Present Love

Present Love
Part//05



Tiga hati pertama di awal tahun ajaran jelas asyik. Meski harus gotong royong membersihkan kelas dan lingkungan sekolah.


“Ternyata di sini asyik juga, ya.” Ujar Haikal sambil duduk di bangku yang menghadap Ferina. Cewek itu memejamkan mata.


“Hmmm…” kata Ferina tanpa membuka mata.


“Lo nggak haus? Gue mau ke kantin beli minuman.”


Mata Ferina langsung terbuka. “Gue titip milkshake sama Chitato, ya!” dengan semangat dia merogoh kantong.


Haikal tersenyum melihat tingkah Ferina. ‘Ya udah, lo tunggu di sini ya.” Kata’y sambil berlalu.


Ferina meregangkan tangan’y yang lumayan capek setelah merapikan bugenvil di samping taman.


Ditatap’y lapangan sekolah yang luas. Di sana sedang berlangsung kegiatan MOS siswa baru. Ferina menangkap sosok Tama yang sedang mengawasi kegiatan MOS.


Ferina menyisir rambut’y yang kusut dengan jari, kemudian mengikat’y asal’asalan.


“Hai, sendirian?” tiba2 Tama sudah mucul di hadapan Ferina.


“Eh… hai…” Ferina jadi salah tingkah.


Tama duduk di samping Ferina.


“Sibuk ya?” Ferina melontarkan pertanyaan basi.


“Yaaah… lumayan.” Sahut Tama. “Gue nggak nyangka bakal ketemu lo di sini.” Kata’y.


“Gue juga kaget.” Sahut Ferina.


“Tapi gue senang banget lho, soal’y bisa dibilang doa gue terkabul.” Ujar Tama sambil tersenyum. “Oh ya, tangan lo yang luka kemarin gimana?” Tanya cowok itu sambil meraih tangan Ferina dan mengamati’y. “Masih sakit?”


“Ngg… udah nggak lagi.” Kata Ferina sambil menarik tangan’y. Tapi Tama menahan. “Ada apa?” Tanya Ferina. Cowok itu menatap’y.


“Lo mau tutup mata sebentar?”


“Buat apa?”


“Tutup aja. Tiga detik cukup kok.” Sahut Tama.


Akhir’y Ferina menutup mata. Tiga detik berlalu.


“Sekarang, buka mata lo.” Kata Tama.


Ferina membuka mata dan…


“A present for you…” kata Tama sambil meletakkan sebuah kado kecil di tangan Ferina. “Maaf ya, telat.”


“Bener nih buat gue?” Ferina nggak yakin dengan apa yang dilihat’y. Dibuka’y kotak itu. Dia mendapati sebentuk kalung dengan liontin kupu2 kecil yang sangat manis. “Kalung?” bisik Ferina. “Cute bangeeeetttt…!”


“Suka?” Tanya Tama.


“Banget! Sumpah!”


“Gue pasangin ya.” Ujar Tama. “Tadi’y nanti sore gue mau mampir di rumah lo nganter hadiah ini. Eh, kita malah ketemu di sini.” Lanjut Tama lagi.


Ferina mengangkat rambut’y sementara Tama memakaikan kalung itu.


“Cantik.” Kata Tama spontan.


Ferina hanya menatap cowok itu. Tama jadi salting sendiri.


“Nggak heran sih lihat cewek lupa diri kalau udah berhadapan sama gue.


Hehehe…”


“Ih… norak.” Balas Ferina sambil memukul lengan cowok itu.


“Awww!” Tama berteriak sambil mengusap-usap lengan’y yang masih sakit karena ditabrak Ferina beberapa hari yang lalu. “Sakit, tau! Cakep2 tapi sadis…” kata’y.


