
Suara derap tapal kuda menggema membelah malam.Lien Hua sesekali memeriksa nadi Wang Jun yang kian melemah.nafas hangat Wang Jun menempa pipi Lien Hua.hatinya nok nik dia masih belum melihat tanda-tanda adanya desa.yang terlihat hanya hutan belantara.tiba tiba kuda yang di tunggangi Lien Hua mendadak berhenti.kuda itu mogok tidak mau di hela.Lien Hua sampai kebingungan.akhirnya dia melepas ikatannya pada tangan Wang Jun dan di bawanya turun.
Lien Hua melepas jubahnya untuk Wang Jun berbaring,dia mengumpulkan api unggun untuk membuat api unggun.
"Dingiiiiinnnn....!"desis Wang Jun
"Kenapa ?"
Lien Hua memegangi tangan Wang Jun yang bergerak-gerak entah mau meraih apa ? dingin ! wajahnya pucat dan bibirnya berubah hitam. tanpa pikir panjang Lien Hua mencabut tusuk konde rambutnya lalu Ia bakar ujungnya di bukanya baju Wang Jun.luka bekas anak panah itu telah menghitam.dia ingat dari buku pengobatan yang dia baca,darah dari bagian yang terkena panah beracun harus di keluarkan agar tidak menjalar ke organ Lain.
"Ini mungkin akan sakit bertahanlah"ucap Lien Hua
Tanpa ragu Lien Hua menusuk luka itu dengan gagang tusuk konde yang membara.
"Aaaarrrgghhh"
Wang Jun berteriak sampai mengangkat kepalanya menahan sakit.darah hitam kental mengucur menggumpal nggumpal.tak terasa airmata Lien Hua mengalir deras melihat Wang Jun yang kesakitan. Lien Hua mengeluarkan darah itu sampai darah hitam itu berubah merah.teriakan Wang Jun membelah malam.hingga akhirnya dia pingsan.Lien Hua merobek ujung kain baju Wang Jun dan Ia gunakan untuk membebat luka Wang Jun.
"Maafkan aku"tangis Lien Hua
Ia meraba dahi Wang Jun,tubuh beku itu kini mulai menghangat. wajahnya sudah tidak terlalu pucat bibirnyapun sudah berubah pink kemerahan.tangan Wang Jun menggenggam erat tangan Lien Hua.
~Sementara itu~
Panglima Ye dan pasukannya dapat melumpuhkan para pemberontak itu dan menyandera pimpinan mereka,Ming Fei bersama prajurit yang Lain segera menyusul Lien Hua.
"Terima kasih Panglima Ye"
"Jangan memuji kami.kalian juga sangat hebat"
"Kita sekarang harus berbagi tugas,sebagian membawa pimpinan pemberontak ke kerajaan,sebagian lagi menyusul Tuan Putri dan Pangeran"
"Baik"
Mereka segera berpencar menuju tujuan mereka masing-masing.lagi-lagi mereka harus terpisah dengan junjungan mereka.
Lien Hua terjaga saat Wang Jun terdengar mengigau.tangannya menggenggam jemari Lien Hua di dekatkan ke dadanya,matanya sedikit terbuka dan menatap Lien Hua sayu.Lien Hua mengelus lembut wajah pria itu.
"Tenanglah ada aku disini,kau akan baik-baik saja"bisik Lien Hua lembut
"Dingin sekali"lirih Wang Jun
"Apa ?"
"Dingin sekali"
Lien Hua menambahkan kayu bakar di api unggunnya,kemudian menggosok kedua telapak tangan Wang Jun dan meniupnya berkali-kali.tubuh Wang Jun mengejang dan bergetar hebat,Wang Jun di dera dingin yang teramat sangat
.
"Wang Jun bertahanlah"tangis Lien Hua
Ia sedikit mengangkat tubuh Wang Jun dan direngkuhnya erat "Bertahanlah,kau tidak boleh mati"
"Wang Jun bicaralah padaku jangan pingsan,bertahanlah,aku tau kau kuat"
Tangis Lien Hua kian tak terbendung,Wang Jun berusaha mengangkat tangannya dan memeluk Lien Hua,entah dorongan darimana Lien Hua mulai menciumi leher Wang Jun beralih ke telinga lalu seluruh wajah itu tak luput dari bibirnya,di kulumnya bibir bergetar itu hingga membuat tubuh Wang Jun kembali merebah tubuh keduanya saling menyatu,Lirn Hua menindih tubuh lemah tak berdaya itu mencoba mentransfer kehangatan.Lien Hua melepas pagutannya lalu dicium lagi,dia kulum lembut sekali perlahan Wang Jun merespon ******* itu namun begitu lemah hanya bergerak sedikit lalu kembali di dominasi oleh gerakan lidah Lien Hua yang lincah.tak lama pelukan tangan Wang Jun dipinggang Lien Hua terlepas bersamaan dengan pagutan hangat itu.Wang Jun tertidur dia tak lagi menggigil.
Lien Hua bangkit dari atas tubuh Wang Jun.dia tidur disebelah Wang Jun sampai esok hari menyongsong.
