
Lien Hua membungkuk memberi hormat kepada Tuan Muda Zhang Putra dari Residen distrik perbatasan.pria tampan itu lalu mempersilahkan Lien Hua duduk.di meja sudah penuh berisi hidangan lezat dan juga arak.
Lien Hua sedikit canggung terlebih Ming Fei tidak dijinkan untuk ikut masuk.Tuan Muda Zhang menuangkan arak ke dalam gelas di hadapan Lien Hua.
"Maaf Tuan Muda ! hamba tidak minum arak"tolak Lien Hua halus
"Oh...maaf Putri ,hamba akan meminta pelayan untuk menggantinya dengan sari buah" ujar Tuan Muda Zhang
"Terima kasih"
Tuan Muda Zhang menjentikkan jarinya dan pelayannya datang "Tolong buatkan sari buah untuk Tuan Putri"
"Baik Tuan Muda"
"Hamba mewakili ayah mengucapkan terima kasih atas segala kemurahan yang di berikan oleh kerajaan"ucap Tuan Muda Zhang
Lien Hua tersenyum "Itu semua berkat kerja keras seluruh rakyat untuk mempertahankan perbatasan dan sungguh semua itu belumlah setimpal"ucap Lien Hua
Tuan Muda Zhang Quan bersujud di hadapan Lien Hua,sungguh ini tidaklah pantas bagi Lien Hua seorang pria bersujud di bawah kakinya.
"Bangunlah Tuan Muda tidaklah pantas anda bersujud"ucap Lien Hua
"Hamba mewakili rakyat perbatasan mengucapkan terima kasih"
"Ucapan terima kasih diterima" ucap Lien Hua
Zhamg Quan tersenyum beberapa jam sebelumnya dia sempat berpikir.dia akan bertemu dengan seorang Putri suasana pasti akan sangat kaku dan canggung kebanyakan Putri pasti congkak tapi setelah bertemu ternyata Putri Lien Hua sangat rendah hati.tidak menunjukkan kalau dia itu seorang Putri.
"Tuan Muda Zhang panganan ini enak sekali seandainya aku lama disini aku ingin brlajar"ucap Lien Hua
"Tuan Putri memasak sendiri ?"
"Hem"
"Sungguh istri idaman"ujar Xhang Quan
"Idaman siapa ?"goda Lien Hua
"Idaman semua pria"jawab Zhang Quan
Lien Hua tertawa mendengar jawaban Zhang Quan "Semua pria ? Tuan Muda pasti telah mendengar jika aku ini Putri yang ditinggal menikah tunangannya" ujar Lien Hua
"Pastilah pria itu sangat bodoh karena mengabaikan Putri sebaik anda"
Lagi-lagi keduanya tertawa "Tadi sebelum anda datang hamba sempat berpikir seorang Putri pasti congkak dan sangat anti dengan rakyat biasa seperti kami tububnya juga akan bergelimang perhiasan tapi...."
"Berpenampilan mencolok seperti itu akan mengundang bahaya Tuan Muda"potong Lien Hus
"Sungguh bijak"
"Baiklah Tuan Muda,hamba rasa telah cukup jamuannya terima kasih banyak,hamba harus kembali"pamit Lien Hua
"Rasanya hamba masih ingin berbincang dengsn anda"
"Mungkin lain waktu"
Zhang Quan merasa berat melepas Putri yang begitu baik hati,terselip rasa kagum di dalam hatinya.
🌺🌺🌺🌺
Pintu gerbang Negeri Wangxin terbuka lebar menyambut rombongan Pangeran Mahkota mereka.sepanjang jalan seluruh rakyat kota raja memberi penghormatan.mengelu-elukan kehebatan ketiga Pangeran yang berhasil menumpas para pemberontak.
Di dalam Aula Utama ketiga Pangeran kembali menerima penghormatan.terlihat di depan Aula berjejer puluhan Putri cantik yang senyum tak lepas dari bibir mereka.
Raja Wang Fei nampak begitu berwibawa di singgasanya Ia mengisyaratkan agar Pangeran menempatkan diri.
"Aku sungguh beruntung memiliki kalian.sangat bertanggung jawab salam mengemban tugas"
"Wang Jun,apa lukamu sudah membaik ?"
