Present Love

Present Love
Part//26\\Hiatus!



Dia tahu ada kafe tak jauh dari Café Resort. Seperti’y kafe itu memenuhi kriteria yang di butuhkan’y saat ini. Dan di situlah Ferina sekarang.


Kalau ingin keluar dengan Tiffany, mengapa Tama mengajak Ferina keluar? Apakah dia sudah menduga Ferina akan menolak ajakan’y?


Ferina melihat Tiffany bicara dengan ekspresi… Ekspresi apakah itu? Entahlah. Namun sesaat kemudian Tiffany tampak meraih tangan Tama, dan cowok itu kelihatan berusaha menarik’y, tapi Tiffany menahan’y sambil terus berbicara.


Perasaan Ferina langsung nggak keruan. Dia meraih ponsel dan menghubungi Tama. Dalam hitungan detik Ferina melihat Tama menarik ponsel’y dari saku. Dia mengatakan sesuatu kepada Tiffany sehingga cewek itu terpaksa melepas tangan’y.


“Ada apa, Fer?”


“Lo di mana?” tnya Ferina. Dalam hati dia membatin, Jangan bohong, please, jangan bohong…


“Gue lagi di kafe, di Dido’s.”


Ferina menarik napas lega. Tama tidak berbohong. “Sendiri?”


“Sama teman.”


“Siapa?”


“Tiffany.”


“Ohhh…” Ferina mendesah kecewa. “Nggak bisa pergi sama gue, elo langsung nyari Tiffany rupa’y. Apa lo harus di temani cewek, begitu ya?” kata Ferina dengan nada menuduh yang tidak bersahabat.


Ferina melihat Tama bergerak-gerak resah, dan mengacak rambut’y sekilas.


“Bukan begitu. Lo jangan salah paham dulu. Nanti gue jelasin. Oke? Please?”


“Terserahlah.”


Ferina mematikan ponsel. Setidak’y Tama nggak berbohong. Cowok itu tampak memencet-mencet ponsel’y, seperti’y mencoba menghubungi Ferina. Tapi tentu saja nggak berhasil. Setelah beberapa saat mencoba, dan tahu usaha’y sia2, Tama menyimpan ponsel dan memperhatikan Tiffany yang tampang’y cemberut. Ferina geli karena berhasil merusak suasana hati Tiffany.


Ferina terus memperhatikan. Rasa’y menyenangkan menyaksikan Tiffany cemberut seperti itu, dan obrolan mereka seperti’y berakhir tak lama kemudian Tiffany berdiri lalu di ikuti Tama.


Baguslah, batin Ferina. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri.


***


“Hai, gue nepatin janji, kan?” cerocos Ferina sebelum orang yang sedang di hubungi’y sempat bilang “halo”.


“Ya, tentu saja lo nepatin janji.” Tama tersenyum di ujung sana.


“Yap, tentu saja.” Ulang Ferina. “Gue cuma mau bilang hari ini gue senang.”


“Gue ikut senang dengar’y. Lo ngapain aja sampai merasa senang?”


“Banyak. Dan gue nggak mungkin sebutin satu2.”


Termasuk merusak suasana hati Tiffany sampai pertemuan kalian hanya berlangsung singkat.


“Jadi, ngapain lo sampai keluar dengan Tiffany?” nada suara Ferina datar dan dingin.


“Gue bisa jelasin.” Ujar Tama sabar. “Begini, nggak lama setelah gue ngajak lo keluar, Tiffany datang dan meminta gue temenin dia ke kafe.”


“Trus lo langsung mau aja, gitu?”


“Fer, bagaimana pun Tiffany sahabat gue, lo sendiri tahu dia kayak apa. Bagi gue, nggak ada salah’y gue nemenin dia sesekali.”


Ferina mendesah keras. Dia sudah tahu bakal begini. Tiffany nggak bakalan melepaskan Tama semudah itu.


Walaupun gue belum sepenuh’y yakin dengan keputusan gue ini, kali ini gue akan membiarkan dia menemui cinta’y.


Ferina masih ingat jelas bagian terakhir surat Tiffany itu. Dari perkataan’y jelas sekali cewek itu nggak bakal melepas Tama seutuh’y, meskipun Tama sudah menjadi pacar’y.


“Baiklah, jadi ngomongin apa?”


“Nggak ada yang terlalu penting.”


“Oh ya, seperti itu nggak ada yang terlalu penting?” nada suara Ferina mulai meninggi. Dia jadi teringat waktu Tiffany menggenggam tangan Tama, dan jujur dia cemburu.


“Seperti itu? Seperti apa maksud lo?”


Ups, bodoh… Jangan sampai keceplosan Ferina… “Yah, maksud gue tiba2 ngajakin lo gitu.” Ferina berkilah.


“Nggak ada, cuma nemenin dia minum di kafe aja.”


“Jujur aja kenapa sih?!” Ferina benar2 nggak sabar lagi. “Gue tahu ada yang lebih daripada sekadar duduk2 di kafe.”


“Kok lo ngomong begitu sih?” Tanya Tama curiga.


“Karena gue ada di sana menyaksikan kalian berdua dengan mata kepala sendiri!”


Dan setelah mengucapkan itu Ferina mematikan ponsel dan melempar’y dengan gusar.BAB 27


“Gue pengin ngajak lo keluar. Ada waktu, kan?”


“Ada. Tapi gue lagi nggak pengin berbagi waktu. Gue pengin sendiri.” Kata Ferina datar. Dia membayangkan diri’y duduk sendiri di tempat sepi sambil menenangkan hati. Ah, betapa menyenangkan, pikir’y.


