
“Yanda, tunggu!” Andra mengejar Yanda yang sudah siap meluncur dengan mobil’y. Sejak Ferina menceritkan affair antara Andra dan Faren, Yanda langsung nggak simpati lagi kepada Andra dan mulai menjauhi cowok itu. Terang saja Andra semakin bingung dan nggak tahu harus berbuat apa.
Andra membuka pintu mobil dan duduk di sebelah jok pengemudi.
“Lo mau apa sih?” Tanya Yanda dingin.
“Seharus’y gue yang nanya, lo kenapa?!” tukas Andra frustrasi.
“Lo nanya gue kenapa?” Yanda masih sinis. “Lo memang nggak punya hati, ya! Gara2 lo, Ferina pindah dari sekolah ini. Lo udah bikin sahabat terbaik gue pergi!”
“Gue nggal suka lo asal nuduh begitu!” Andra mulai emosi. “Lo kayak begini karaena lo suka sama Ferina, kan? Lo sedih sejak dia pindah dan sekarang lo nuduh gue sebagai penyebab semua ini. Lo bener2 picik! Pengecut!”
“Brengsek lo! Gue nggak sebodoh itu bersikap kayak begini! Gue memang suka sama dia, dan waktu gue tahu dia naksir elo, gue cukup tahu diri. Gue rela lo jadi cowok’y Ferina, tapi gue nggak terima lo menyia-nyiakan dia dan nyakitin dia kayak begini!”
“Eh, jangan asal nuduh lo! Gue nggak ngerti lo ngomong apaan!” tukas Andra sambil meninju dasbor.
“Elo mau adu jotos?!” hardik Yanda tersinggung. Yanda turun dari mobil. Andra langsung mengikuti dan mereka pun berdiri berhadap-hadapan.
Maaf, Fer… Gue melanggar janji gue, tapi gue udah nggak tahan kepingin menghajar si brengsek ini. Gue lakukan ini buat lo, kata Yanda dalam hati. Akan gue balaskan sakit hati lo walaupun nggak seberapa, walaupun nggak sebanding dengan yang lo rasakan selama ini.
BUUUK!!!
Yanda menghantam perut Andra dengan tinju’y.
“ARRRGGGHHH!” Andra terjatuh dan mengerang kesakitan. Belum sempat menenangkan diri, pukulan demi pukulan kembali mendarat di wajah’y tanpa dia mampu membalas.
“LO KENAPA?” teriak Andra histeris penuh amarah.
“KENAPA?! KENAPA??” Yanda mencengkeram kerah seragam Andra. “INI
JAWABAN’Y!”
BUKKK!!!
Yanda menghantam dada Andra dengan tendangan’y, lalu berbalik menuju mobil dan membiarkan Andra tergelatak begitu saja.
“Arrggh!” Andra mengerang. Dada’y sesak. Dia nyaris nggak bisa bernapas.
Pandangan’y mula gelap. “Kenapa…? Dia mengerang dengan suara lemah.
Sekelebat Andra melihat Yanda berlari menghampiri’y. “Ndra! Andra!
Andraaa!” teriak Yanda terasa sangat jauh dan akhir’y hilang sama sekali. Andra tak sadarkan diri.
***
“Fer, lo kenapa? Nggak pa2, kan?” Tanya Tama cemas.
“Ngghh…” Ferina mendesah. “Nggak pa2 kok.” Kata’y. Ia sedang meruncingkan pensil dengan cutter, ketika tanpa sengaja melukai telunjuk’y.
“Sini, biar gue bantu.” Tama meraih tangan Ferina yang terluka. Diisap’y telunjuk Ferina yang berdarah. Darah Ferina berdesir cepat dan jantung’y berdetak tak teratur.
“Udah.” Ujar Tama. Ferina tersenyum. “Kenapa, Fer?” Tanya Tama heran.
“Nggg… nggak kok. Nggak kenapa2.” Jawab Ferina.
Tama tersenyum geli. Dia mengusap kepala Ferina dengan sayang. “Lo sama gue kok masih grogi2an segala sih?” kata’y tenang. Dipeluk’y Ferina dan dicium’y kening’y dengan lebut.
Sejak Tama menjadi someone special’y, hari2 Ferina benar2 ceria dan penuh kejutan. Cowok itu sangat menyayangi’y.
Tapi saat itu perasaan Ferina agak berbeda. Seolah-olah ada firasat yang membisikkan telah terjadi sesuatu. Ponsel Ferina berbunyi. Yanda.
“Hai.”
“Fer, maaf.” Suara Yanda terdengar resah.
Ferina mengerutkan dahi. “Maaf? Kenapa? Emang lo udah ngapain?”
“Maaf…”
“Iya, tapi kenapa?”
“Gue… gue habis menghajar Andra.”
Darah Ferina berdesir lemah.
“Bukan’y gue udah bilang!” tukas Ferina, emosi’y nggak menentu.
“Gue nggak tahu, Fer. Gue lepas kendali dan…”
“Gimana keadaan’y?” Ferina terdengar sangat cemas. “GIMANA KEADAAN’Y?!!!” sekarang dia nyaris histeris.
“Sekarang… dia masih di IGD. Gue lupa jantung’y lemah, gue…”
Ferina menekan tombol merah di HP’y, lalu terisak.
“Kenapa, Fer? Tadi itu siapa?” Tanya Tama panik. Ferina hanya bisa menggeleng dan terus terisak. Dia sendiri nggak ngerti kenapa diajadi khawatir dan sedih seperti ini. Seharus’y dia merasakan sebalik’y, karena toh sakit hati’y telah terlampiaskan. Tapi mendengar keadaan Andra seperti itu…
Entahlah, mungkin Ferina nggak kepingin kedua sahabat’y jadi bertengkar karena diri’y. Dia nggak kepingin salah satu atau kedua’y terluka. Sudah cukup kejadian dulu itu. Cukup dia saja yang merasakan amarah itu, rasa sakit itu.