Wang Jun membungkuk "sudah lebih baik Ayahanda.semua berkat tabib Bai di perbatasan dan....." Wang Jun tak berani meneruskan kalimatnya
Wang Wei melirik Wang Jun yang masih tertunduk.Raja Wang Fei mengelus jenggot panjangnya,Ia tersenyum Putranya bahkan tak berani menyebut Putri penolongnya.ini pertama kali Wang Jun begitu gugup di hadapan Ayahandanya.
"Aku akan mengirimkan banyak hadiah ke negeri Lienxin sebagai ucapan terima kasih"ujar Raja Wang Fei
"Juga untuk tabib Bai"
Wang Jun tersenyum puas
"Kalian lihat semua peti itu adalah hadiah kalian.juga Putri canrik ini kalian boleh menjadikan mereka selir"ujar Raja Wang Fei
"Wang Wei sebagai Pangeran tertua kau boleh memilih terlebih dulu"tunjuk Raja Wang Fei
"Terima kasih Ayahanda"
"Aku tak pernah membedakan antara Pangeran Mahkota dan yang lainnya,aku tetap menyayangi kalian"ujarnya
Wang Jun dan Wang Yi tersenyum, mereka tau Ayahandanya berujar seperti itu untuk mencairkan hati Wang Wei yang beku karena perbedaan status mereka.
"Wang Wei bagaimana kau telah putuskan untuk memilih Putri yang mana ? Ayahanda berharap akan ada salah satu dari mereka bisa menikat hatimu"
"Sekali lagi terima kasih Ayahanda"
Selebihnya dibagi dua antara Wang Jun dan Wang Yi,semua orang bertepuk tangan.
"Hidup Yang Mulia Raja Wang Fei"
"Hidup Pangeran Wang Wei"
"Hidup Pangeran Wang Jun"
"Hidup Pangeran Wang Yi"
"Semoaga panjang umur"
"Sejahteralah Negeri Wangxin"
Seisi Aula gegap gempita,dari sudut Aula Selir Wu Mey menatap nanar putranya.dia bersyukur Yang Mulia Raja bisa memberi putranya keadilan.
Wang Liu memeluk kedua Kakaknya bersamaan dia meraba sekujur tubuh Wang Jun sambil menangis.
"Saat mendengar Kakak terluka aku ingin menyusul kesana"ujar Wang Liu
"Dasar gadis bodoh,bukannya membantu kau malah akan menyusahkan Jun"ucap Wang Yi seraya menoyor bahu Wang Liu
"Dua kali Kak Jun dan Putri Lien Hua berada di situasi berbahaya,kalian sepertinya berjodoh"celetuk Wang Liu
"Kalau berjodoh justru sangat bagus"timpal Wang Yi
"Kalian ini"seru Wang Jun
Wang Jun tersenyum saat melihat A Chen pengawal krpercayaannya telah kembali.beberapa bulsn ini dia pulang ke kampung halamannya karena Ibunya meninggal.
"Hormat kepada Pangeran Wang Jun,Wang Yi dan Putri Liu semoga panjang umur"salam A Chen
"A Chen akhirnys kau kembali" ucap Wang Jun
"Maaf Pangeran hambs baru kembsli setelah sekian lama"
"Ibumu jauh lebih penting Chen"
"Terima kasih atas pengertiannya Pangeran"
"Hentikan basa basinya,kau sudah tertinggal banyak berita Chen"tukas Wang Yi
"tutup mulutmu !"bentak Wsng Jun
Chen mengikuti langkah cepat junjungannya.Wang Jun berbaring menikmati kenyamanan kamarnya yang lama dia tinggalkan.Chen fuduk memijat bahu junjungannya itu.
"Kau percaya pada cinta pada pandangan pertama Chen ?"
Chen sedikit kaget.cinta dan wanita adalah dua hal yang paling anti bagi junjungannya dan sekarang dia bertanya perihal cinta ? Chen benar-bennar terringgal banyak berita.
:Percaya "
"Apa kau pernah merasakan ada sesuatu yang hilang saat berpisah dengan seseorang ?"
"Hamba rasakan itu saat hamba kehilangan ibu" jawab Chen
"Bukan ibu,itu sudah pasti.tapi seseorang yang baru kau temui" ujar Wang Jun
"Belum pernah Pangeran"
"Rasanya bahkan jauh lebih sakit dari panah beracun yang menancap di dadaku"
Wang Jun menghela napas panjang, Ia meraba bibirnya,samar Ia mengingat malam itu,mslam dimana bibirnya di pagut lembut oleh Lien Hua.tubuh itu mentransfer kehangatan tiada tara.
\=\=\=\=\=\=\=
HAPPY READING