
Sejak Haikal izin keluar kelas hanya beberapa menit setelah Ferina diusir Bu Hanna, Tiara tidak dapat berkonsentrasi. Mereka pasti ada apa2.
Bel istirahat berbunyi, tanpa pikir panjang Tiara berbelok menuju perpustakaan, tempat yang tanpa sengaja telah menyimpan banyak cerita tentang diri’y dan sahabat’y.
Sesampai di depan perpustakaan, Tiara melangkah sangat pelan, mata’y mengawasi siapa saja yang ada di dalam, melangkah menuju rak tempat dia bisa bersembunyi dan mengamati. Mereka ternyata nggak ada di sana. Mungkin dia akan memaafkan Ferina.
Sampai akhir’y Tiara mendengar kabar itu. Dua siswa nyaris kedapatan sedang kabur dari sekolah, namun tidak berhasil tertangkap karena guru yang memergoki kalah cepat. Tiara menghela napas dengan susah payah saat menyadari dua bangku di belakang’y tetap kosong sampai pelajaran berakhir.
Dugaan’y benar, Ferina ternyata memang memendam perasaan terhadap Haikal, tetapi berpura-pura cuek. Ternyata nama Tama hanya dipakai sebagai benteng untuk menutupi perasaan’y yang sebenar’y. Tiara tersenyum sinis. Cerita2 Ferina tentang diri’y dengan Tama bisa saja isapan jempol belakang.
Dering ponsel membuat Tiara terkejut. Ferina. Tanpa pikir panjang dia menekan tombol Reject dan merasa sedikit puas. Tak lama kemudian Ferina mengirimi’y SMS. Tiara memutuskan untuk mematikan ponsel’y. Hati’y masih terluka.
“Tega banget lo, Fer.” Bisik’y.
***
“Lo jangan konyol, Kal!”
Kata2 itu terus terngiang di benak Haikal.
Haikal yakin cewek itu sebenar’y menyimpan perasaan terhadap’y.
Haikal tersenyum tipis mengingat tingkah cewek itu, yang sering mengawasi’y dari balik rak tersembunyi ditemani sahabat’y, Tiara.
“Lo bener2 aneh, tau nggak? Ngapain juga lo mengharapkan Tiffany sampai kayak gini? Mending lo nanggepin seseorang yang justru peduli sama lo!” ucapan Ferina yang lain berkelabat di benak Haikal. Ketika itulah dia merasa cinta’y bersambut, perasaan yang dirasakan’y seiring waktu yang dihabiskan’y bersama Ferina sebagai teman sebangku.
“Memang’y ada yang peduli sama gue?” Tanya Haikal. Dia ingin tahu apakah Ferina bersungguh-sungguh dengan ucapan’y.
“Kal… buka dong mata dan hati lo itu. Cewek di dunia ini nggak cuma Tiffany.”
Benar2 ucapan yang sangat gamblang dan tidak ambigu. Sejak itu Haikal membiarkan rasa itu semakin tumbuh memenuhi hati’y, dan dia bahagia karena’y.
“Lo jangan konyol, Kal!”
Kata2 itu lagi.
Gue akan buktikan gue nggak konyol seperti yang lo kira, Fer, bisik Haikal pada langit2 kamar’y
Ferina duduk gelisah di tempat tidur. Dia memikirkan Haikal dengan keanehan’y, Tiara dengan diri’y, Tiffany dengan mama’y, Tama dengan diri’y.
Ferina meraih ponsel’y, mencoba menghubungi Tiara.
Gagal.
Akhir’y Ferina mengirim SMS.
Angkat dong, Ra. Gue pengin ngomong. Please…
Ferina makin gelisah. Bagaimana dia harus bersikap besok? Apa yang aka dikatakan’y kepada Haikal? Seharus’y Haikal tidak menyimpan perasaan seperti itu terhadap Ferina atau siapa pun, jika di hati’y masih ada cewek lain.
“Benar, gue emang sayang Tiffany, tapi kalau boleh jujur… gue juga sayang sama elo.”
Kata2 Haikal bagaikan petir menyambar.
Mungkin dia sedang labil, pikir Ferina. Ah, sebaik’y Ferina berpura-pura kejadian tadi sore nggak pernah terjadi.
Ferina teringat pada Tiara. Tiara nggak boleh tahu hal ini. Dia belum memaafkan Ferina. Hanya kerena masalah sepele, hanya karena Ferina memutuskan telepon Tiara waktu itu.
**
“Kami nggak pacaran, Pak!” bantah Ferina.
Pagi itu Ferina dan Haikal dipanggil menghadap Kepala Sekolah karena kasus kabur kemarin.
“Jangan membantah dan memotong pembicaraan!” Pak Herman tampak murka.
Haikal tertunduk penuh rasa bersalah. Tapi Ferina tidak.
