
Suasana hening menyelimuti atmosfer di mobil Haikal. Papa Haikal, Dean, sesekali dia memainkan jari’y pada roda kemudi.Haikal sendiri sibuk pada ponsel’y. Sementara itu, di jok belakang, Tama dan Ferina juga duduk diam. Ketika tahu2 Ferina memaksa Tama ke Surakarta tanpa memberi penjelasan sedikit pun, cowok itu bingung, apalagi setelah mendengar cerita Haikal.
“Tiffany nggak pernah cerita dia punya adik. Dia selalu bercerita seakan-akan dia anak tunggal.” Kata Tama. “Gue sendiri juga nggak berani bertanya lebih jauh tentang keluarga’y. Gue cuma dengerin apa yang mau dia certain ke gue. Itu aja.” Lanjut Tama lagi.
“Dari cerita Haikal, Tiffany memang nggak mau orang2 tahu mereka bersaudara.” Tambah Ferina.
“Gue yakin sekarang Tiffany ada di tempat mama’y. Kemarin waktu gue balik dari kantin, Tiffany udah nggak ada. Gue coba hubungin balik pake nomor si Aji, tapi nomor’y nggak aktif. Gue yakin dia udah coba menghubungi nomor gue. Tapi ponsel gue lagi mati.” Kata Tama.
“Yah, siapa yang bakal menduga cerita’y bisa begini. Semua serba nggak terduga. Yang jelas lo bersedia, kan, nganter Haikal dan papa’y ke sana? Gue kan nggak tahu tempat’y.” cerocos Ferina.
“Ya pastilah, nggak mungkin gue tolak, kan? Tapi lo ikut juga kan, fer?”
“Ihh… iyalah… lo kan belum kenal Haikal.” Tukas Ferina.
Kini Ferina memandang ke luar jendela mobil.
Mata Ferina mulai terasa berat, dia sangat lelah.
“Gue tidur, ya?” Ferina setengah berbisik kepada Tama.
“Tidur aja.” Tama balas berbisik.
Ferina pun bersandar di bahu Tama dan memejamkan mata. Tama menggenggam tangan’y. Namun pada saat yang sama Haikal melirik lewat kaca spion di depan’y. Mereka terlihat sangat dekat dan saling berbagi. Kenapa selama ini dia nggak pernah menyadari’y?
Haikal memperhatikan bagaimana Ferina berbicara dan menatap Tama. Tatapan’y sangat berbeda dengan yang selama ini dilihat Haikal. Kini Haikal mengerti, Ferina nggak pernah sedikit pun menaruh hati kepada’y.
Haikal mengalihkan pandang. Cemburu. Dia tahu diri’y cemburu. Dia kembali menatap wajah Ferina yang terlelap. Sangat alami dan manis.
Ferina bukan untuk’y. Tapi bagaimana dengan Tiffany? Bukankah dia sangat dekat dengan Tama?
Bukan. Yang harus dipikirkan’y saat ini adalah diri’y, Tiffany, Mama, dan Papa. Biarkanlah cinta itu.
“Mama haus, Fan…” suara serak seorang wanita paruh baya menyentak Tiffany dari lamunan’y.
“Mama sudah bangun?” Tanya Tiffany. Dia menghapus air mata’y. “Udah enakan?” tanya’y.
“Entahlah.” Jawab Saza. Tubuh’y terasa letih dan tidak berdaya.
“Baju Mama sudah beres, Fan?” untuk kesekian kali Saza mengusik lamunan Tiffany.
“Belum, mama belum bisa pulang hari ini.” Jawab Tiffany. “Lihat keadaan dulu ya, Ma.”
“Tapi… Mama udah bosan di sini, Fan.”
Tiffany diam saja. Perkataan mama’y barusan terdengar sangat egois. Bicara soal bosan, sudah lama dia merasa bosan dengan kehidupan abnormal yang dijalani’y bersama mama’y. Ingin rasa’y Tiffany meneriakkan perasaan’y.
“Aku keluar dulu.” Kata’y sambil berdiri dan menuju pintu.
“Fan.” Panggil mama’y. “Jangan tinggalin Mama…”
Tiffany tidak menggubris permohonan mama’y. Dia terus berjalan keluar. Kali ini keegoisan adalah milik’y.
Saza hanya terdiam menyaksikan kepergian putri’y. Terkadang Saza mendengar isak tertahan putri’y.Dia tidak bisa menyalahkan sikap putri’y. Semua yang terjadi adalah kesalahan’y, dan dia menyesal. Sebagai seorang ibu, dia telah gagal.
Saza sering bermimpi kalau saja dia bisa mengembalikan waktu dan mengembalikkan kebahagiaan yang dulu.
Tiffany berjalan tertunduk. Ah, kenapa semua jadi begini… begitu menyakitkan bagi’y. Tiba2 bayangan Tama berkelabat di benak’y, dan dia semakin merana.
Dia duduk di bangku taman yang kosong. Ditatap’y langit yang mendung. Dia tak ingin hidup seperti ini lagi. Dia yakin sanggup bertahan tanpa siapa pun. Dia akan pergi begitu mama’y diperbolehkan pulang. Dia akan mencari jalan’y sendiri, dia akan pergi jauh dan menghilang dari semua yang pernah dikenal’y.
“Ma, Fany nggak kepingin ketemu Mama lagi. Semoga Mama cepat sembuh, Fany ingin pergi secepat’y. Semoga di suatu saat, kita akan bertemu lagi di saat dan tempat yang berbeda. Dan semoga kita sama2 beruntung.” Ujar Tiffany lirih.