
“Fer, udah larut banget, bobo gih!” tegur Wulan lembut.
“Masih kepingin nonton, Ma.” Jawab Ferina malas2an.
“Ah, masa? Dari tadi Mama perhatiin kamu nggak mengikuti film’y tuh.” Sambung Wulan.
“Mama rese ah, sok perhatian segala… orang dari tadi nonton kok!” Ferina membela diri sekena’y sambil menyembunyikan diary. “Memang’y Mama tahu dari mana?”
“Pertama, kalau nonton film lucu, kamu pasti ketawa ngakak sampai nggak kenal orang dan lemparin bantal ke TV.” Wulan tersenyum geli. “Tapi dari tadi kayak’y film’y nggak ngaruh sama kamu. Nggak kayak biasa. Trus dari pandangan kamu aja ketebak banget kamu lagi mikirin yang lain. Daripada kayak begini, mending kamu bobo gih.”
“Ah… nggak! Masih pengin nonton, Ma!” ujar Ferina.
“Ya udah…” Wulan mengalah. “Mama mau tidur dulu ya, tapi kamu jangan kemalaman, oke?”
“Oke deh, Ma…” sahut Ferina.
Sudah setengah dua belas, tapi dia belum mengantuk. Ferina meraih ponsel dan memencet beberapa angka yang sangat dikenal’y, lalu menunggu.
“Halo?” sebuah suara yang sangat akrab menyahut di seberang sana.
“Halo…” jawab Ferina.
“Ini siapa?” suara itu kembali terdengar di sela2 suara ribut di latar belakang.
“Ferina. Pa kabar lo, Nda?”
“Ferina? Hei, ke mana aja lo seminggu ini? Gue hubungi nomor lo nggak pernah aktif. Lo ke mana sih? Gue nyariin lo, tau nggak?” cowok bernama Yanda itu memberondong’y dengan nada menuduh.
“Ribut banget…” komentar Ferina.
“Biasa, anak2 lagi ngumpul. Bentar, gue keluar dulu.” Ujar cowok itu.
“Nah, sekarang jawab pertanyaan gue. Ke mana aja lo selama ini, dan kenapa nomor lo nggak aktif lagi?”
“Udah gue buang, sekarang gue pakain yang ini. Dan satu hal, lo jangan ngasih tau nomor ini ke siapa pun.” Ujar Ferina.
“Emang kenapa? Lo bener2 bikin gue bingung!” komentar Yanda. “Barusan gue juga dengar dari anak2 kalau lo mau pindah sekolah gitu. Gue heran sekaligus kaget, tapi gue nggak percaya sebelum gue klarifikasi dulu ke elo. Gue harap sih itu berita nggak bener, ya kan, Fer?”
“Mmm… berita ini bener kok. Sekarang… ngg… gue udah di Jogja.” Sahut Ferina.
“What?! Jangan bercanda, Fer!” cowok itu benar2 nggak percaya. “Lo kok nggak cerita sih? Gue kan sohib lo, dan selama ini kita saling percaya. Akhir2 ini lo bener2 berubah. Drastis! Lo udah nggak terus terang lagi ke gue, lo nggak ngasih gue kesempatan buat bantuin lo keluar dari masalah lo lagi. Lo gimana sih, Fer? Gue kehilangan lo, tau nggak sih? Dan sekarang gue harus nerima kenyataan lo udah pindah tanpa pamit ke gue. Apa lo nggak nganggep gue lagi, Fer? Jujur, sekarang gue jadi kecewa sama lo.” Cerocos cowok itu. “Gue ngerti apa yang lo alami itu…”
“Udah, Nda!” potong Ferina. “Gue nggak pengin ngebahas itu lagi. Nggak penting!”
Tahu cowok itu sangat kaget, Ferina pun terdiam. “Maafin gue, Nda. Gue nggak bermaksud begitu, gue nggak bilang2 karena gue takut nanti’y gue berubah pikiran. Soal’y selama ini cuma lo yang bisa ngerti gue, dan selalu jujur sama gue. Cuma lo yang bisa gue percaya…”
“Trus kenapa…” suara cowok itu terdengar putus asa.
“Sebenar’y gue nggak pengin ada yang tahu keberadaan gue. Lo satu2’y yang gue kasih tahu, lo ngerti, kan?”
“Trus gimana dengan An…”
“Jangan sebut nama dia lagi!”
“Lo sebenar’y ada apa sih sama dia?! Bukan’y hubungan kalian baik2 aja? Atau sebenar’y memang ada masalah? Lo kenapa sih, Fer? Selama ini kalau lo ada masalah sama dia, lo selalu cerita ke gue. Lo bener2 bikin gue nggak ngerti.”
“Yang jelas, Nda, gue nggak bisa bernapas kalau masih di sana. Apalagi nyokap gue, ini semata gue lakukan demi nyokap gue!”
“Sekalian lo lari dari masalah lo, kan?” tuding Yanda.
“Mau gimana lagi? Gue juga merasa lebih nyaman di sini. Gue pengin membuka lembaran baru hidup gue. Gue sadar kok, semua orang bilang gue berubah, dan gue rasa, di sini gue bisa jadi diri gue sendiri.”
“…”
“Nda, lo tahu kan, yang gue alamin itu berat banget? Gue terlalu lemah untuk menerima semua itu. Gue nggak sanggup, Nda. Gue pengin terbebas, gue pengin lupain masa lalu.” Ujar Ferina.