“Lo yakin, Fer?” Tama agak ragu. “Gue hanya ingin ada di dekat lo. Biar gue tahu lo baik2 aja.”


“Tapi, Fer-“


Ferina memutuskan telepon dan berangkat. Dia tahu ada kafe tak jauh dari Café Resort. Seperti’y kafe itu memenuhi kriteria yang di butuhkan’y saat ini. Dan di situlah Ferina sekarang.


Kalau ingin keluar dengan Tiffany, mengapa Tama mengajak Ferina keluar? Apakah dia sudah menduga Ferina akan menolak ajakan’y?


Ferina melihat Tiffany bicara dengan ekspresi… Ekspresi apakah itu? Entahlah. Namun sesaat kemudian Tiffany tampak meraih tangan Tama, dan cowok itu kelihatan berusaha menarik’y, tapi Tiffany menahan’y sambil terus berbicara.


Perasaan Ferina langsung nggak keruan. Dia meraih ponsel dan menghubungi Tama. Dalam hitungan detik Ferina melihat Tama menarik ponsel’y dari saku. Dia mengatakan sesuatu kepada Tiffany sehingga cewek itu terpaksa melepas tangan’y.


“Ada apa, Fer?”


“Lo di mana?” tnya Ferina. Dalam hati dia membatin, Jangan bohong, please, jangan bohong…


“Gue lagi di kafe, di Dido’s.”


Ferina menarik napas lega. Tama tidak berbohong. “Sendiri?”


“Sama teman.”


“Siapa?”


“Tiffany.”


“Ohhh…” Ferina mendesah kecewa. “Nggak bisa pergi sama gue, elo langsung nyari Tiffany rupa’y. Apa lo harus di temani cewek, begitu ya?” kata Ferina dengan nada menuduh yang tidak bersahabat.


Ferina melihat Tama bergerak-gerak resah, dan mengacak rambut’y sekilas.


“Bukan begitu. Lo jangan salah paham dulu. Nanti gue jelasin. Oke? Please?”


“Terserahlah.”


Ferina mematikan ponsel. Setidak’y Tama nggak berbohong. Cowok itu tampak memencet-mencet ponsel’y, seperti’y mencoba menghubungi Ferina. Tapi tentu saja nggak berhasil. Setelah beberapa saat mencoba, dan tahu usaha’y sia2, Tama menyimpan ponsel dan memperhatikan Tiffany yang tampang’y cemberut. Ferina geli karena berhasil merusak suasana hati Tiffany.


Ferina terus memperhatikan. Rasa’y menyenangkan menyaksikan Tiffany cemberut seperti itu, dan obrolan mereka seperti’y berakhir tak lama kemudian Tiffany berdiri lalu di ikuti Tama.


Baguslah, batin Ferina. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri.


***


“Hai, gue nepatin janji, kan?” cerocos Ferina sebelum orang yang sedang di hubungi’y sempat bilang “halo”.


“Ya, tentu saja lo nepatin janji.” Tama tersenyum di ujung sana.


“Yap, tentu saja.” Ulang Ferina. “Gue cuma mau bilang hari ini gue senang.”


“Gue ikut senang dengar’y. Lo ngapain aja sampai merasa senang?”


“Banyak. Dan gue nggak mungkin sebutin satu2.”


Termasuk merusak suasana hati Tiffany sampai pertemuan kalian hanya berlangsung singkat.


“Jadi, ngapain lo sampai keluar dengan Tiffany?” nada suara Ferina datar dan dingin.


“Gue bisa jelasin.” Ujar Tama sabar. “Begini, nggak lama setelah gue ngajak lo keluar, Tiffany datang dan meminta gue temenin dia ke kafe.”


“Trus lo langsung mau aja, gitu?”


“Fer, bagaimana pun Tiffany sahabat gue, lo sendiri tahu dia kayak apa. Bagi gue, nggak ada salah’y gue nemenin dia sesekali.”


Ferina mendesah keras. Dia sudah tahu bakal begini. Tiffany nggak bakalan melepaskan Tama semudah itu.


Walaupun gue belum sepenuh’y yakin dengan keputusan gue ini, kali ini gue akan membiarkan dia menemui cinta’y.


Ferina masih ingat jelas bagian terakhir surat Tiffany itu. Dari perkataan’y jelas sekali cewek itu nggak bakal melepas Tama seutuh’y, meskipun Tama sudah menjadi pacar’y.


“Baiklah, jadi ngomongin apa?”


“Nggak ada yang terlalu penting.”


“Oh ya, seperti itu nggak ada yang terlalu penting?” nada suara Ferina mulai meninggi. Dia jadi teringat waktu Tiffany menggenggam tangan Tama, dan jujur dia cemburu.


“Seperti itu? Seperti apa maksud lo?”


Ups, bodoh… Jangan sampai keceplosan Ferina… “Yah, maksud gue tiba2 ngajakin lo gitu.” Ferina berkilah.


“Nggak ada, cuma nemenin dia minum di kafe aja.”


“Jujur aja kenapa sih?!” Ferina benar2 nggak sabar lagi. “Gue tahu ada yang lebih daripada sekadar duduk2 di kafe.”


“Kok lo ngomong begitu sih?” Tanya Tama curiga.


“Karena gue ada di sana menyaksikan kalian berdua dengan mata kepala sendiri!”


Dan setelah mengucapkan itu Ferina mematikan ponsel dan melempar’y dengan gusar.


*****