Present Love

Present Love
Part//08



Meski malam telah larut dan tubuh’y sangat letih, Ferina bahagia.


Ketika sudah berbaring di tempat tidur, pikiran Ferina melayang entah ke mana. Diraih’y ponsel.


“Halo…” suara Yanda terdengar sangat berat.


“Udah tidur, ya?”


“Nggak ada alasan buat begadang soal’y.”


“Kalau sekarang ada, gimana?”


“Mau cerita apa?” Yanda terdengar bersemangat. Sejak kematian Faren, Ferina seolah menutup diri rapat2 dan tak pernah lagi berbagi cerita.


“Nggak ada. Mau tahu kabar lo aja.”


Yanda langsung kecewa. “Oh, baik aja kok. Lo?”


“Nggak tahu.”


“Kenapa nggak tahu? Apa lo masih belum bisa curhat sama gue lagi?” Yanda terdiam sebentar. “Tahu nggak? Dia nanyain lo terus.”


“Biar aja.” Tukas Ferina. “Nggak penting.”


“Nggak penting? Tapi gue jadi’y yang repot. Lo tahu, kan, gue nggak bisa bohong? Dia terus menginterogasi gue. Dia tahu gue pura2 nggak tahu. Sampai2 dia mengobrak-abrik contact di HP gue. Untung nama lo gue samarin.”


“Baguslah.” Komentar Ferina.


“Fer, dia kehilangan lo.” Yanda menkankan kata kehilangan. “Gue tanya kalian ada masalah apa, dia bilang nggak ada. Dia bahkan mengaku bingung. Kalian aneh. Sebenar’y, ada apa sih? Ini nggak biasa bagi gue!”


“Gue…” Ferina menimbang cukup lama. “Entahlah… gue belum siap buat cerita. Semua terasa baru, masih segar. Gue nggak sanggup.”


“Gue tahu kehilangan yang lo alami sangat berat. Itu sebab’y gue nggak mau elo menahan’y sendiri. Gue pengin lo bagi kesedihan itu sama gue. Bukan begini…”


“Tapi… sebenar’y nggak sesederhana itu.” Ferina menarik napas dalam2.


“Trus apa, Fer…”


“Um… gimana ya?” Ferina tahu, di seberang sana Yanda menahan napas menunggu penjelasan’y. “Baiklah.” Akhir’y Ferina menyerah.


Lalu kata2 itu meluncur saja dari bibir’y. Tangis kembali mengiringi setiap untai kata yang di ucapkan’y.


“Sekarang lo udah tahu alasan gue, kan?” Tanya Ferina.


Yanda terdiam cukup lama.


“Gue juga nggak nyangka.” Hanya itu yang bisa di ucapkan’y.


“Tapi lo beneran janji ya, setelah apa yang gue certain ini, sikap lo ke dia nggak bakal berubah. Bersahabatlah seperti biasa.” Kata Ferina.


Ferina pun menceritakan semua’y. Pertahanan’y benar2 runtuh. Dia menarik napas dalam2, merasa lebih lega. “Nda, sekarang lo tidur deh. Perasaan gue udah lebih baik. Makasih ya, lo udah dengerin gue.”


Di seberang sana Yanda mengangguk tanpa suara. “Bagaimana Ferina bisa sanggup menyimpan semua itu selama ini? Batin’y tak percaya.


“Nda? Halooo.” Bisik Ferina.


“Eh, iya, Fer.” Yanda tersentak. “Good night, ya!” tambah’y buru2.


Setelah memutuskan hubungan telepon’y, Ferina turun dari tempat tidur dan bersandar di sisi’y.


Sesaat dia melamun, memandang meja belajar’y lama sekali. Ferina bangkit dan mengambil diary yang nyaris tertinggal di rumah’y dulu. Dia menatap diary itu. Ferina membalik sampul tebal tersebut dan langsung mendapati foto Faren yang tersenyum manis. Mata Ferina kembali berkaca. Apa lo masih bisa tersenyum, Ren? Desis’y pelan.


***


Seperti’y Tiffany sudah kehabisan kesabaran. Dia nggak boleh kehilangan Tama lagi. Setiap kali cowok itu nggak ada, dia pasti menemukan’y sedang bersama Ferina. Cewek sok manis itu sedang mencoba merebut Tama, rupa’y.


Sejak awal Tama melarang’y mendekati Ferina. Tama benar2 melindungi cewek itu.


Emang apa sih istimewa’y anak baru itu? Entah bagaimana cewek itu menarik perhatian Tama begitu rupa.


Tiffany setengah berlari. Dia baru saja menumpahkan tangis’y di toilet. Tangis yang membuat’y semakin percaya betapa tidak adil’y dunia ini.


Dia teramat membutuhkan seseorang yang selalu menemani’y di saat2 seperti ini. Cuma Tama yang bisa mengerti dan menenangkan’y.


Cewek itu berhenti di ujung koridor laboratorium Kimia. Sekonyong-konyong Tiffany melihat’y. Sosok yang sedang tertawa lepas, tawa yang belum pernah didengar’y. Kenapa Tama tak pernah terlihat begitu gembira bersama’y? Dan kenapa semua itu justru terjadi saat dia bersama Ferina?


Apakah selama ini dia hanya menjadi beban? Air mata’y mengalir hangat. Andai saja…


“Fan! Tiffany!!”


Tiffany melihat wajah cemas di balik air mata’y. Di peluk’y cowok itu erat2.


“Fan, lo kenapa? Ada apa?!”


Tiffany mencoba bersuara. “Mama…”


Ferina menyaksikan sendiri mereka berpelukan. Cowok itu bahkan tidak menoleh ke arah Ferina lagi, seolah-olah Ferina tak pernah ada di sana bersamya.


Satu detik.


Tiga menit.


Apa yang mereka bicarakan?


Lima menit.


Cukup, Ferina menghela napas. Ferina berlari, dia tidak akan menangis di situ.