta maaf.


"Baiklah, kalau begitu, ayah tunggu surat lamaranmu dan CVmu ya biar ayah nanti teruskan ke tim HR agar cepat diproses," ucap pria itu sambil tersenyum.


"Baik, ayah. Terima kasih banyak. Kalau begitu, Renata akan segera menyiapkan dokumen-dokumennya. Jadi, mohon ditunggu ya," ucap Renata sambil menjulurkan lidahnya untuk meledek pria itu.


Renata kemudian pergi berlari menjauhi ruangan ayahnya, namun dia sempat mendengar ayahnya tertawa. Dia sudah lama tidak mendengar tawa ayahnya yang selepas dan sebesar itu yang bahkan dapat terdengar hingga ke luar ruangan.


"Ayah, tenang saja. Kini, giliran Renata untuk menjaga ayah juga. Entah dari Duo Iblis atau dari orang-orang yang menginginkan kehancuran Soleil," batin Renata.