
Fer?” Andra memanggil Ferina, mengiringi langkha cepat dan bergegas gadis itu. Hari ini sikap Ferina sangat aneh, sangat tidak biasa dan belum pernah sejutek ini.
“LO JANGAN PERNAH DEKET2 GUE LAGI DEH! DENGER?!” Ferina sekonyongkonyong berbalik dan menghunjam Andra dengan hardikan’y.
“Memang’y kenapa? Jadi ini jawaban lo soal kemarin?” Andra semakin tidak mengerti.
“IYA! JELAS?!”
“Gue belum tuli, Fer. Lo nggak perlu teriak2 begitu supaya gue denger. Tolong kasih penjelasan!”
Sial! Penjelasan? Perlu penjelasan apa lagi? Semua’y sudah terlalu jelas bagi Ferina. Dia hanya nggak sudi menybut-nyebut atau mengungkit nama Faren lagi dalam hidup’y. Faren sudah pergi tanpa bisa mmpertangung jawabkan kesalahan terbesar hidup’y. Tak ada yang bisa diperbaiki kalau urusan’y dengan orang yang telah pergi untuk selama’y.
“Dengar, nggak ada penjelasan apa2. Dan mulai saat ini, lo nggak usah mikirin gue. Pikirin aja diri lo sendiri. Jelas?!” kata Ferina sengit.
“Fer, kalau lo nolak gue, nggak perlu kayak begini cara’y. Kalau lo nggak senang gue punya perasaan ke elo, bukan ini penyelesaian’y. Lo…”
“Udah! Gue capek dengerin lo! Kalau lo emang sayang sama gue, tolong penuhi satu permintaan gue: JAUHIN GUE!”
Selesai berkata begitu Ferina lari dengan gemuruh tak menentu menyesakkan dada’y. Saat itu dilihat’y Yanda yang baru saja menuju mobil’y.
“YANDA!”
Yanda berhenti sejenak melihat Ferina menghampiri’y. Sepuluh meter di belakang cewek itu, Andra tampak berdiri terpaku. Mungkinkah Ferina akhir’y mengetahui sesuatu? Tapi nggak mungkin, Faren sudah berjanji tidak akan mengatakan apa pun… lagi pula, kenapa baru sekarang Ferina bersikap seperti ini?
Andra terus memandang Ferina dengan perasaan tak menentu. Dia yakin cewek itu tidak tahu apa2. Faren sudah berjanji pada’y. Ataukah Faren sengaja memberi tahu Ferina, untuk sekadar melampiaskan perasaan’y? Untuk kesekian kali Andra berkata dalam hati: tidak mungkin.
***
Malam itu Andra terus berusaha menghubungi Ferina. Sampai akhir’y Ferina mematikan ponsel. Cewek itu membuka laptop dan langsung online. Dia membuka mail, dan mulai menulis.
From: Ferina Chelya L.
Subject: Daddy, I cried
Dad, I’ve found a suck kind of love. A nightmare for every girl in this small world! Tapi Ferina bukan cewek dungu yang gampang dibodohi. Ferina sudah bisa memutuskan apa yang terbaik bagi Ferina. Bagaimana kabar Daddy? Balas secepat’y! Kalau bisa Ferina kepingin chat lagi. Ferina kangen sama Daddy… Ferina keluar dari kamar dan melihat mama’y sedang sibuk merapikan ruang tamu. Ferina duduk dan menatap mama’y yang sedang menata pernak-pernik di meja.
“Ma, Ferina nggak kepingin tinggal di sini lagi.” Ferina menyampaikan kata2 yang tadi disusun’y.
Wulan menatap putri’y, padangan’y yang penuh tanya sudah cukup bagi Ferina untuk memulai penjelasan’y.
“Rumah ini terlalu besar untuk ditinggali berdua.” Kata Ferina sambil memeluk bantal. “Sekarang rumah ini jadi terasa semakin besar, semakin kosong, semakin sunyi, dan semakin jauh dari kehangatan. Apalagi setiap sudut, setiap dinding, setiap benda di rumah ini menyimpan kenangan tentang orang2 yang telah pergi. Daddy, Faren, sama saja. Semua itu semakin membuat Ferina terkurung dalam kesedihan. Dan Ferina ingin lepas dari semua itu.” Kali ini kata2 itu meluncur begitu saja mengikuti perasaan yang selama ini dipendam Ferina. Terutama sejak… terungkap‘y pengkhianatan Faren…
Wulan berdiri dan duduk di samping Ferina. Dia merangkul dan membelai putri’y dengan penuh perasaan.
“Apa yang kamu pikirkan itu, persis dengan apa yang sering terlintas di pikiran Mama…” kata Wulan jujur.
“Trus kenapa Mama nggak pernah bilang?” Tanya Ferina heran, sekaligus senang, karena Wulan sependapat dengan’y.
“Mama hanya nggak kepingin membebani kamu dengan keinginan Mama.
Mama pikir kamu akan keberatan karena harus berpisah dengan teman2mu. Lagi pula, minggu depan kamu ulangan umum kenaikan kelas, kan? Mama hanya ingin menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan’y, dan itu pun kalau kamu nggak keberatan.”
Ferina terkesiap dengan tuturan lembut mama’y. Tentu saja dia sangat nggak keberatan. Ferina sudah nggak tahan, ingin pergi jauh2 meninggalkan semua ini.
“Kalau begitu Mama udah nyusun planning dong?”
“Begitulah, Mama udah bicara dengan Oom Surya dan dia akan mencarikan rumah untuk kita di Jogja.”
“Jogja? It sounds so interesting!” kata Ferina dengan senyum manis’y yang menawan, wajah’y seketika langsung cerah.