“Hukuman kalian akan semakin berat jika masih bersikap kurang ajar. Terutama kamu!” Pak Herman menatap Ferina tajam.
Ferina terdiam kesal. Kesal rasa’y melihat cowok bersikap nggak berdaya kayak begitu.
“Nah, akhir’y kalian sadar, kan, seberapa serius kesalahan kalian?” ujar Pak Herman.
Tok! Tok!
Ketukan di pintu mengalihkan perhatian Pak Herman. “Ada apa, Bud?”
“Maaf, Pak. Pohon jambu di belakang labor kimia itu jadi ditebang, Pak?” Tanya Pak Bud, tukang kebun sekolah. “Pak Irwan bilang, sebaik’y minta persetujuan langsung dari Bapak.” Lanjut’y.
Raut wajah Pak Herman langsung muram. “Tebang saja, biar tidak ada lagi siswa yang bisa kabur dengan mudah dari sekolah ini.” Kata Pak Herman. “Tapi sampaikan kepada Pak Irwan agar pohon itu didokumentasikan dulu sebelum ditebang, jelas?”
“Baik, Pak. Permisi.” Pak Bud menutup pintu.
Haikal dan Ferina memandang Pak Herman dengan raut wajah heran.
“Apa?” Tanya Pak Herman. “Pohon jambu itu saya tanam sendiri sewaktu bersekolah di sini. Pohon itu hasil cangkongan terbaik di kelas saya dalam tugas akhir biologi, dan saya mendapat nilai tertinggi saat itu.” Tanpa sadar Pak Herman bernostalgia sendiri.
“Seharus’y saya tidak menanam’y di situ.” Kata Pak Herman lagi.
“Maafkan kami soal pohon itu, Pak.” Sindir Ferina. Haikal langsung saja menyikut’y keras.
“Aw, sakit tauk!” tukas Ferina.
“Hei, apa yang kalian lakukan, heh?! Masih mencoba bermesraan ya!” Pak Herman langsung marah2.
“Ini.” Pak Herman menydorkan dua amplop cokelat. “Tolong sampaikan kepada orangtua kalian. Kalian diskors tiga hari, mulai hari ini!”
Tanpa banyak bicara kedua siswa itu mengambil amplop masing2 dan melangkah keluar. Ferina langsung terpingkal-pingkal mengingat nasib pohon jambu Pak Herman.
“Hei, lo bisa diam nggak sih?! Ntar kalau Pak Herman tahu lo ngetawain dia, bisa habis deh kita!”
“Memang’y kenapa?” tukas Ferina.
“Apa lo nggak takut anak2 yang jagoan bolos jadi dendam sama kita karena pohon’y ditebang?”
“Kenapa mesti marah sama kita? Marah aja sama Pak Bud yang mengeksusi si pohon. Hihihi…” Ferina masih terkikik. Haikal tersenyum melihat tingkah cewek itu.
“Apa nanti kata nyokap gue kalau tahu anak’y yang manis ini ternyata bandel, ya? Hhh… menyedihkan!” Ferina menggaruk hidung’y. “Lo gimana, Kal? Gimana cara’y ngasih tahu bokap-nyokap lo?” Ferina mencerocos.
Haikal tidak menjawab. Cowok itu sedang merenung.
“Nggak usah diambil pusing deh, ntar biar gue yang ngaku ke bonyok lo kalau gue biang keroyok’y! Lo tenang aja.” Ujar Ferina. “Gue juga nggak nyangka urusan’y jadi serius begini. Kena skors, lagi!”
“Lo nggak perlu khawatirin gue. Kalau masalah Nyokap, dia udah nggak peduli lagi hal2 begini, tapi kalau bokap gue…” Haikal menarik napas. “Dia pasti bakal ngerti. Kita memang kena skors, tapi ini justru bagus!” komentar’y mantap.
“Maksud lo, Kal? Lo nggak bercanda, kan?!”
“Gue nggak pernah bercanda, Fer.” Sahut Haikal. “Lo mau nggak bantu gue sekali lagi?”
“Whatever you say.” Sahut Ferina.
“Oh ya. Ngg… soal kemarin. Maaf ya.” Ujar Haikal.
“Lupain aja!” kata Ferina.
Mereka sampai di kolam belakang sekolah dan duduk di tempat yang terlindung dari cahaya mathari.
“Gue bisa bantu apa?” Tanya Ferina.
“Lo pikir lo udah tahu semua tentang Tiffany?” Tanya Haikal.
Ya ampun, Tiffany lagi?! Apa udah nggak ada hal lain selain Tiffany di benak cowok ini?
“Nggak juga. Tapi gue rasa apa yang gue tahu tentang Tiffany udah cukup kok!” jawab Ferina.
Haikal tersenyum simpul. “Tapi masih ada satu hal yang belum lo ketahui.” Kata’y.
“Memang’y penting buat gue?” celetuk Ferina.
