Present Love

Present Love
Part//12



Ferina menopang dagu’y dengan malas. Perpustakaan sangat sepi. Dia mulai mengerjakan soal fisika.


“Tidak ada toleransi lagi! Dengan sangat menyesal saya tidak mengizinkan


Anda mengikuti kelas saat ini. Selesaikan semua soal halaman 111 dan tulis kalimat perjanjian sebanyak 100 kali dan harus disertai stempel perpustakaan!“ kata Bu Hanna sangat tegas. “Silakan keluar karena saya akan melanjutkan materi!”


Tanpa sadar Ferina melamun dan nyaris ketiduran di kelas Bu Hanna.


Bosan mencoba menyelesaikan soal yang begitu rumit, Ferina mulai menulis kalimat perjanjian dengan hati2.


Belum separuh jalan Ferina sudah amat sangat bosan.


“Fer, gue pengin ngomong sama lo.” Sebuah suara menyentakkan Ferina.


“Haikal? Ngapain lo di sini? Nggak diusir Bu Hanna juga, kan?” Tanya Ferina. Wajah Haikal kusut dan sangat tertekan.


“Lo kenapa, Kal?” Tanya Ferina.


“Nggak kok, gue cuma pengin ngomong sama lo aja.” Jawab Haikal.


“Ngomong? Ngomong apa?”


“Mmm… Tiffany.”


“Jadi lo bener2 pengin tahu lebih banyak tentang Tiffany?”


Haikal mengangguk pelan.


“Memang’y penting buat lo?”


“Iya, Tiffany penting banget buat gue!” jawab Haikal. “Lo nggak tahu betapa berarti’y dia bagi gue!”


“Iya, iya, gue ngerti kok.” Ujar Ferina sabar. Bayangan jail melintas di benak’y yang lagi ngadat.


“Tolongin gue, please…” kata Haikal lagi.


Ferina menimbang-nimbang sejenak. “Tapi… dengan dua syarat, gimana?” “Syarat? Syarat apa?!” Haikal seakan kehabisan kesabaran.


“Hmm… pertama, lo harus berhasil bawa kabur gue dari sekolah. Gue suntuk banget di sini.” Ferina memandang Haikal sekilas.


“Trus yang kedua… kita tukeran informasi tentang Tiffany, gue yakin lo juga tahu beberapa hal tentang dia. Nah, gimana?” usul Ferina.


Kenapa harus begitu?” protes Haikal.


“Karena cuma itu yang bisa bikin gue mau cerita sama lo!” jawab Ferina sok jual mahal. “Kalau nggak mau ya udah, gue juga mau ngerjain ini nih. Sibuk!” ujar’y.


“Ya udah, gue setuju.” Haikal menyerah. Dia sendiri bingung bagaimana cara’y kabur dari sekolah.


Ferina tersenyum simpul. Bisa jadi Tiffany masa lalu Haikal, alias mantan’y.


“Siiip… deh!” bisik Ferina. “Anak2 biasa’y manjat pagar di belakang labor kimia buat cabut. Termasuk gue.” Lanjut’y.


Jantung Haikal berdegup kencang, dia ragu. Bagaimana kalau tidak berjalan lancar? Akhir’y Haikal memutuskan untuk meladeni ide gila Ferina.


“Yuk.” Ajak Ferina penuh semangat.


Mereka menyelinap di balik dinding gedung perpustakaan. Akhir’y mereka sampai juga di labor kimia. Tembok kokoh yang memisahkan sekolah dengan lingkungan luar itu bergerigi, hasil karya siswa pelanggan cabut supaya mudah dipanjat dan dilompati. Belum lagi pohon jambu yang tumbuh subur mempermudah aksi minggat mereka ini.


“Sempurna…” desis Ferina.


“Ladies first?” Tanya Haikal.


“Cowok duluan, kali, masa gue manjat lo nungguin di bawah! Mau ngintip lo?” repet Ferina sambil merapatkan rok pendek’y.


Haikal jadi malu dan salah tingkah. “Maaf, gue nggak tahu.”