“TAMAAA!” suara seorang cewek. “Lo ke mana aja sih?! Kami pusing nyariin lo, tau! Elo’y malah ada di sini.” Kata cewek berambut ikal panjang itu melempar pandangan tidak suka pada Ferina. “Tahu orang sibuk malah digangguin!” umpat’y kepada Ferina.


Tahu2 Haikal muncul dari arah berlawanan. Dia menghampiri Ferina.


“Tiffany?” ujar Haikal pelan.


Cewek bernama Tiffany itu jelas2 kaget. Dia langsung menarik Tama menjauh secepat mungkin.


“Lo kenal dia?” Tanya Ferina sinis.


Haikal tidak menjawab.


“Hei!” tegur Ferina sambil menepuk lengan Haikal.


“Eh, maaf. Apa?” Tanya Haikal.


“Tuh cewek rese banget!” Ferina menumpahkan kekesalan’y pada Haikal.


“Tadi itu cowok’y, ya?” Tanya Haikal.


“Mana gue tahu?! Gue aja baru dua hari di sini. Sama kayak lo!” jawab Ferina sewot. “Emang lo kenal di mana sama nenek sihir itu?” tanya’y ketus.


“Bisa di mana aja.” Jawab Haikal sekena’y.


***


“Sst… Fer!” sebuah sikutan membuat Ferina kaget.


“Ihhh… lo apaan sih, Ra.” Ferina mendesis sebal. “Bikin jantungan, tau!”


“Sst… liat tuh!” Tiara menunjuk bangku di sudut perpustakaan. Haikal. Ferina cuma geleng2 kepala.


Nggak terasa satu bulan sudah berlalu. Ferina sekarang lebih dekat dengan Tiara, cewek imut yang suka banget sama Haikal yang udah jadi idola’y sejak pertama sekolah. Beberapa kali Ferina sempat memergoki cowok itu menatap Tiffany dari jauh. Tatapan’y pun gimana… gitu. Huh… kasihan, pikir Ferina.


“Emang ngapain lagi dia?” ujar Ferina.


“Cakep banget… apalagi kalau lagi baca buku sains gitu…” sahut Tiara. “Apalagi kalau…”


“Ih, biasa aja, kali!” potong Ferina.


“Tapi gue sukaaa…”


Ferina tidak berkomentar dan kembali menekuni deretan buku. Karena Haikal cowok tipikal kutu buku yang hobi nongkrong di perpus, maka nyaris setiap hari Ferina di tarik Tiara ke situ, ngumpet di balik rak, trus dia sendiri akan menatap cowok itu nggak habis2’y.


“Fer, Fer!” Tiara kembali menyikut Ferina.


“Apa lagi sih?”


“Itu…”


“Itu apa?” Tanya Ferina.


“Si Haikal kenapa tuh?”


“Kenapa gimana?” kata Ferina sambil menoleh pada Tiara. Sekarang Haikal mengangkat buku’y hingga menutup wajah, jelas sedang mengawasi sesuatu.


“Dia melihat ke arah sana.” Ujar Ferina.


Deg!


Ferina melihat Tiffany sedang bercerita dengan suara sangat pelan dengan Tama. Mereka mendekatkan kepala. Entah kenapa rasa cemburu tiba2 muncul begitu saja di hati Ferina. Semenjak dia bersekolah di sini Tama selalu berusaha menemui’y, bagi Ferina semua itu belum terlalu berarti. Tama seperti’y terlalu terikat dengan Tiffany. Cowok itu seperti’y terlalu menuruti keinginan Tiffany, meskipun itu nggak sesusai dengan keinginan hati’y.


“Kenapa…” Ferina mendengar isakan kecil di dekat kaki’y.


“Kenapa apa?” Tanya Ferina lembut sambil menyentuh bahu Tiara.


“Kenapa cowok yang gue taksir justru merhatiin cewek lain? Dan kenapa harus si nenek sihir itu, coba.” Kata Tiara diselingi isakan’y.


“Udah, kita keluar aja yuk.” Ajak Ferina.