“Mungkin nggak terlalu. Tapi sangat penting buat gue. Tiffany…” Haikal mengendalikan suara’y. “Dia… kakak gue.”
JGERRRR…!!!
“Apa?!” kaget Ferina.
“Tiffany kakak gue.” Ulang Haikal. “Kami bersaudara,”
“Tapi… nggak kelihatan seperti itu tuh.” Ujar ferina.
“Tiffany jelas menutupi’y. Sejak awal gue masuk sekolah ini, dia udah ngingetin gue untuk nggak pernah ngomong sama dia, apalagi deketin dia. Dia benar2 memutuskan hubungan.” Ujar Haikal.
“Trus, lo diam begitu aja?”
Haikal menggeleng. “Gue selalu berusaha ngomong sama dia, kakak gue sendiri. Tapi dia selalu menghindar, bahkan mengancam akan pindah sekolah kalau gue masih mengganggu dia.”
Bisa2’y Tiffany bersikap seperti itu…
“Dulu Tiffany nggak begini, dia kakak paling baik dan paling ngertiin gue. Dia berubah sejak Mama dan Papa bercerai. Gue sendiri nggak menyangka jalan hidup gue bakal begini. Dulu gue bahagia banget. Tapi semua itu memudar sejak Mama jadi perancang ternama dan bergaul dengan model dan kalangan selebriti. Gaya hidup’y berubah total, dan kami pun merasa asing dengan Mama yang sibuk dengan karier’y, Mama yang cara hidup’y sangat berbeda, shopping ke luar negeri, pesta2, minum alkohol, merokok. Dia bukan Mama yang kami kenal.” Haikal memukul tanah dengan gusar.
“Sejak itu pertengkaran mewarnai rumah kami, teriakan2, umpatan, tangisan, pecahan kaca, semua bercampur jadi nada sumbang yang harus gue dengar setiap hari. Tiffany beberapa kali kabur dari rumah. Sedangkan gue lebih memilih mengurung diri di kamar.” Ungkap Haikal. “Sampai akhir’y kata2 cerai mengakhiri semua perseturuan di bawah atap rumah kami. Gue sendiri nggak kaget dengan keputusan itu, begitu pula Tiffany. Namun sedikit keributan kembali terjadi saat Mama memaksa Tiffany ikut dengan’y. Gue nggak tahu lagi gimana cerita’y sampai akhir’y Tiffany mengalah dan ikut Mama. Gue sendiri hanya bisa mengurung diri saat semua keributan itu terjadi. Bahkan gue nggak keluar saat mereka akhir’y pergi dari rumah. Gue memang pengecut! Ketika semua berakhir, gue nggak berani menatap kehancuran itu, dunia gue seakan runtuh dan nggak pernah kembali utuh lagi.”
“Apakah sejak itu Tiffany memusuhi lo?”
“Bisa jadi.” Jawab Haikal. “Gue tahu dia marah karena gue membiarkan dia pergi sama Mama tanpa sedikit pun membela’y. Gue benar2 menyesal. Mungkin pikir’y hidup gue tenang dan bahagia bersama Papa yang sangat menyayangi kami. Tapi dia salah. Hidup gue memang nggak ada masalah. Papa selalu memberikan yang terbaik buat gue. Tapi menikmati semua itu sendiri, nggak membuat gue bahagia sama sekali. Gue selalu memikirkan nasib Tiffany. Dan gue nggak menyangka yang dialami Tiffany jauh lebih buruk daripada dugaan gue.”
“Trus gimana dengan papa lo?”
“Kami sama saja. Kami berusaha membiasakan diri dengan rasa sepi, berusaha menepis rasa kehilangan. Bersikap seakan nggak pernah ada masalah, padahal hati kami hampa. Papa pura2 nggak peduli, padahal dia selalu mencari keberadaan Tiffany, sampai akhir’y dia mengetahui di mana Tiffany bersekolah dan gue dipindahin ke sini, ke sekolah ini. Tapi memang nggak banyak yang bisa gue lakukan, apalagi Tiffany selalu memusuhi gue. Jadi Papa hanya meminta gue ngawasin dia, selagi keadaan Tiffany baik2 saja, berarti begitu juga keadaan Mama.” Haikal menarik napas panjang. “Sampai akhir’y gue liat Tiffany nangis kemarin, dan dia kelihatan sangat panik. Bahkan pada saat terdesak itu pun Tiffany masih menolak cerita sama gue. Gue nggak tahu harus berbuat apa. Maka’y gue nyari lo.”
“Jadi apa rencana lo sekarang?”
“Gue mau, lo bawa gue ke tempat Mama dan Tiffany.” Ujar Haikal. “Semalam gue udah cerita semua’y ke Papa, dan Papa meminta gue mengatur semua ini. Jadi, hari ini juga gue harap lo nggak keberatan kita ke sana.