Haikal memanjat pohon jambu dengan hati2, menjangkau bagian atas tembok, dan menaiki’y. Haikal menoleh ke arah Ferina. “Hati2 ya, gue tunggu di seberang.”


Ferina mengangguk mantap, Haikal menghilang di balik tembok. Dengan hati2 Ferina melangkahi semak. Dia nyaris mencapai pohon ketika sesuatu merayap melewati sepatu’y. Ferina melihat ke bawah dan menemukan seekor ular kecil yang lumayan panjang.


“HEI, SIAPA DI SANA?” suara Pak Irwan, guru kimia yang mungkin sedang berada di labor. Ferina langsung panik.


“Fer! Cepat naik!” Haikal muncul dari balik tembok.


Tanpa babibu Ferina memanjat pohon jambu. Dengan sigap Haikal menyambut tangan Ferina dan menarik’y ke tembok. Terdengar suara kaki Pak Irwan.


“Siap2 ya, kita lompat!” Haikal memberi aba2.


“Gue takuuuut!” protes Ferina.


“Gue jamin nggak ada ular!” Haikal nggak kalah panik.


Langkah Pak Irwan semakin dekat.


“Baiklah, kita lompat sekarang.” Bisik Ferina panik.


Mereka melompat, sebelum mencapai tanah, Haikal memeluk Ferina sehingga cewek itu tidak jatuh menghantam tanah seperti dia.


“Haikal, lo nggak kenap…”


Haikal memeluk Ferina erat2.


“Gue khawatir banget sama lo, Fer. Gue nggak mau lo kenapa2!” Haikal mempererat pelukan’y hingga Ferina nyaris nggak bisa bernapas. “Lo tanggung jawab gue selama kita kabur.”


Ferina mendorong lembut tubuh Haikal.


“Gue nggak pa2 kok, lagian semua ini kan ide gue seharus’y gue yang minta maaf sama lo.”


“Tapi lo bener nggak pa2, kan? Nggak ada yang luka, kan? Nggak sempat di gigit ular, kan?” Haikal masih kelihatan cemas.


Ferina menggeleng lembut. Haikal menyentuh wajah Ferina yang masih basah oleh air mata.


“Syukurlah lo nggak pa2.”


***


Dalam sekejap Ferina menyesap habis minuman dingin yang mereka beli. Mereka duduk di bawah pohon mahoni tua di sudut lapangan basket.


“Capek juga ya.” Kata’y.


“Hmmm…” gumam Haikal. “Jadi?”


“Jadi apa?” Tanya Ferina.


“Fer, lo nggak lupa, kan, kita jauh2 berjuang sampai ke sini buat apa?”


“Oh iya.” Ferina menepuk kening seenak’y. “Gue nyaris lupa.”


“Gue pengin lo ngasih tahu gue semua yang lo ketahui tentang Tiffany.” Kata Haikal. “Sekarang juga.”


Ferina mulai bercerita sambil menerawang.


“Kenapa Tiffany berkeras menghadapi semua itu sendirian? Padahal gue selalu siap membantu’y.” ujar Haikal lirih. “Gue selalu ingin tahu keadaan’y, apa aja yang di rasakan’y, tapi dia nggak pernah ngasih gue kesempatan. Gue nggak tahu apa salah gue, keadaanlah yang bikin gue jadi serbasalah!”


“Lo pasti sayang banget ya, sama Tiffany. Ya kan?” Tanya Ferina. “Lo nggak perlu cerita kok tentang dia. Gue rasa udah cukup yang gue ketahui tentang dia.”


Haikal diam sejenak. “Benar, gue emang sayang sama Tiffany, tapi kalau boleh jujur… gue juga sayang sama lo.”


“Lo bilang apa?!” Tanya Ferina kaget.


Dia menatap nggak percaya cowok yang duduk disamping’y itu.


“Gue sayang Tiffany, dan gue juga sayang sama lo.” Ulang’y. “Gue nggak tahu sejak kapan perasaan itu muncul. Yang jelas, makin hari rasa itu makin kuat di hati gue.” Ujar Haikal lirih.


“Tapi…” suara Ferina tercekat.


“Lo jangan konyol, Kal!” kata Ferina seraya berdiri, lalu pergi dari situ