Present Love

Present Love
Part//15



“Fer…” terdengar bisikan lembut Tama di telinga Ferina.


“Ngg?” Ferina membuka mata’y yang berat.


“Turun yuk. Kita sudah sampai.”


“Mmmm…” Ferina menegakkan tubuh. Ferina memandang keluar jendela dan melihat Haikal sudah berdiri di luar bersama papa’y. “Cepat sekali…”


“Dasar tukang tidur!” Tama mengacak-acak rambut Ferina. “Turun yuk!”


Ferina turun dan memandang bangunan di depan’y. Di mana2 rumah sakit sama saja. Sama2 menakutkan dan menyedihkan.


“Gue nggak mau masuk ke sana, gue di luar aja. Nggak pa2.” Kata Ferina.


“Lho, kenapa?” sahut Tama heran. “Yuk!” ditarik’y lengan Ferina.


Ferina bertahan ditempat’y berdiri. Tama menoleh dan memandang gadis itu yang tiba2 terlihat pucat dan tegang. Tangan Ferina dingin dan kaku.


“Fer?!” Tama memanggil Ferina. “Fer?!” lanjut’y.


Ferina langsung bersandar pada roda mobil. “Jangan paksa gue. Please…” kata’y lemah.


“Tapi… kenapa?”


Ferina hanya menggeleng.


Akhir’y dia meninggalkan Ferina. Disusul’y Haikal dan papa’y yang sedang menunggu di mobil. Tama menjelaskan di mana Saza dirawat dan meminta maaf karena tidak bisa menemani.


Tama kembali menemui Ferina dan kondisi cewek itu masih seperti tadi. “Fer, lo kenapa tiba2 kayak begini?” Tanya Tama panik.


Ferina menggeleng lemah. Akhir’y Tama menopang tubuh Ferina ke dalam mobil.


“Fer, lo kenapa?” Tama ngak bisa berhenti cemas.


“Di tempat seperti ini, gue menyaksikan dia pergi. Untuk selama’y.


Meninggalkan rasa sakit yang teramat dalam.” Ferina menahan tangis.


Tama tidak mengatakan apa2, dibiarkan’y Ferina mencurahkan perasaan’y.


“Saudara gue udah pergi. Ke tempat yang membuat’y nggak bisa kembali lagi. Dulu gue sayang banget sama dia. Sekarang gue membenci’y. Tapi di saat yang sama kadang gue juga sangat merindukan’y. Gue kepingin memarahi dia, tapi gue tahu dia nggak bisa mendengarkan gue lagi, dan nggak akan ada yang berubah.”


“Udah, udah.” Tama menenangkan. Dibelai’y kepala Ferina dengan lembut.


“Sekarang gue ada di sini, nemenin lo. Gue akan buat lo nyaman bersama gue.”


Ferina memejamkan mata’y yang basah. Faren, kenapa lo bikin gue kayak begini? Bisik Ferina dalam hati. Perih. Sampai hati banget lo sama gue…


***


Dean membuka pintu pelan sekali, mendorong’y hati2 dengan jantung berdebar. Dia melihat Saza terbaring di tempat tidur, menghadap jendela yang terbuka.


“Saza…” Dean mencoba bersuara dan mendekat.


Saza tersentak tak percaya. Dia membalikkan tubuh dan menatap dua sosok yang telah lama ditinggalkan’y. Dia tak mampu berkata-kata, dia membekap mulut’y dengan tangan, air mata’y membanjir penuh kerinduan. Tidak ada amarah, tidak ada lagi kebencian. Darah’y berdesir cepat dan menghangatkan tubuh’y. Saza hanya saggup terisak penuh haru saat Dean memeluk dan mencium’y.


“Maaf.” Saza masih berusaha berbicara di antara isakan’y.


“Sudahlah…” Dean membelai Saza.


“Mama.” Haikal mendekat dan memeluk mama’y.


Ah, akhir’y mereka berkumpul lagi. Semua akan kembali seperti dulu, berkumpul bersama di bawah satu atap, kembali bahagia seperti dulu.


Tak lama setelah itu pintu kembali terbuka. Tiffany masuk dan membeku melihat kebersamaan itu. Semua yang ada di ruangan menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Keluarganya lengkap. Tiffany bimbang, mata’y memanas dan air mata’y merebak. Lalu dia mendekat dan memeluk keluarganya.