“Fer, maafin gue ya… seharus’y gue lebih ngertiin elo, sebagai sahabat gue emang egois, gue marasa gagal…”
“Lo nggak salah kok. Bagi gue, sebagai sahabat elo udah melakukan yang terbaik.”
“Thanks. Fer, gue harap lo nemuin apa yang lo cari di sana. Gue harap lo bahagia, tapi jangan pernah lo lupain gue. Ntar kalau gue ke Jogja, lo mau kan, ketemu gue?”
“Sip banget, Nda. Lo selama’y tetap sahabat gue. Udah dulu, ya…”
Ferina memutuskan telepon dan terdiam.
Zrrrt… zrrrt…
Getaran ponsel mengejutkan Ferina dari isakan’y.
“Lo nggak nangis kan, Fer?” Tanya Yanda.
“Nggak perlu bohong, Fer. Lo bikin gue khawatir.”
“Gue nggak pa2, Nda. Gue baik2 aja.”
“Lo nggak baik2 aja. Gue tahu ini berat banget buat lo. Walapupun selama ini gue mengenal lo sebagai cewek yang tegar, ceria, dan… agak jail.” Cowok itu tersenyum hampa. “Kalau saja gue bisa selalu ada buat bantu lo...”
“Lo nggak perlu merasa bersalah gitu. Di sini gue akan mengembalikan semua itu. Semua kebahagiaan yang sempat hilang dan jati diri gue yang seakan tenggelam. Semua itu akan lebih baik kalau gue di sini.”
“Gue senang dengar’y, Fer. Itu baru lo banget. Ya udah, lo tidur ya… gue nggak pengin lo sakit.”
“Makasih ya, Nda. Lo perhatian banget sama gue.”
“Makasih juga karena lo masih menganggap gue sahabat terbaik lo.”
“Pasti, nggak ada yang bisa menggantikan itu.” Sahut Ferina.
Ferina terisak semakin dalam sambil menyembunyikan wajah di antara lutut.
Malam itu pun dia kembali menumpahkan kekecewaan’y, sama seperti malam2 sebelum’y. Namun Ferina berjanji, ini terakhir kali dia melakukan’y.
***
Pada Minggu pagi yang sangat cerah itu, Ferina terbangun dan meregangkan otot2’y yang kaku sehabis terbaring semalaman di sofa. Dia terlalu lelah karena menangis.
Dia mencuci muka di wastafel dan bercermin. Mata’y tampak sembap. Dia pun masuk ke kamar mandi.
Setelah itu dia beranjak ke dapur, dan melihat Mama sudah asyik dengan kesibukan pagi’y.
“Bikin apa sih, Ma?”
“Kue tart. Ambil telur di kulkas, Sayang.” Ujar Mama sambil menimbang tepung.
“Berapa?” Tanya Ferina.
“Semua aja, bawa wadah’y sekalian, ya.”
Ferina memperhatikan tangan terampil mama’y saat mengolah adonan.
Ferina memperhatikan mama’y yang sangat tenang tanpa beban.
“… if tomorrow never comes…” Ferina bersenandung.
“Nah, sekarang kita sarapan yuk. Mama udah masak nasi goreng spesial kesukaan kita.” Ajak Wulan penuh semangat.
“Oh ya?!” ujar Ferina senang.
Ferina mengambil piring dan menjangkau mangkuk nasi goreng yang kaya dengan beragam variasi.
“Hmmm… lezaaat.” Decak Ferina puas. “Masakan Mama enak terus Numero uno deh!” ujar’y. “Kata orang2 di TV, two thumbs up!”
Wulan tersenyum kecil melihat kelakuan putri’y.
“Ferina jadi pengin belajar masak, jadi pintar kayak Mama, biar nanti bisa buka toko kue kayak Cake Resort, waaah!” tanpa sadar Ferina sudah berkhayal jauh sekali.
“Hei, habisin makan’y dulu.” Tegur Wulan.
“Oh ya, omong2, Cake Resort Mama yang di Semarang nggak tutup, kan?”
“Ya nggak dong, toko kita kan udah banyak pelanggan’y, sayang kalau bikin mereka kecewa. Kan ada Oom Surya dan Tanta Arini yang ngawasin di sana.” Jelas Wulan. “Jadi cerita’y, Mama mau coba buka cabang di sini. Oom Surya udah cariin tempat yang bagus buat Mama. Toko kita kan sudah cukup di kenal, jadi rasa’y kita tidak perlu memulai dari nol. Mudah2an semua berjalan lancar sesuai rencana.”
“Amin…” kata Ferina sungguh2.
Cake Resort adalah toko kue Wulan yang sudah dirintis sejak lama dan sukses.
Ting!
Sebuah suara melengking menandakan kue sudah matang. Aroma lembut langsung menguar di seantero dapur. “Hmmm…”
Ferina membantu mama’y mengoleskan krim dan menghias kue.
“Nah, habis ini tinggal dimasukkan ke kotak.” Kata Wulan.
Ferina mengernyit tidak mengerti. “Untuk apa?”
Wulan tersenyum simpul. “Kita kan belum berkenalan dengan tetangga. Apalagi tetangga kita cuma satu, karena di depan rumah kita penginapan, dan si sisi lain juga cuma jalan.”
“Oh…” Ferina mengangguk mengerti.