Lien Hua memberi makan kudanya sebelum dia kembali menghentak kendali kuda itu melesat meninggalkan hutan belantara. hingga akhirnya kuda itu membawa mereka ke sebuah desa.anehnya penduduk desa itu langsung menutup pintu rumah mereka saat Lien Hua lewat.
Lien Hua berhenti di depan sebuah rumah yang terdapat papan nama yang menggantung bertuliskan 'TABIB BAI'.pintu rumahnya tertutup.ini aneh sekali kenapa penduduk desa nampak begitu ketakutan.dengan satu tendangan pintu rumah itu jebol pemilik rumah itu hendak lari namun tertahan oleh selendang Lien Hua yang telah menjerat lehernya.
"Melangkah lagi nyawamu yang melayang"ancam Lien Hua bengis
"Ampun Nona"seru lelaki itu
"Apa kau tabib Bai ?"tanya Lien Hua
Lelaki itu mengangguk ragu
"Tolong selamatkan temanku dia terkena panas beracun"ucap Lien Hua
"Mengapa anda melamun ? cepat !" bentak Lien Hua
"Saya...saya tidak sanggup mengobatinya"kilahnya
"Omong kosong ! kau sembuhkan dia atau aku akan membunuhmu !" bentak Lien Hua lagi
Lelaki itu berusaha berlari dan sekali lagi Lien Hua mencekal lengannya dan membantingnya ke lantai,dicengkeramnya kedua pipi lelaki itu hingga mulutnya terbuka,Lien Hua mencekoki lelaki itu dengan pil yang dia ambil dari atas meja.lelaki itu semakin ketakutan.
"Sekarang,jika dia mati maka kau juga akan mati"geram Lien Hua
"Kau selamatkan dia itu berarti kau menyelamatkan dirimu sendiri" tegas Lien Hua seraya mencengkeram pipi lelaki itu
"Cepat obati dia !"
"Baik Nona"
Lien Hua membaringkan Wang Jun ke atas tempat tidur sementara tabib Bai mulai meracik obat untuk mengobati Wang Jun.Lien Hua melepas pakaian Wang Jun tubuhnya bergetar ini pertama kali Lien Hua melihat seorang lelaki topless di depan matanya,dia membersihkan luka Wang Jun dengan air hangat,Wang Jun hanya tediam menatap wajah ayu di hadapannya yang begitu telaten merawatnya.
Tabib Bai membubuhkan obat di luka Wang Jun dan membebatnya lalu meminta Lien Hua untuk meminumkan ramuan kepada Wang Jun.pria itu terbatuk dan mengejang setelah meminum ramuan itu.
"Wang Juuuunnnn...kau kenapa ?" pekik Lien Hua histeris
"Tabib dia kenapa ? kau hendak mencelakainya ?"bentak Lien Hua seraya mengguncang guncangkan tubuh tabib Bai
"Ampun Nona,saya tidak berani itu adalah reaksi ramuan itu terhadap racun di dalam tubuh suamimu" jelas tabib Bai
Lien Hua kembali duduk disebelah Wang Jun yang sudah kembali tenang.Lien Hua mengusap usap punggung tangan Wang Jun sambil menangis.
"Nona tadi memanggilnya Wang Jun,sebenarnya siapa kalian ?" tanya tabib Bai
"Jawab dulu pertanyaanku sebelum aku menjawab pertanyaanmu" balik Lien Hua
"Mengapa kau begitu takut kepada orang asing ? mengapa kalian seperti orang ketakutan " tanya Lien Hua
"Mengapa semua rumah penduduk di tutup rapat ?"
"Ka-kami takut disatroni para pemberontak"
Tabib Bai menghela napas panjang "Sudah terlalu banyak korban jiwa juga harta benda kami di jarah oleh para perampok itu"ceritanya
"Dan tabib tau siapa pria yang terbaring diatas tempat tidur itu ?"
Tabib Bai menggeleng dan menatap Lien Hua penuh tanya.
"Dia adalah Pangeran Mahkota Wang Jun dari kerajaan WangXin yang telah bertaruh nyawa untuk membebaskan kalian dari para pemberontak itu"terang Lien Hua
Serta merta Tabib Bai bersujud dan memohon ampun "Hamba pantas mati ! hamba pantas mati Yang Mulia"
"Apa kau pikir aku benar-benar mencekokimu racun ? tidak ! itu tadi hanya pil penambah nafsu makan milikmu"terang Lien Hua sambil trrsenyum
"Hamba sangat malu"
"Lalu siapakah Nona ini"
"Aku adalah Putri Lien Hua dari negeri LienXin"
Lagi-lsgi Tabib Bai dibuat terkejut oleh jawaban Lien Hua "Hamba sangat menyesal tidak segera mengenali kalian"
Lien Hua tersenyum "Tidak apa-apa,tapi lain kali bersikaplah sopan kepada tamu.siapapun itu"pesan Lien Hua
"Baik Tuan Putri"
"Berapa lama Pangeran akan tersadar ?"
"2 jam lagi"
Lien Hua bangkit dan melangkah menuju dapur untuk memasak sesuatu,,dia ingin saat Wang Jun terbangun dia sudah bisa makan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
HAPPY READING